Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Heru Hikayat

Kurator dan pengulas seni rupa, tinggal di Bandung.

Mencari Suaka

OPINI | 15 May 2013 | 12:56 Dibaca: 147   Komentar: 1   0

13685972982086642297

Grafiti Mencari Suaka

Beberapa bulan lalu, di sebuah billboard yang membentang di jembatan penyeberangan Jl. Setiabudi Bandung, tampak tulisan “Mencari Suaka di Tanah Sendiri”. Teks ditulis tangan, hurufnya besar-besar, mengisi bidang nyaris selebar billboard, spontan, tidak rapi, catnya berluluran ditarik gravitasi bumi. Teks ini “ditandatangani” oleh “Act Move”. Sepertinya Act Move adalah nama sebuah gerakan yang memprakarsai pembuatan berbagai grafiti serupa ini di sudut-sudut kota Bandung.

Tiba-tiba grafiti ini membuat saya teringat pada satu kasus grafiti kontroversial di Sydney Australia tahun 2003. Bagi saya, paling tidak ada 2 hal yang menautkan 2 grafiti ini. Keduanya sama-sama secara amat mencolok mencuri ruang di fasilitas umum dan sama-sama berupa teks yang mengajak kita untuk merenung. Saya membandingkan keduanya bukan karena mereka sepadan. Tapi mari kita diskusikan 2 grafiti ini karena paling tidak, grafiti terkadang berhasil menyentak pikiran kita.

Kasus yang saya maksud adalah grafiti di atap Sydney Opera House (SOH) bikinan Dave Burgess dan Will Saunders. Mereka memanjat atap SOH yang berbentuk layar itu, kemudian menulis “No War” dengan cat dan huruf besar-besar di puncak tertingginya. Tentu saja perbuatan mereka segera ketahuan pihak berwenang. Keduanya langsung ditangkap, diadili, dan kemudian diganjar hukuman penjara 9 bulan dan denda AUS$ 151.000.

6 tahun kemudian Burgess mengenang kejadian tersebut. Mereka berdua membuat grafiti tidak lama setelah pemerintah Australia memutuskan untuk bergabung dengan kekuatan sekutu yang hendak menggempur Irak. Maka mereka berniat menyampaikan pesan perdamaian. Bukan sembarang pesan. Pertama, haruslah terlihat bahwa pesan tersebut datang dari Bangsa Australia, yang artinya sebagian besar orang Australia tidak setuju dengan keputusan pemerintah mereka. Kedua, pesan harus sampai ke Timur Tengah. SOH adalah pilihan tepat karena ia merupakan ikon Australia. Grafiti di SOH akan tampak “sangat Australia” dan menjadi kontroversi sedemikian sehingga beritanya sampai ke Timur Tengah.

Bangunan sepenting SOH sangat terjaga dan terawat. Saat Burgess dan Saunders masih di puncak atap SOH, para petugas berwenang telah mencapai mereka. Burgess dan Saunders memang berhasil membuat penghalang yang memberi mereka waktu sekedar untuk menyelesaikan tulisan “No War”. Burgess ingat, pertanyaan pertama dari sang petugas: “itu catnya gampang dihapus, kan?”. Tindakan pihak berwenang segera setelah mereka menangkap Burgess dan Saunders adalah menutupi pesannya dengan cat putih. Kesalahan Burgess dan Saunders adalah merusak fasilitas umum, namun pihak berwenang juga alih-alih bersegera memperbaiki kerusakan itu, malah menambahkan cat di atas cat. Bagi pihak berwenang, lebih penting pesan itu jangan terbaca, sesegera mungkin. Namun karena cat yang dipakai untuk grafiti adalah cat berbasis minyak yang kuat, maka tidak mudah menutupinya. Pesan “No War” terbaca jelas selama kira-kira 4 jam.

Perlu diceritakan bahwa SOH terletak di teluk paling terkenal di Sydney. Teluk yang nyaman dan ramai. Bukan hanya terdapat pusat-pusat perbelanjaan dan perkantoran bergengsi di sekitarnya, juga ruang-ruang terbuka tempat orang bersantai atau berkumpul, serta tempat pertunjukan jalanan banyak digelar. Lalu ada Museum Seni Kontemporer, dan Sydney Harbour Bridge—jembatan melengkung yang juga terkenal. Pendek kata, SOH merupakan titik yang menawan dari sebuah ruang yang lega. Ia tampil menarik dari jarak jauh sekalipun. Maka sebuah teks “No War” di puncaknya dengan cat berwarna kontras pasti langsung mencolok, mencuri perhatian di ruang yang amat luas.

Burgess dan Saunders pun sontak jadi buah bibir. Hingga tiba saatnya mereka membayar denda, terhimpun dukungan dari banyak orang, dan diselenggarakan pula berbagai kegiatan pengumpulan dana. Dengan kata lain, peristiwa tersebut bisa “dijual”.

Kembali pada grafiti bikinan Act Move di Jl. Setiabudi, tentu saja grafiti ini tidak kontroversial. Pembuatnya tidak dipenjara dan didenda. Orang juga telah lupa grafiti itu pernah ada di sana, pada suatu waktu. Namun, grafiti dengan pesan yang sesublim itu tidaklah hilang dengan mudah. Itulah keunikan grafiti bikinan Act Move. Ia bukan menyampaikan pesan yang vulgar atau terlalu personal. Ia mengajak merenung.

Mari kita simak. Suaka punya pengertian tempat berlindung atau menumpang hidup. Ini adalah keadaan antara, terusir dari rumah lalu mencari naungan di lain tempat. Ada ancaman dan keterasingan di sana. Dalam teks itu, suaka yang dicari adalah “di tanah sendiri”. Kontradiksi antara keterasingan dan pengertian “tanah sendiri” membuatnya berkesan tragis sekaligus puitis.

Act Move, siapapun itu, sebagai pembuat grafiti tidak didakwa apapun secara hukum. Grafiti bikinan mereka juga sudah hilang. Saat mereka membuat grafiti, mereka memanfaatkan jeda antar iklan, saat billboard kosong melompong. Hingga tiba saatnya iklan baru mengisi ruang tersebut, maka grafiti itu hilang begitu saja. Mungkin efeknya hanya gerutuan para pekerja pemasang iklan yang merasa rugi karena mereka jadi harus kerja lebih membersihkan grafiti. Atau itu juga mungkin tidak terjadi. Grafiti Act Move nyaris tidak berdampak apa-apa.

Sebaliknya, Burgess dan Saunders dari sejak awal menggagas aksi mereka, telah sadar akan kerumitan teknis dan konsekuensi yang bakal mereka hadapi. Mereka berhitung mulai dari bagaimana cara memanjat puncak SOH dengan aman hingga konsekuensi hukum. Mereka sadar, mereka melanggar aturan dan karenanya akan dihukum. Bagi mereka, hukuman yang dijelang merupakan bagian dari perjuangan mereka dalam menyampaikan pesan perdamaian.

Bagaimana bisa terjadi ada warga yang dengan sadar dan sengaja melanggar hukum? Jawabannya mudah saja, karena sekali-sekali dalam kehidupan bernegara, terdapat momen ketika kepercayaan pada sistem hilang. Pada momen-momen seperti ini diperlukan sesuatu yang luar biasa agar sistem tetap seimbang. Burgess dan Saunders dihukum, namun fakta bahwa banyak orang mendukung mereka berarti perbuatan mereka diamini orang banyak—konon bahkan sebagian staf SOH bertepuk tangan saat mereka digelandang turun setelah menorehkan grafiti.

Act Move hingga saat ini tidak pernah diusut atas perbuatan mereka. Ini bukan karena tindakan mereka tidak penting, melainkan karena hukum di sini tidak ketat. Petugas dan kita semua mungkin terlalu abai dengan apa-apa yang terjadi pada fasilitas umum kita. Menyangkut grafiti di ruang-ruang umum, alih-alih mengharamkannya secara moral, jauh lebih nyata kiranya jika hukumnya ditertibkan. Jika hukum tertib, maka kita semua akan mengacu padanya, bahkan ketika kita merasa perlu melanggarnya demi kebaikan yang diyakini lebih besar.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: