Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Nur Aeni Pranowo

Student, try to be a good single mother temporally

Tidak Ada Tukang Tambal Ban di Jepang

REP | 07 May 2013 | 14:17 Dibaca: 2886   Komentar: 42   9

Sudah lebih dari 7 bulan saya tinggal di salah satu perfecture (profinsi) di Jepang, tepatnya di Yamaguchi. Sebuah profinsi yang letaknya di bagian bawah wilayah Chugoku. Secara harfiah arti Yamaguchi sendiri adalah gerbang gunung (Yama = gunung, Kuchi/Guchi = pintu). Di sini memang topografi alamnya perbukitan dan gunung-gunung yang sudah tidak tidak aktif, dengan suhu udara yang tidak terlalu dingin saat winter dan tidak terlalu panas saat summer (kata nya). Moda transportasi yang populer di sini selain densha (kereta) dan bus untuk transportasi umumnya, terdapat juga mobil-mobil dengan aneka merk baik yang berplat kuning (pajak rendah) maupun berplat putih (pajak tinggi). Selain itu motor dengan mesin rendah cc juga banyak dipakai oleh masyarakat sekitar. Bagi kami, orang-orang Indonesia yang tinggal di Yamaguchi, baik pekerja maupun mahasiswa, jitensa (sepeda) adalah alat transportasi yang paling diminati. Selain karena murah, kami juga bisa mendapatkan sepeda pinjaman dari kampus (sepeda dinas  mahasiswa) atau sepeda warisan (gomi) dari para senior yang sudah pulang ke Indonesia, jadi tidak perlu membeli sepeda baru. Selain itu, bersepeda di sini sangat mengasyikkan, karena kualitas udara yang masih sangat baik dan segar, meski banyak kendaraan bermotor yang berlalu lalang.

Pada awal tahun ajaran baru (April) banyak sekali produsen sepeda yang melakukan pasar murah sepeda di depan toko-toko swalayan. Sepeda murah meriah antara 6.000-12.000 yen terpajang dan biasanya laris dibeli oleh mahasiswa baru yang datang dari luar kota Yamaguchi. Alhamdulillah saya, karena mahasiswa asing, mendapatkan pinjaman sepeda kampus yang bisa saya gunakan selama saya menjadi mahasiswa. Tentu saja biaya perawatan dibebankan kepada saya. Sedangkan untuk antar jemput anak, saya mendapatkan sepeda warisan dari senpai (senior) di lab yang telah menyelesaikan studi. Jadi, saya punya dua sepeda yang kedua-duanya bukan atas nama saya. Oh iya, sepeda di sini harus diregister dan memiliki semacam STNK. Jadi sewaktu-waktu ada pemeriksaan harus menunjukkan STNJ (Surat Tanda Nomor Jitensa). Untuk sepeda dinas tentu saja saya tingga bilang “Kore wa daigaku no jitensa” (ini sepeda kampus), nah sepeda antar jemput ini yag kepemilikannya tidak diketahui, karena senpai saya mendapatkan dari orang lain.

Tapi bukan masalah STNK atau STNJ itu yang kemudian menjadi pokok pembicaraan kali ini. Sepeda dinas saya pernah bocor ban belakangnya. Agak membuat shock karena menurut beberapa kabar yang beredar, di sini tidak ada tukang tambal ban sepeda. Kalo ban sepeda bocor ya diganti saja, tidak bisa ditambal. Meskipun di DAISHO (toko 100 yen) tersedia bahan dan alat untuk menambal sepeda, sepertinya yang memanfaatkan hanya orang Indonesia saja. Perlu diketahui bahwa untuk mengganti ban sepeda kita harus merogoh kantong 2.000 yen. Jika ganti luar dalam maka 4.000 yen. Uang tersebut kalo ditambahi sedikit sudah bisa untuk beli sepeda baru. Jadi salah satu teman dari Indonesia rela menjadi volunter belajar menambal ban dan menolong teman-teman nya yang ban nya bocor.

Lain hal jika ban kita kempes karena kurang anginnya. Kita tidak usah kita repot repot membeli pompa sepeda, karena di setiap family mart yang buka 24 jam tersedia pompa ban sepeda gratis. Tentu saja anda harus memompa sendiri. Family mart ataupun kombini lain yang menyediakan fasilitas ini tersebar hampir setiap 500 m di sepanjang jalan. Jadi jika bersepeda di Yamaguchi, anda patut khawatir apabila ban anda bocor, tapi tidak usah khawatir jika hanya ingin tambah angin. Cari saja kombini atau family mart terdekat, anda akan menemukan pompa ban sepeda dan silahkan dipompa sendiri sepuasnya. Onegaisimasu.

13679107651601720303

Pompa ban sepeda di depan sebuah Family Mart

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Jokowi Seorang “Koki” Handal …

Sjahrir Hannanu | 15 jam lalu

Indra Sjafri Masih Main-main dengan …

Mafruhin | 16 jam lalu

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 19 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 20 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Ditemukan: Pusat Tidur Dalam …

Andreas Prasadja | 15 jam lalu

Museum Louvre untuk First-Timers …

Putri Ariza | 15 jam lalu

Cinta dalam Botol …

Gunawan Wibisono | 15 jam lalu

Wisata Bahari dengan Hotel Terapung …

Akhmad Sujadi | 15 jam lalu

Jurus Jitu Agar Tidak Terjadi Migrasi dari …

Thamrin Dahlan | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: