Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Zahir Makkaraka

Lagi mencari guru dan tempat berguru!!!

Utamakan Akhlak di Atas Fiqih

OPINI | 17 May 2013 | 17:08 Dibaca: 491   Komentar: 19   1

Membaca opini-opini penghuni Kompasiana yang dituangkan dalam artikel sosial budaya, puisi, humor, dll tentang suatu hukum agama (misalnya jilbab), politik, maupun hal umum memberi semacam “pengetahuan baru” dalam khazanah ilmu pengetahuan yang kumiliki. Ditambah pula komentar-komentar yang sifatnya konstruktif, semakin menambah gairah di tengah kegersangan hidup yang semakin jauh dari moralitas. Pro-kontra yang ada disetiap opini dan segala perbedaan pandangan yang ada di kompasiana menggiring ingatanku pada saat masih aktif di lembaga dakwah kampus.

UKM LDK LKIMB (Lembaga Kajian Ilmiah Mahasiswa Bertakwa) merupakan LDK tingkat universitas, yang sangat menjunjung tinggi filosofi “Utamakan Akhlak Di Atas Fiqih”. LKIMB merupakan LDK yang paling unik karena di dalamnya dihuni berbagai mahasiswa islam dengan latar belakang organisasi yang berbeda. Ada dari HMI (MPO), HMI (DIPO), KAMMI, IMM, Gema Pembebasan dan Studi Club. Belum lagi dari segi pandangan keagamaan yang berbeda pula, sunni, syiah, muhammadiyah, NU, hizbut tahrir, wahda islamiyah, dan salafi.

Perbedaan yang ada di LKIMB tidak nampak dari pandangan eksternal ataupun ketika kami melaksanakan kerja-kerja dakwah di kampus ataupun di luar kampus. Solidaritas tetap kami junjung tinggi dan lebih mengedapankan nilai-nilai universal islam dalam berdakwah, melupakan sejenak sektarian kelompok. Perbedaan pandangan personal disatukan oleh visi dan misi lembaga ditambah keterikatan pada kode etik yang kita tetapkan bersama.

Sejak berada di LKIMB (mulai aktif pada awal 2006-2009), pelaksanaan dakwah tidak pernah dipermasalahkan secara personal. Perbedaan itu hanya internal kami yang merasakannya, terutama dalam menetapkan kode etik. Saya berlatar belakang muhammadiyah dan HMI (MPO) secara pemikiran bahkan mungkin fiqih berbeda dengan teman-teman mahasiswa lain yang punya perbedaan background. Teringat ketika pada Muktamar yang dilaksanakan di kabupaten Barru, pembahasan kode etik lembaga menjadi pembahasan yang memakan waktu dan energi yang lama dibanding kala merumuskan AD/ART dan juklak/juknis dakwah. Saat itu saya masih jadi anggota baru, hanya menjadi pendengar “pentengkaran intelektual” para senior yang berbeda fiqih, mahzab dan cara pandang. Sekali lagi perbedaan itu hanya bersifat internal, tapi ketika melaksanakan program kerja/dakwah, kami tetap satu karena kami telah dididik oleh pendahulu-pendahulu lembaga ini agar lebih mengutamakan akhlak daripada perbedaan fiqih.

Sampai saat ini LKIMB masih menjunjung tinggi filosofi ini “Utamakan Akhlak Di Atas fiqih”. Hal ini sejalan dengan apa yang pernah dilakukan oleh para pemimpin-pemimpin islam di zaman ke-khilafah-an dulu. Seperti dizaman Umar bin Abdul’Aziz, Umar membiarkan setiap negeri mengikuti Ulama di negerinya masing-masing (lihat Tarikh Abu Zar’ah Al-Dimasyqi 1:202 ) (sumber http://lucky.mywapblog.com/dahulukan-akhlak-daripada-fiqih-4.xhtml).

Sebagai penutup, saya mengutip sinopsis buku Dahulukan Akhlak diatas Fiqih karya Jalaluddin Rakhmat “Sungguh sedih melihat umat Islam terpecah menjadi sekian golongan. Tak jarang perbedaan menjadi awal permusuhan. Terputuslah silaturahmi. Menyebarlah prasangka buruk dusta, bahkan fitnah yang sangat keji.Fanatisme golongan menjadi dalil segala keyakinan. Merebaklah kecenderungan untuk menganggap pendapat sendiri yang paling benar dan menafikan pendapat yang lain. Inilah wajah umat sekian abad sepeninggal Rasulullah Saw.: terkotak-kotak dalam bingkai kelompok yang sangat sempit. Mereka melupakan misi kenabian. Sejak awal lelaki agung Al-Mustafa diangkat menjadi utusan, berkali-kali beliau menegaskan: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Misi Nabi Saw. adalah menegakkan akhlak yang mulia. Tetapi justru karena perbedaan pendapat ”yang umumnya berasal dari tata cara syariat (fiqih)” umat sepeninggal Nabi Saw. justru tercerai-berai. Karena alasan fiqih, tak jarang akhlak ditinggalkan. Karena perbedaan tata cara ibadah, betapa sering terjadi perselisihan. Jalaluddin Rakhmat ingin kembali mengingatkan kita akan misi kenabian. Dalam bukunya ini, ia menelaah akar perselisihan, mengkaji berbagai persoalan, dan mengedepankan sebuah pemecahan bahwa di tengah perbedaan pendapat seperti apa pun, akhlak yang mulia tetap harus kita tegakkan.

Alangkah indahnya negeri ini, ketika perbedaan dijadikan anugrah dan nikmat untuk kita bersatu. Di Kompasiana sudah seperti rimba raya, semacam yang punya kuasa pemilik segala. Labih baik kita perbaiki akhlak masing-masing, jangan cari pembenaran. Salam damai dariku!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 7 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 10 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 11 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: