Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Apakah Indonesia adalah Mental Penghujat?

OPINI | 11 May 2013 | 17:40 Dibaca: 185   Komentar: 6   3

Banyak kejadian yang menyita perhatian publik akhir-akhir ini. Dari mulai wafatnya Ustadz Jefri Al Buchori yang di blow up sampai lebih dari satu minggu di semua televisi nasional. Dikarenakan pencitraan beliau yang baik di muka umum, sampai ketika wafatnya pun banyak sanjungan-sanjungan yang bertubi-tubi untuk beliau.

Beralih ke berita yang menghebohkan lainnya, yakni terbongkarnya belang Susnoduaji dalam kasus gratifikasi PT. Salmah Arwana Lestari yang menyebabkan dicoretnya nama Susnoduaji pada Daftar Calon Sementara caleg. Segala macam kecaman dari masyarakat menghujat atas tindakan KAPOLDA Jabar. Bahkan setelah menyerahkan diri pun, opini masyarakat masih saja tidak bersahabat, terlebih tentang harta kekayaannya yang sangat fantastis

Dari dunia politik, berita yang sedang menghangat adalah tentang Ahmad Fathonah, yang menyeret mantan Presiden PKS dalam kasus suap impor daging, dimana kasus tersebut juga membawa banyak nama-nama wanita muda nan cantik dalam pembahasan kasusnya. Opini dan pertanyaan masyarakat tentang kasus ini sangat beragam, dari mulai ’siapa sebenarnya Ahmad Fathonah tersebut? Kenapa namanya langsung melejit dengan adanya kasus suap tersebut?’ kemudian tentang ‘Darimana dia memperoleh harta bendanya yang fantastis, terlebih istrinya sendiri pun tidak mengetahui secara jelas asal-usul harta suaminya?’ sampai berita tentang ‘Peran dari LHI yang disangkutpautkan dengan kasus suap dari AF?’. Dari berbagai pertanyaan itu timbulah respon negatif masyarakat yang menimbulkan terseretnya beberapa nama dalam sebuah kasus, padahal secara realitanya ‘peran pembantu’ dalam ‘peran utama’ dalam sebuah kasus tersebut masih belum jelas kebenarannya, masanyakat hanya tersulut oleh oknum-oknum yang mencoba mengobarkan api dalam bara.

Lalu, apakah sikap masyarakat tersebut bisa dikatakan sebagai wujud ‘melek berita’? Padahal kebanyakan mereka hanya memberikan komentar dari sebuah sisi saja tanpa berusaha mencari kebenarannya dari sumber terpercaya. Lalu, itulah karakter masyarakat kita yang dikatakan cerdas?

Masyarakat yang gampang terprovokasi menjadi sasaran oknum, terutama di bagian media massa. Sehingga kasus yang di blow up menjadi naik rattingnya. Dimana naluri kemanusiaan kita? Kebenaran memang harus dikatakan, tapi tidak dimaipulasi menjadi berita heboh yang layak dikonsumsi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Basuri Tjahaja Purnama: 20 tahun Mendatang …

Olive Bendon | | 01 October 2014 | 06:58

Penumpang KA Minim Empati …

Agung Han | | 01 October 2014 | 04:25

Cerita Dibalik Sekeping Emas Cabang Wushu …

Choirul Huda | | 01 October 2014 | 02:11

Menulis Cerpen Itu Gampang, Mencari Peminat …

Sugiyanto Hadi | | 01 October 2014 | 03:16

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 3 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 5 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 6 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Indonesia Tanpa Pancasila …

Fadjar Hadi | 7 jam lalu

16 Milyar Rupiah Hanya untuk Sumpah Janji …

Muhammad Nur,se | 7 jam lalu

[DAFTAR ONLINE] Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | 7 jam lalu

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | 7 jam lalu

Anggota DPR RI dan Gadget …

Topik Irawan | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: