Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Iswekke

Membaca dengan bertualang untuk belajar mencintai Indonesia...

Hukum yang Harus Menyenangkan

REP | 06 May 2013 | 17:33 Dibaca: 90   Komentar: 0   0

Pada siapa kita akan berkaca dalam sebuah kasus hukum?, salah satu jawabannya adalah serahkan kepada penguasa atau pengusaha. Dari dua pihak ini, maka akan didapatkan jalan keluar. Jika penguasa berkehendak, maka akan selesailah masalah itu. Demikian pula jika pengusaha berhendak, maka serumit apapun masalahnya akan selesai.

Bagi seorang rakyat kecil, dengan keuangan yang tidak memadai, lalu tidak berada dalam lingkaran kekuasaan, maka bersiaplah untuk menerima segala macam aturan sesuai dengan undang-undang. Mulai dari peringatan, sampai tidak mendapatkan pembagian rejeki. Begitu pula jangan harap ada undangan rapat. Kalaupun urusan kerja yang tidak ada uangnya, maka diserahkan seutuhnya. Begitu berurusan dengan uang dan ada manfaat tambahan, ini tidak ada akan diberikan.

Bukan saja dunia pengadilan yang begitu. Sampai kepada dunia perguruan tinggi juga akan mengalami. Di sana bersemanyam filiosof, ilmuwan, cendekiawan dan juga maha guru. Namun deretan gelar dan pengalaman belajar tidak akan menjadi jaminan akan berlangsungnya sebuah tatanan yang mengenyampingkan urusan kekuasaan dan keuangan. Bahkan mungkin saja Uang Yang Maha Kuasa. Ukuran dari semuanya dikembalikan kepada kekuasaan uang. Bagaimana tidak? Ada pegawai yang cuti hamil sampai lima bulan. Lalu hadir di kantor hanya beberapa hari tetapi uang makannya dibayarkan utuh. Bisa saja tidak perlu menyelesaikan urusan perkuliahan. Cukup dilimpahkan kepada orang lain. Begitu datang, tidak ada masalah. Bahkan bisa saja atasan yang menawarkan untuk membawa susu asi untuk anaknya yang berada dua jam penerbangan dari kota tempatnya bertugas. Atau kalau berada di kantor atasan yang akan datang ke ruangannya dan bertanya apa perlu diantar untuk pulang ke rumah menyusui si bayi yang berada Sembilan kilo dari kantor?.

Ini pertanyaan yang penting walaupun belum tentu ada jawaban. Dimana urusan keilmuan bukan ukuran. Urusan agama tidak pada tempatnya. Agama dan amal dua hal yang berbeda. Agama diajarkan di kelas-kelas dan ketika keluar dari ruangan, maka tidak ada urusan dengan teori yang diajarkan. Semuanya itu hanya ilmu pengetahuan. Tidak sampai pada praktik dan amalan. Tetapi semata-mata hanya untuk diketahui dalama spek kognitif saja. Sudah itu titik. Tidak perlu ada sambungan dari penjelasan itu. Hanya akan menambah kekaburan saja.

Kenapa kemudian susah untuk mendapatkan respek dari bawahan ke atasan karena atasan tidak memberikan contoh sesuai dengan pidatonya. Hanya sibuk memberikan ide tetapi tidak ada contoh. Bagaimana mau menjalin hubungan yang humanis kalau setiap hari saja memasang mupeng (muka perang). Seharian kemudian tidak pernah menyambangi ruang-ruang kerja bawahan. Tidak ada komunikasi yang persuasif. Semuanya semata-mata dilakukans ecara formal. Bisa saja ada rekayasa bagaimana menilai mengajar seorang dosen. Hanya dengans elembar angket kemudian membuyarkan harapan seorang bawahan. Sementara ada dosen yang pergi selama setahun. Baru beberapa bulan pulang mengajar, tidak memasukkan permohonan tepat waktu. Tapi diproses juga kenaikan pangkatnya. Maka, jangan pernah berharap terhadap atasan seperti ini. Setidaknya itu perspektif bawahan yang bukan dalam lingkarannya.

Namun bagi bawahan yang hanya bisa menyenangkan saja sekaligus menjadi  tukang stempel dan berdalih ini keputusan pimpinan. Maka, tentu semua ini tidak pernah terlihat. Hanya merasa benar seribu persen. Tidak dapat melihat dari sisi lain. Satu sisi yang kemudian itulah kebenaran tunggal. Sungguh lucu kalau kemudian lembaga diurus dengan cara ini. Permohonan sejak beberapa bulan diajukan untuk mengikuti pelatihan tanpa melibatkan keuangan lembaga sedikitpun. Tetapi justru tidak digubris. Sementara untuk kepentingan keluarga diberikan kesempatan untuk bersama-sama dengan keluarga selama dua minggu. Sungguh menyesakkan. Tetapi biarlah disudahi daripada harus terus mengutuk atasan seperti itu. Maka, satu bencana kalau datang seorang yang seolah-olah akan memperbaiki tetapi kemudian justru tidak memiliki kemampuan untuk membangun tim.

Justru keburukan akan bertambah kalau ditambah lagi dengan hanya umpatan dan kutukan. Pada alamlah kita dapat berharap, semoga Kuasa alam yang akan memberikan peringatan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 9 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 13 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 14 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 15 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: