Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Kita dan Harapan

OPINI | 08 May 2013 | 10:32 Dibaca: 89   Komentar: 0   0

· “Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan berarti manusia itu mati dalam hidup.”

Semua manusia berhak berharap. Berharap meminta. Tapi diberikan atau tidaknya harapan kita bukan kita yang menentukan. Manusia hanya bisa berusaha. Allah yang menentukan tercapai atau tidaknya harapan kita. Tapi tidak semua orang bisa menerima, bisa mengerti akan hal itu. Sehingga banyak manusia yang berputus asa saat harapan dan keinginan mereka tidak terpenuhi. Banyak manusia yang menggantungkan harapan mereka bukan pada tempatnya. Harusnya manusia berharap hanya kepada Yang Maha Mengetahui, bukan pada makhluk hidup lain atau bahkan benda mati. Banyak yang mengharapkan kebahagiaan kepada sesama manusia. Bahagia saat dipuja-puja dengan manusia lainnya. Dan merasa sangat terpuruk saat di kucilkan. Saat disakiti. Tidak mendapatkan lagi semangat hidupnya. Itu semua karena manusia salah menempatkan harapan mereka.

Berharaplah, bercita-citalah pada sesuatu yang pasti. Belajarlah hidup itu “napak” bukan berada diambang-ambang. Berharaplah pada sesuatu yang mendatangkan manfaat bukan mudarat.

Allah mencintai orang yang meminta, orang yang berdoa. Tapi tidak semua yang kita minta yang kita harapkan diberikan saat itu juga. Tapi percayalah pada janji-Nya bahwa semua doa kita akan diijabah dengan bentuk dan waktu yang paling tepat.

· Kepercayaan berasal dari kata percaya artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran.”

Kepercayaan tidak bisa didapatkan begitu saja.  Kepercayaan harus didapat dan harus dijaga. Kepercayaan tidak bisa diberikan kepada sembarang orang. Kita harus percaya pada diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum memulai percaya  kepada yang lain.  Dalam kehidupan bersosial kita harus bisa saling mempercayai satu sama lain. Tetapi tidak semua yang kita beri kepercayaan dapat menjaga kepercayaan yang sudah diberi. Saat kepercayaan disia-siakan maka kepercayaan itu  tidak akan dengan mudah dapat kembali lagi.

Harapan dan kepercayaan sebenarnya dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Saat kita berharap, kita juga harus percaya bahwa apapun yang terjadi dengan harapan kita nanti adalah pasti yang terbaik. Dikabulkan atau tidaknya harapan kita nanti Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk kita. Allah memberikan apa yang kita butuhkan. Bukan apa yang kita inginkan.

Saat ini banyak-banyaklah berharap,  banyak-banyaklah meminta karena salah satu ciri orang yang pelit dan merugi adalah yang tidak pernah berdoa. Tengadahkanlah  tanganmu dan menangislah dengan harapan yang baik, dengan kepercayaan yang sempurna bahwa Allah Maha Mendengar.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Taufik Mihardja dalam Sepenggal Kenangan …

Pepih Nugraha | | 27 August 2014 | 22:34

Ini yang Harus Dilakukan Kalau BBM Naik …

Pical Gadi | | 27 August 2014 | 14:55

Cinta dalam Kereta (Love in The Train) …

Y.airy | | 26 August 2014 | 20:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Hilangnya Acara Budaya Lokal di Televisi …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Lamborghini Anggota Dewan Ternyata Bodong …

Ifani | 11 jam lalu

Cara Mudah Latih Diri Agar Selalu Berpikiran …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

3 Kebebasan di K yang Buat Saya Awet Muda …

Hendrik Riyanto | 13 jam lalu

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: