Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ely Yuliana

Pokoknya menulis!, salah hurup, titik, koma dan kata biarlah. yang penting replexy jiwa dan otak. selengkapnya

Hidup di Desa adalah Surga

OPINI | 07 May 2013 | 16:00 Dibaca: 668   Komentar: 11   4

p

pasar tradisional doc. pribadi

Mengingat kembali kenanga masa kecil dulu yang sangat membangkitkan rasa kangen apalagi kalau sekarang adalah sesuatu yang mahal untuk bisa mengunjungi desa masa kecilku itu.
kehidupan di Desa yang serba alami ketika itu karena memang lahir dari seorang petani yang segala bahan pangan bisa di dapat di pekarangan dan kebun sekitarnya.

Kalau kami mau makan ikan tinggal nangkap di kolam belakang rumah mau makan ayam kampung tinggal nyuruh mang Udin menangkap di kandang juga belakang rumah dan buah lokal yang keberadaanya sekarang mungkin sudah langka karena ketika zaman kecil dulu di kebun dekat rumah terdapat buah-buahan yang sebagian sudah kedengaran langka adanya seperti buah limus yang bentuknya seperti mangga tapi berserat dan wangi  juga buah Nam-nam yang buahnya sangat unik nemplok di pohon juga buah rangasa yang merupakan jenis buahnya begitu eksotik karena sekarang sangat susah di dapat juga pisistan yang pamornya kalah sama dukuh tak ketinggalan rambutan gelong yang rasanya asem juga telah punah karena orang kini lebih menyukai rambutan rapiah atau aceh yang manis dan gampang di makan. buah jambu merah yang bukan cangkokan tapi masih original dan sirsak, nangka juga durian dan pepaya itu semua ada di kebunku yang di desa itu.

pasar tradisional doc. pribadi

Ketika kecil aku termasuk anak yang suka sekali bersentuhan langsung dengan alam seperti mencari kerang di kali atau hanya mengabil rumput antanan di pinggir sawah untuk di makan menjadi lalaban pelengkap nasi atau juga mencari belut di pematang sawah yang sekarang keberadaanya juga sulit sekali karena membajak sawah sekarang dengan mesin kemungkinan besar mati atau kena bahan kimia yang di tabur untuk kesehatan padi jadi alhasil belut alami sekarang sangat sulit di dapat juga memungut cengkeh di kebun orang tuaku.

Kadang malam hari ikut bersama kakaku ngobor kalau istilah sundanya yakni mencari belut di sawah dengan berbekal lampu petromak sebagai alat bantu untuk melihat keberadaan belu tersebut, kalau nampak belut ada di sawah sedang mencari mangsa maka tak ayal belut tersebut di tangkap dengan menggunakan golok yang di bawa. kami pulang  dengan membawa setengah ember belut yang kami tangkap untuk extra pelengkap makann kami.

Betapa bersukurnya punya pengalaman yang sangat berharga di masa kecil dulu yang kini mungkin hanya bisa di dapat di sebuah taman bermain komerisal yang di peruntukan kepada anak-anak modern untuk mengenang gaya hidup zaman dulu. ketika masih di desa tak di sadari bahwa semua yang ku konsumi adalah makanan biologis yang sekarang sangat mahal sekali dan juga langka.
kalau saja makanan biologis dan buah biologis tersebut tidak menghilang mungkin akan menjadi pelengkap kekayaan buah lokal Indoesia yang kalau di teliti akan memberikan lebih mampaat yang lebih di banding dengan buah yang ada sekarang tapi sayang buah-buah itu harus tergeser posisinya karena rasanya yang cenderung tidak manis itu terbukti kini di kebun peninggalan orangtuaku sudah tak ada satupun yang tersisa di gantikan tanaman pala yang tidak rawan pencurian dan banyak di beli orang.

Sekarang buah jambu merah di sukai dan di cari orang setelah di temukan kalau dalam jambu tersebut terdapat kandungan gizi yang sangat bagus juga salah satu obat untuk suatu jenis penyakit, dulu buah itu di pekarangn rumah tak ada yang menjamah dan kadang di makan kelelawar atau lalai dalam bahasa sundanya. kadang buahnya sampai mengunig dan berjatuhan karena matang di pohon. sekarang kalau mau buah jambu beli di pasar yang tidak lagi segar seperti kalau dulu langsung dari pohon dan kadang buah yang sudah di budidayakan atau di kawinkan dengan jenis bangkok yang kadang rasanypun tak berkarakter kuat seperti buah jambuku yang dulu.

Sayuran dulu kalau rajin semuanya bisa di petik di belakang rumah termasuk daun pepaya yang rasanya mengelitik itu, sekarang di sini mau daun pepaya beli di kaleng yang harganya hampir 50 ribu sekaleng kecil ukuran susu Indomelk. ikan yang bisa di tangkap langsung di kolam belakang rumah masih ku rasakan ikan pepes buatan ibuku yang di bungkus daun pisang dan daun pisang pun ada di belakng rumah, sekarang di sini daun pisang empat lembar di lemari es harganya 40 ribu.
ayam kampung kalau mau makan daging tinggal milih dan di potong di hari yang sama di santap dengan bumbu dapur sperti laos salam sereh kunyit semua ada di belakang rumah, sekarang mau makan ayam tak ada ayam kampung yang ada ayam pabrik yang sebenarnya pemerintah sudah larang penjualannya karena berbahaya mengandung banyak antibiotik utuk merangsang menjadi cepat besar dan sehat dan membahayakna manusia.
Kangkung dulu metik di kolam atau sawah yang di sisakan untuk penanaman kangkung sekarng di sini tak mampu beli karena setengah kilo 70 ribu.

Saya kadang bertanya kepad diri sendiri kenapa saya ada di sini kalau di kampungku adalah surga dan semuanya serba alamiah, untuk apa saya terdamapar di sini kalau yang saya makan hampir semuanya produk kaleng dan kalaupun ada sudah sangat melalui perjalanan panjang yang mungkin kadar vitaminnya sudah sangat berkurang. tak heran lagi apalagi orang yang super sibuk harus pasrah sama makanan kaleng tersebut dan tak heran pula di sini dalam hampir setiap keluarga terdengar ada yang terkena kanker. ketika mengunjungi rumah sakit di sini menurut imformasi petugas rumah sakit setempat menyatakan yang kena kanker payudara menurut data statistik perbandingannya dalam 3 orang ada satu yang kena kanker payudara. mengerikan sekali bukan?.

Kembali ke cerita di atas orang di sini tak punya banyak pilihan kalau untuk urusan makanan mengingat iklim di sini yang musim dingin lebih lama dari musim panas di mana kalau menginjak musim dingin tak ada tumbuhan apalagi sayuran yang bisa bertahan dan juga kendala lahan yang sangat terbatas kalaupun ada taman maka kendalanya ya musim tadi. kesimpulan yang di dapat kanker atau pun tidak mereka yang tinggal di sini harus makan walau apapun resikonya.

Kelebihan tinggal di sini adalah kesadaran masyarakt di sini tinggi karena hukum dan peraturan yang di terapkan tidak pernah main-main atau kena sogok, aman tentram lebih bisa di dapat di sini. orang tidk mencampuri urusan pribadi karena pola kebebasan yang terkendali asal tidak menggangu kepentingan umum tak akan di ungkit, pendidikan untuk anak lebih menjamin karena sudah bisa di lihat dari bukti dan riset pendidikan yang sudah jelas statusnya.

Semua kelebihan yang ada di sini bisa di wujudkan di negriku dengan mewajibkan semua orang tua menykolahkan anaknya seperti di sini wajib belajar samapi 16 tahun tanpa kompromi kedapatan ada orang tua tak menyekolahkan sesuai aturan yang ada sanksi yang berat untuk orang tua siap menanti, dengan anak mengikuti wajib belajar maka derita masyarakat yang bodoh primitif sehingga menimbulkan jalan pikiran yang aneh seperti gampang di sulut atau menghalalkan segala cara karena tak punya pilihan dengan minimnya pendidikan maka semua jadi kacau adanya.

aman dan tentarm adalah kalau masyarakat tidak di hadapan dengan rasa lapar juga tak gampang kena sogokan karena tanpa berpikir panjang dan perbedaan sosial yang mencolok yang menimbulkan kecemburuan sosial, untuk itu perlu peran pemerintah menyeimbangkan keadaan di mana tidak lagi ada perbedaan mencolk anatara kaya yang miskin yang bisa di lihat orang kaya di Negriku bisa beli pulau dan setiap anak dalam satu keluarga bermobil juga gaya hidup glamour yang di sini hampir tidk ada walaupun ada mereka bisa sangat di hitung. sementara orang miskin sampe bisa makan saja sudah sanagt beruntung. kalau kendala ketimpangan kaya dan miskin sudah bisa di atasi maka kemanan dan tentram akan datang dengan sendirinya.

kendala yang ada di sini tak akan bisa di wujudkan seperti keterbatasan lahan dan iklim karena itu sudah hak paten yang tidak bisa di gangu gugat, walaupun tak bisa di hindari kalau Belanda adalah negara penyumbang bunga dan sayuran terbesar di eropa pada khususnya tapi tetap hanya bisa di lakukan oleh profesional pembisnis yang bergerak di bidangnya dan memerlukan biaya yang sangat mahal karena butuh pemanas dan alat super canggil lainnya.

Kembali ke masalah Desaku adalaah surgaku, di negriku bisa di ciptakan surga oleh setiap keluarga, mengingat iklim di negriku yang selalu bersahabat sepanjang tahun asal ada kemauna di sertai keluarga bisa menanam apapun di pekarangan atau di pot sekalipun kalau tidak ada halaman. semoga orang yang berada di negriku yang jauh di sana mengerti dan menghargai betul pasilitas yang di berikan tuhaan yang tidak bisa di punyai oleh banyak negara dan mulai menciptakan desa adalah surga dan jauhi segala bentuk makanan yang mengandung kimia dan penanaman dan pemeliharaan yang mengutamakan kimia kalau untuk pasokan pribadi.

Yah tapi itu semua akan kembali ke kemauan dari setiap individu dan terutama pemerintahnya, karena sangat di sadari hampir tak bisa di temukan kesuksesan yang tercipta karena pasilitas yang terlalu memanjakan yang hanya akan menimbulkan efek malas karena semuanya telah tersedia. begitu pula dengan negriku adalah negri surga yang penuh kemudahan di dalamnya yang sayangnya penghuninya karena alam yang memanjakan maka akan terus berleha-leha tanpa di sadari zaman dan situasi akan menuntut untuk bekerja lebih keras lagi dan semoga desa adalah surga menjelma di setiap pelosok negriku.

Salam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Meriah Nobar Relawan di Episentrum Kalla …

Indra Sastrawat | | 20 October 2014 | 12:56

Terima Kasih Juga Untuk Ibu Ani Yudhoyono …

Gapey Sandy | | 20 October 2014 | 13:35

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Gajimu Bukan Segala-galanya …

Jazz Muhammad | | 20 October 2014 | 13:41

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Dilantik, Bye-bye Skandal Pajak BCA …

Amarul Pradana | 6 jam lalu

Standing Applause, Bagi Kehadiran Prabowo …

Abah Pitung | 8 jam lalu

Beda Perayaan Kemenangan SBY dan Jokowi …

Uci Junaedi | 9 jam lalu

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 11 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Mie Instan vs Anak Kost (Think Before Eat) …

Drupadi Soeharso | 9 jam lalu

Tanpa Disangka Sangka Teman Saya Memberikan …

Taufiq Rilhardin | 9 jam lalu

Peringatan Awal Anas Urbaningrum untuk …

Jblues | 10 jam lalu

Demokrasi dalam Cangkir Kopi …

Fery Nurdiansyah | 10 jam lalu

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: