Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Mardi Yanto

Seorang pembelajar dan penjelajah. Bagi saya mimpi sangat dekat dengan kenyataan. Mimpi juga sebenarnya tidak selengkapnya

Sekawan, Sehidup, Semati! (Kisah Tragis Buruh Panci Tangerang)

OPINI | 07 May 2013 | 09:58 Dibaca: 2765   Komentar: 13   8

13678954261166828144

(Foto: Lokasi penyekapan para buruh panci di Tangerang)

Saat kamera teve swasta mengarahkan di TKP perbudakan buruh di Tangerang, saya menangkap guratan dengan tinta hitam bertuliskan “Sekawan, Sehidup, Semati!”. Tulisan terlihat melekat di tembok kusam dekat kamar mandi. Kata-kata menyiratkan “manifestasi” tekad para buruh panci dalam menumpahkan suara hati yang tersekap dalam kamar pengap penuh debu.

Lebih miris lagi, dalam ruangan minim ventilasi yang hanya dialasi tikar kumal terserak nasi dan garam beryodium. Di duga para buruh tersebut terpaksa makan nasi hanya dengan garam selama berbulan-bulan.

Mengerikan. Tentu saja!

Mereka bertahan, boleh jadi karena guratan mereka di tembok, sekawan, sehidup, semati. Lagi-lagi sebuah hasrat yang tak bisa mereka suarakan.

Pertanyaan mengemuka. Mengapa bisa terjadi? Mengapa mereka tidak lari?

Jawabannya sudah diendus media, yakni ternyata para buruh “dijebak” ketika sampai lokasi, barang pribadi dirampas, lalu dipekerjakan di bawah ancaman. Jika kabur nyawa menjadi taruhan. Dugaan lain, ada ‘backing” dari aparat, terutama lurah dan oknum polisi.

Saya sendiri adalah keluarga buruh tulen, Ayah saya di masa mudanya malah mengesampingkan menjadi pegawai dan memilih menjadi buruh. Dua orang kakak saya selepas SMA juga mantap menjadi buruh di Bandung, begitu juga adik saya memilih menjadi buruh di Semarang. Saya sendiri secara pribadi, sejak belia bercita-cita menjadi buruh, tapi urung terjadi lantaran melihat nasib ketiga saudara saya, dan juga ayah saya yang tidak berubah. Saya memilih jalan lain. Kisah kakak-adik saya pernah saya tulis menjadi skenario film dan saya ikutkan kompetisi penulisan skenario di Jogja, sayang saya lupa tahunnya (mungkin 2005) dan tidak saya dokumentasikan.

Meski kini saya menjadi pegawai, tetapi naluri buruh mengalir dalam darah saya sehingga sangat terusik dengan berita “perbudakan” di Tangerang.  Sebenarnya perihal buruh hanya sekadar menjadi sapi perahan para pemilik pabrik “jamak” terjadi. Bahkan, pernah saudara saya harus bekerja dari pukul 07.00-23.00, bahkan jika harus kejar target bisa berhari-hari tidak pulang. Meski melanggar selalu saja ada celah bagi perusahaan untuk mengakali petugas dari Depnaker.

Masalah lain, yang membuat buruh terpuruk adalah kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan. Kemiskinan mendorong mereka menjadi sosok inferior dan selalu bergantung kepada pemilik modal. Lalu pendidikan, pendidikan yang rendah membuat mereka tak banyak pilihan dan tidak memiliki sikap kritis dalam menyuarakan haknya. Maka, penting kiranya “Edukasi Buruh” untuk mengetahui hak-hak dasar mereka sebelum bekerja. Masalah edukasi buruh tentu saja domain dinas tenaga kerja, yang idealnya punya data karyawan di wilayah kerjanya, sehingga bisa melakukan pembinaan.

Tetapi biasanya, pemerintah berdalih “mana mungkin kami bisa mengawasi ribuan karyawan di wilayah kami.” Sama persis jawaban dari kemenlu seandainya terjadi penyiksaan TKI di luar negeri.

Entah apa sebenarnya pekerjaan “mereka” itu.

Itu saja.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | | 23 November 2014 | 12:04

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Inilah 3 Pemenang Blog Movement “Aksi …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 10:12


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 10 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 18 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 20 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Di Bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 13 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 13 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 13 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 13 jam lalu

Peniti Community, Wadah Kompasianer …

Isson Khairul | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: