Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Much. Khoiri

Penulis dan Dosen Sastra (Inggris), Creative Writing, Kajian Budaya dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Trainer selengkapnya

Bincang Sastra Bersama Mochtar Pabottingi

OPINI | 21 May 2013 | 02:04 Dibaca: 235   Komentar: 0   0

Catatan Much. Khoiri

Kemarin malam saya dihubungi oleh Prof. Mochtar, begawan analis politik terkemuka yang sastrawan ini, setelah beberapa kali berkomunikasi lewat email. Kami berbincang tentang persiapan acara Bincang Sastra yang akan dihelat di Auditorium Prof. Dr. Leo Idra Ardiana FBS Kampus Lidah Wetan Unesa pada 22 Mei 2013 pukul 14.00-16.00.

Saya belum pernah bertemu beliau, kecuali lewat karya-karyanya. Namun, dari setiap tuturan lisan dan tertulis, saya menangkap kematangan intelektualitas dan kedalaman penghayatan sastranya. Ini menambah kesan saya untuk beliau setelah menyimak biografi dan membaca buku terbarunya Burung-Burung Cakrawala (2013) yang diberikan mas Satria Dharma dua pekan silam.

Eureka Academia mensponsori acara literasi yang ditunggu-tunggu ini, yang didukung oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Panpelnya kolaborasi HMJ kedua jurusan, yang harus secara maraton menyiapkan segala sesuatunya. Saya sudah mengecek persiapan teknis dan rundown acaranya.

Dalam acara yang insyaallah bakal meriah ini saya didapuk menjadi moderator. Karena itu, ada baiknya saya mamperkenalkan nara-sumber  yang gentleman ini—penulis intelektual publik terkemuka di negeri ini menawarkan kritisisme dan sekaligus optimismenya pada ketercerahan cakrawala Indonesia, beserta secuplik sinopnis dari buku terbarunya.

LEBIH DEKAT DENGAN PROF. MOCHTAR

Menurut berbagai sumber, Mochtar Pabottingi, (lahir di BulukumbaSulawesi Selatan1945), adalah seorang penulis Indonesia, baik non-fiksi mapun fiksi. Namun banyak orang mengenalnya sebagai seorang Peneliti Utama bidang perkembangan  politik nasional di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) daripada sastrawan.  Penghayatan sastranya membuat analisis politiknya holistik dan bernas.

Tahun 1973 ia menamatkan kuliahnya di Jurusan Sastra Ingggris Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Tahun 1984 lulus M.A. dari Universitas Massachusets (USA), dan tahun 1989 lulus Ph.D. dari Universitas HawaiiHonolulu (USA).

Ia pernah menjadi redaktur Mercu Suar dan Harian Kami (keduanya edisi Sulawesi Selatan), Ketua Seni Budaya Muslim Indonesia di Ujungpandang, penggiat Teater Gadjah Mada, redaktur majalah Titian, dan sekarang sebagai peneliti LIPI di Jakarta.

Ia menulis puisi, esai, cerita pendek, dan artikel.  Tulisannya kerap dimuat di majalah dan surat kabar Pelopor YogyaBasisHorisonBudaya JayaPrisma dan Tempo.  Puisinya juga dimuat dalam antologi puisi Linus Suryadi AG Tonggak 3 (1987) , dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam antologi puisi On Foreign Shores: American Images in Indonesian Poetry (1990).

Ia menjadi redaktur buku berjudul: Islam: Antara Visi, Tradisi dan Hegemoni Bukan Muslim, kumpulan esai terbit 1986. Buku kumpulan puisinya berjudul Dalam Rimba Bayang-bayang terbit 2003. Buku terbarunya, yang dinilai Seno Gumira Ajidarma sebagai novel otobiografi, berjudul Burung-Burung Cakrawala (2013).

Ia mengakui rumah dan buku ikut membentuk kepribaiannya. Rumah telah membentuk karakternya seperti sekarang. Sementara buku membukanya pada keluasan cakrawala.

Kecintaannya pada buku bermula dari rumah orangtuanya yang terletak tiga kilometer dari Bulukumba. Ayahnya adalah gerilyawan penentang Belanda. Sebelum bergerilya, ayahnya membelikan buku pelajaran membaca berjudul Si Didi dan Si Minah ketika usianya genap lima tahun. Buku itu dilahap habis.

Kegemaran membaca karya sastra berlanjut. Mochtar yang ketika remaja tergolong nakal, jatuh hati pada puisi Soekarno berjudul “Berdiri Aku” yang bercerita tentang kecintaan kepada Tanah Air. Konon, ia hafal luar kepala puisi itu dan ia kerap diminta tetangganya untuk membacakannya keras-keras di beranda.

Di tengah kesibukannya sebagai Kepala Pusat Penelitian Politik dan Kewilayahan LIPI, kegemaran masa kecilnya membaca karya sastra tetap berlanjut. Intensitas bacaannya pada karya Milan Kundera mengarah pada keterpesonaan. Pesan Kundera yang kental ditangkapnya adalah munculnya kecenderungan masyarakat untuk mencari kembali identitas yang telah terkubur oleh ambisi materi atau kekuasaan.

Kecintaan pada karya sastra itulah yang membuat analisis politiknya lebih holistik. Semasa menjadi mahasiswa, ia aktif berpolitik bersama teman- temanya di Yogyakarta dengan kelompok studi politik “Juli 73″. Ia tak pernah meninggalkan puisi, sastra, dan politik. Ia mengakui adanya lingkaran unik keterkaitan sastra dan politik saat menemukan, menyukai dan hafal puisi Soekarno berjudul “Berdiri Aku”.

BURUNG-BURUNG CAKRAWALA

Dirangkum dari berbagai sumber, buku Burung-burung Cakrawala (BBC)  ini masih cukup segar karena baru saja terbit pada tanggal 17 Januari 2013 lalu. Beberapa hari setelah terbit, buku ini banyak direkomendasikan sebagai bacaan segar oleh tokoh-tokoh yang populer.

Buku setebal 386 halaman ini  berisi kisah sejati ini merupakan kesaksian yang kaya, hidup, dan orisinal tentang apa arti dan fungsi Tanah Air serta kemerdekaan bagi seorang anak desa. Seperti sejumlah anak serupa, ia kemudian bertumbuh menjadi manusia yang jiwa dan badannya terbangun mengikuti citra diri dan impian Para Pendiri Bangsa-deretan eksemplar burung–burung pelintas benua, penjelajah cakrawala.

Sebagai narasi diri, ini adalah rekaman tangan pertama si anak desa tentang bagaimana ia menjadi sembari sekaligus memotret masyarakat bangsanya dan masyarakat mancanegara lewat kota-kota di mana ia berkiprah selama tiga zaman.

Di saat terbang lintas benua menjelajah lapis-lapis cakrawala, ia pun bercinta serta bersaksi cerdas tentang masa dan dunianya, tentang impian-impian pribadi dan ideal-ideal berbangsa yang terus dijunjungnya. “Indonesia tak pernah bisa dipisahkan dari ketercerahan cakrawala.” Hakikatnya, ini adalah suatu kesaksian yang merayakan Indonesia.

Nah, masih ingin tahu lebih banyak tentang Mochtar dan proses kreatifnya?  Ingin tahu bagaimana begawan politik yang sastrawan ini membaca puisi dan nukilan BBC-nya?  Saya tunggu pada Bincang Sastra yang akan dihelat di kampus Lidah Wetan ini. Sampai jumpa dengan jiwa-jiwa kreatif. *

Surabaya, 20 Mei 2013

Much. Khoiri

Meretas Mimpi Lintas Generasi

http://www.kompasiana.com/much-khoiri

http://www.mycreativeforum.blogspot.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Topeng Politik Langsung Terbuka di Hari …

Hanny Setiawan | 8 jam lalu

Anggota DPR Ini Seperti Preman Pasar Saja …

Adjat R. Sudradjat | 10 jam lalu

SBY Ngambek Sama Yusril, Rahasia Terbongkar, …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 13 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Sebuah Cinta yang Terlarang #14 ; Cuma …

Y.airy | 8 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 8 jam lalu

“Menjadi Indonesia” dengan Batik …

Hendra Wardhana | 9 jam lalu

Dzikir Seorang Perokok …

Ahmad Taufiq | 9 jam lalu

Superbike R-25, Solusi untuk Gerak Cepat …

Zulfikar Akbar | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: