Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Choiron

Pejuang kehidupan | Mencoba menebar manfaat bagi semua | http://choiron.info/ | 081703311567

‘Kejamnya’ Kerapan Sapi

OPINI | 18 May 2013 | 19:25 Dibaca: 391   Komentar: 14   1

Saat saya sedang bercengkrama bersama alm. Nenek, saya sering bertanya tentang kakek buyut saya. Mengetahui silsilah dan profil orang terdahulu dapat menjadi pelajaran bagi saya. Sedangkan nenek buyut saya masih hidup hingga saya duduk di bangku kuliah. Memang nenek buyut dikaruniai usia panjang dan kesehatan yang baik. Saya sering juga tinggal di rumah nenek buyut saat sekolah di SMP dan SMA, karena rumah nenek buyut hanya 2 km dari sekolah. Sedangkan rumah saya berjarak 16 km dengan angkutan yang terbatas kala itu.

Dari cerita nenek saya tahu kalau kakek buyut memiliki sapi kerapan yang sering ikut dilombakan sejak jaman Belanda dulu. Menjadi juragan kerapan sapi, merupakan kebanggaan dan prestise sendiri bagi orang Madura kala itu. Tidak sembarang orang bisa memelihara dan ikut kerapan sapi. Selain karena harus punya uang yang cukup, si pemilik juga harus ‘berilmu’. Pasalnya, adu kerapan sapi sebenarnya bukan hanya adu kecepatan larinya sapi, tetapi juga adu kekuatan ilmu.

Masih menurut nenek saya, saat malam-malam menjelang pertandingan, kakek buyut harus berjaga-jaga dengan tidak tidur di malam hari. Biasanya pihak lawan akan mengirimkan ilmu sihir untuk mencelakai sapi atau si pemiliknya. Beberapa kali kakek buyut harus muntah darah bila sampai terkena serangan sihir di malam hari. Sehingga, lelaku berupa tirakatan harus dilakukan untuk menangkal atau menyembuhkannya bila sudah sampai terkena sihir.

Adu ilmu berlanjut saat pertandinga. Tidak jarang sapi dibuat mengamuk saat akan dilombakan karena terkena gangguan sihir. Bahkan tak jarang, sapi berali tidak dalam lintasan lurus, namun tiba-tiba berbelok arah menjauhi garis akhir.  Entah untuk kerapan sapi saat ini. Namun rasanya fenomena adu ilmu tersebut masih sering terjadi. Termasuk dalam pertandingan bola sekelas galadesa yang sering dipengaruhi oleh unsur mistik.

Sebagai orang Madura, sebenarnya saya termasuk yang tidak suka dengan kerapan sapi. Seumur hidup, saya baru sekali saja menonton di Stadion Olah Raga Bangkalan saat SMA dulu. Itupun melihatnya secara tidak sengaja, karena pas kebetulan pergi ke kota.

Kesempatan pertama kali menonton kerapan sapi tersebut saya pergunakan untuk menonton tim kerapan sapi lebih dekat. Saat berada dekat dengan sapi-sapi di sudut stadion, saya melihat bekas luka yang ada di bokong sapi. Awalnya saya tidak paham mengapa bokong-bokong sapi itu penuh guratan bekas luka. Namun saat pertandingan dimulai, saya baru tahu kalau joki kerapan sapi dibekali dengan kayu berpaku yang digunakan untuk ‘menggaruk’ bokong sapi agar sapi langsung kaget dan berlari sekencang-kencangnya. Tentu saja setelah kerapan, bokong sapi menjadi terluka dan berdarah-darah.

Sejak itu saya tidak lagi suka dan berharap untuk menonton kerapan sapi. Bagi saya, budaya kerapan sapi adalah hal yang kejam karena menyiksa binatang. Andai kerapan sapi tetap dilestarikan, namun dengan perbaikan aturan yang melarang si joki atau pemilik untuk menyakiti sapi dengan melukai. Mungkinkah kerapan sapi tanpa  menyiksa sapi?

1368879688124304975

Joki membawa tongkat berpaku ( diambil dari desakebunan.blogspot.com)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kapan Kota di Indonesia Jadi World Book …

Benny Rhamdani | | 23 April 2014 | 09:29

Para Wanita Penggiat Bank Sampah Memiliki …

Ngesti Setyo Moerni | | 23 April 2014 | 05:10

Ina Craft Apakah Mampu Membantu dan …

Een Irawan Putra | | 23 April 2014 | 06:01

Pelajaran Politik Busuk Ternyata Dimulai …

Muhammad Irsani | | 23 April 2014 | 09:41

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 2 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 4 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 4 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 5 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 7 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: