Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Apakah Indonesia adalah Mental Penghujat?

OPINI | 11 May 2013 | 17:40 Dibaca: 186   Komentar: 6   3

Banyak kejadian yang menyita perhatian publik akhir-akhir ini. Dari mulai wafatnya Ustadz Jefri Al Buchori yang di blow up sampai lebih dari satu minggu di semua televisi nasional. Dikarenakan pencitraan beliau yang baik di muka umum, sampai ketika wafatnya pun banyak sanjungan-sanjungan yang bertubi-tubi untuk beliau.

Beralih ke berita yang menghebohkan lainnya, yakni terbongkarnya belang Susnoduaji dalam kasus gratifikasi PT. Salmah Arwana Lestari yang menyebabkan dicoretnya nama Susnoduaji pada Daftar Calon Sementara caleg. Segala macam kecaman dari masyarakat menghujat atas tindakan KAPOLDA Jabar. Bahkan setelah menyerahkan diri pun, opini masyarakat masih saja tidak bersahabat, terlebih tentang harta kekayaannya yang sangat fantastis

Dari dunia politik, berita yang sedang menghangat adalah tentang Ahmad Fathonah, yang menyeret mantan Presiden PKS dalam kasus suap impor daging, dimana kasus tersebut juga membawa banyak nama-nama wanita muda nan cantik dalam pembahasan kasusnya. Opini dan pertanyaan masyarakat tentang kasus ini sangat beragam, dari mulai ’siapa sebenarnya Ahmad Fathonah tersebut? Kenapa namanya langsung melejit dengan adanya kasus suap tersebut?’ kemudian tentang ‘Darimana dia memperoleh harta bendanya yang fantastis, terlebih istrinya sendiri pun tidak mengetahui secara jelas asal-usul harta suaminya?’ sampai berita tentang ‘Peran dari LHI yang disangkutpautkan dengan kasus suap dari AF?’. Dari berbagai pertanyaan itu timbulah respon negatif masyarakat yang menimbulkan terseretnya beberapa nama dalam sebuah kasus, padahal secara realitanya ‘peran pembantu’ dalam ‘peran utama’ dalam sebuah kasus tersebut masih belum jelas kebenarannya, masanyakat hanya tersulut oleh oknum-oknum yang mencoba mengobarkan api dalam bara.

Lalu, apakah sikap masyarakat tersebut bisa dikatakan sebagai wujud ‘melek berita’? Padahal kebanyakan mereka hanya memberikan komentar dari sebuah sisi saja tanpa berusaha mencari kebenarannya dari sumber terpercaya. Lalu, itulah karakter masyarakat kita yang dikatakan cerdas?

Masyarakat yang gampang terprovokasi menjadi sasaran oknum, terutama di bagian media massa. Sehingga kasus yang di blow up menjadi naik rattingnya. Dimana naluri kemanusiaan kita? Kebenaran memang harus dikatakan, tapi tidak dimaipulasi menjadi berita heboh yang layak dikonsumsi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ketika Keluarga Indonesia Merayakan …

Zulham | | 28 November 2014 | 11:19

Ahok, Kang Emil, Mas Ganjar, dan Para …

Dean | | 28 November 2014 | 06:03

Ditangkapnya Nelayan Asing Bukti Prestasi …

Felix | | 28 November 2014 | 00:44

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | | 28 November 2014 | 09:35

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



HIGHLIGHT

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman Dalam …

Tubagus Encep | 8 jam lalu

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | 8 jam lalu

Pembuktian Slogan Aku Cinta Indonesia …

Lukman Salendra | 8 jam lalu

Prosedur Sidang SIM di PN …

Kambing Banci | 8 jam lalu

Penundaan Revisi UU MD3 dan Kisruh Golkar …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: