Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Joko Lelono

I am a realist as well as an idealist, and I think that it is selengkapnya

Refleksi Kasus Ahmad Fathanah

OPINI | 19 May 2013 | 00:58 Dibaca: 243   Komentar: 0   0

Kasus impor daging sapi makin menyeruak bau tak sedap, diduga sejumlah gadis model dan artis pun menikmati uang suap itu. Hal ini berdasarkan pemeriksaan KPK kepada tersangka kasus daging impor tersebut, Ahmad Fathanah.

Ada nama dara manis Maharany Suciono, Ayu Azhari dan Vitalio Shesya. Mereka mengakui bahwa menerima uang, mobil mewah dan jam tangan mewah. Ibarat uang siluman dimakan jin. Uang suap pun habis digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat.

Rakyat Indonesia pun tercengang melihat hasil penyelidikan yang dilakukan KPK, bagaimana sosok Ahmad Fathanah yang seharusnya sesuai dengan namanya yang baik, tetapi berperilaku yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

Dalam ajaran Islam, seseorang itu bukan dilihat dari garis keturunannya, tetapi dari ketakwaannya. Bukan karena seseorang itu keturunan Suku Quraisy, bukan karena dia keturunan Arab, atau keturunan ulama besar, tetapi lihat ketakwaannya pada Allah. Bahkan paman Nabi Muhammad sendiri, Abu Lahab, adalah sosok yang berperilaku buruk, selalu menghalang-halangi dakwah Nabi Muhammad.

Kasus Fathanah  ini memang tidak bisa mengaitkan dengan ajaran agama, partai dan lainnya, yang jelas murni perilaku seseorang. Kebetulan saja Fathanah ini anak ulama terkenal di Sulawesi, dekat dengan mantan pimpinan partai yang berlabel dakwah.

Bahkan KPK terus menyelidiki aliran uang suap ini ke banyak kalangan, pengusaha, artis, calon kepala dearah dan lainnya. Walau kasus ini diduga terkait politisi salah satu partai besar di negeri. Tapi bagaimana kasus pun ini harus diurai menurut aturan hukum.

Dalam kaca mata politik, memang bisa saja kasus ini ada ada muatan politisnya, misalnya untuk menjatuhkan marwah suatu partai, tetapi itu hanya dugaan saja, yang ril KPK terus menggali kasus ini sampai tuntas.

Sebab korupsi itu sudah merambah ke penjuru kehidupan kita di negeri ini. Bahkan pengadaan Alquran pun dikorupsi. Ibarat penyakit kanker, sudah merambah ke seluruh anggota tubuh, melalui aliran darah.

Wajah negeri seperti sudah berubah, Indonesia yang dikenal sebagai negara berpenduduk yang ramah tamah saat ini pun berubah menjadi negara yang anarkis. Kita saksikan sendiri, setiap hari tayangan di televisi, aksi saling serang dan saling bunuh.

Tanpa rasa malu, aksi ”saling makan”, saling  ejek dengan kata-kata yang tak beradab  sering diungkapkan oleh politisi dan pejabat tinggi negeri ini.

Apa penyebabnya? Apakah salah dengan pendidikan kita. Apa kita salah makan? Termakan makanan yang haram. Atau lingkungan tidak lagi membentuk manusia yang berperilaku baik, sehingga membentuk manusia yang beringas.

Semua seharusnya menjadi kajian bersama. Artinya kita juga ternyata bagian dari kebobrokan itu. Ada yang salah urus dengan negeri ini. Bagi anda seorang pendidik, maka jadilah guru yang mendidik anak didiknya, bukan hanya sebatas mengajar.

Demikian juga bagi anda yang bekerja sebagai sopir oplet, jadilah sopir oplet yang benar. Demikian seterusnya, apakah polisi, tentara, politisi, dokter, perawat, pegawai pajak, pegawai rendahan dan lainnya, mari bersama-sama memperbaiki negeri ini sesuai dengan profesi kita masing-masing. Agaknya kita belum terlambat memperbaiki bangsa ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 4 jam lalu

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: