Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Harya Sengkuni

Kapan kita akan melakukan revolusi, Kawan Bejo?

Cempala: Silsilah Pandawa dan Kurawa

REP | 17 May 2013 | 08:01 Dibaca: 6409   Komentar: 8   0

Kata Pengantar

Di tengah gempuran budaya asing yang masuk tanpa mengenal batas ruang dan waktu sepertinya eksistensi budaya lokal maupun nasional sedikit demi sedikit makin terancam, terkikis. Yang paling ironis adalah bangga melihat budaya sendiri dipelajari dan disenangi oleh orang asing tetapi menganggap biasa ketika bangsa sendiri tidak menyenangi dan malas mempelajarinya. Saya sebagai orang Indonesia asli (tidak ada gen blasteran sama sekali), orang Jawa asli, Jawanyapun ndesa merasa punya kewajiban untuk mempelajari kemudian semampunya menyampaikan kembali salah satu warisan budaya Indonesia khususnya Jawa.

Kenapa wayang? Jawabannya agak emosional dan subjektif, yaitu karena saya dari kecil suka dengan wayang khususnya wayang kulit. Saya merasa lebih enjoy ketika mempelajari apa yang saya suka. Saya tidak memilih tembang Macapat, tari Bedhaya Ketawang (soalnya saya bukan perawan), apalagi Tanjidor karena diantara sekian itu saya paling suka dengan wayang. Emosional memang, tetapi semoga suatu hari saya suka dan mau mempelajari tentang ludruk, tari kecak, atau mungkin santet.

Dalam usaha menyampaikan kisah wayang ini penulis juga akan berusaha menyelingi dengan candaan. Bukan bermaksud nyempal dari pakem, tetapi hanya agar tidak terlalu membosankan untuk dibaca dan diikuti. Harapannya tulisan saya ini bisa berkontribusi dalam rangka mengenalkan salah satu budaya bangsa kepada generasi penerus. Sedikit juga tidak apa-apa, yang penting bisa berguna. Pun dalam penyampaiannya mungkin ada yang salah atau kurang sempurna, saya mohon kritik dan saran dari pembaca.

Akhirnya semoga proyek saya untuk menyampaikan tentang tokoh dan lakon wayang dengan judul “Cempala” (alat untuk mengetuk kotak wayang dalam pagelaran wayang kulit) ini bisa terlaksana, itu saja. Terima kasih Kompasiana yang telah mau saya jadikan media proyek saya ini, gratis pula.

Bumi gonjang ganjing langit kelap kelap….dok..dok…dok..dok..

Silsilah Pandawa dan Kurawa

1368752330155902527

Sebenarnya silsilah Pandawa dan Kurawa dalam epos Mahabarata dimulai sejak jaman Prabu Nahusta. Tetapi untuk lebih memudahkan, maka diputuskan untuk mengambil silsilah mulai dari Prabu Sentanu, turunan ke-8 dari Prabu Nahusta. Prabu Sentanu menikah dengan Dewi Durgandini, menghasilkan 2 orang putra yaitu Citrawiria dan Citragada.

Citrawiria kemudian menikah dengan Dewi Ambika tetapi tidak berputra. Maka, Dewi Ambika menikah dengan Begawan Abiyasa (anak Dewi Durgandini dengan Begawan Parasara). Pernikahan ini kemudian melahirkan seorang anak yaitu Destrarasta yang nantinya menurunkan 100 orang Kurawa (KB dong…KB..).

Citragada menikah dengan Dewi Ambiki pun tidak punya anak. Maka, Dewi Ambiki juga menikah dengan Begawan Abiyasa. Begawan Abiyasa poligami. Dari pernikahan ini lahirlah Pandu Dewanata yang nantinya menurunkan 5 orang Pandawa (udah disuruh KB, masih ngeyel, keenakan yah?). Jadi, dapat disimpulkan bahwa Kurawa dan Pandawa adalah saudara sekakek beda nenek.

Destrarasta (hasil Abiyasa+Ambika) yang dikisahkan mengalami kebutaan kemudian menikah dengan Dewi Gendari (putri raja Kerajaan Plasajenar). Dewi Gendari ini punya adik namanya Sengkuni (tokoh favoritnya politisi nih…). Pernikahan antara Destrarasta dengan Dewi Gendari inilah yang melahirkan 100 angkara murka yaitu Kurawa. Mengapa keturunan kesatria kok melahirkan anak-anak yang berwatak angkara murka? Itu nanti akan dibahas pada seri yang lain.

Pandu Dewanata (hasil Abiyasa+Ambiki) yang dikisahkan berparas tampan dan flamboyan seperti James Bond ini menikah dengan Dewi Kunti (putri Kerajaan Mandura). Karena kutukan dari dewata Pandu tidak boleh bersetubuh dengan Dewi Kunti , istrinya, atau dia akan mati. Akhirnya dengan ajian Adityaredhaya ajaran Resi Druwasa, Dewi Kunti bisa menghadirkan siapa saja yang sedang dibayangkannya. Mungkin karena seleranya tinggi dan agak playgirl, akhirnya Dewi Kunti membayangkan sosok-sosok dewa, antara lain Batara Surya (eeaaa…ganteng lho..) sang Dewa Matahari, Batara Darma si Dewa Keadilan, Batara Bayu sang Dewa Angin, dan Batara Indra. Maka Dewi Kunti besetubuh dengan para dewa ini untuk memberikan keturunan pada Pandu Dewanata. Khusus persetubuhan dengan Batara Surya dilakukan Kunti ketika masih remaja, ketika belum menikah dengan Pandu (nakal..!). Untuk menjaga agar tampak perawan maka Dewi Kunti membuang bayinya setelah sebelumnya dilahirkan lewat lubang telinga sebelah kiri (jadi rasanya masih benar-benar perawan). Bayi itulah Adipati Karna, senopati perangnya Kurawa, yang sebenarnya justru dialah anak pertama keluarga Pandawa.

Dari Batara Darma lahirlah Puntadewa (Yudhistira), anak pertama secara hukum. Dari Batara Bayu lahirlah Werkudara (Bima), anak kedua secara hukum. Dan dari Batara Indra lahirlah Janaka (Arjuna), anak ketiga secara hukum.

Selain dengan Dewi Kunti, Pandu Dewanata juga menikahi Dewi Madrim. Tetapi karena kutukan Pandu tentang bersetubuh belum hilang, maka Dewi Kunti mengajari Dewi Madrim ajian Adityaredhaya (akurnya bini pertama dan kedua, asik..). Yang dibayangkan Dewi Madrim adalah dua dewa kembar yaitu Batara Aswan dan Batara Aswin, Dewa Tabib Kahyangan. Dari Batara Aswan lahirlah Nakula, anak keempat secara hukum. Dan dari Batara Aswin lahirlah Sadewa (kembaran Nakula), anak kelima secara hukum.

Nantinya kelima Pandawa memiliki satu istri bersama yaitu Drupadi. Tetapi secara hukum Drupadi tercatat sebagai istri Puntadewa dan saat Perang Baratayuda Jayabinangun berakhir kelak dia menjadi permaisuri di Astina. Dan adik-adik Pandawa akhirnya juga memiliki istri sendiri-sendiri.

Demikian silsilah singkat keluarga Pandawa dan Kurawa. Sebenarnya mereka bisa dikatakan masih saudara, masih memiliki hubungan darah sejauh apapun. Tetapi karena nafsu kekuasaan salah satu pihak maka pecahlah perang antar saudara, Baratayuda Jayabinangun. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa persahabatan atau bahkan persaudaraan bisa hancur hanya gara-gara nafsu akan kekuasaan. Seperti itukah negara kita saat ini? Mari bertanya pada rumput yang bergoyang.

Solo_16052013

Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi? Bule? Londo?

13687523841481180676

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Lebaran di Jerman dengan Salad …

Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di Kunjungi, Serta …

Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: