Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Wawan Darmawan

Urbanis, Humanis, Moderat

Krisis Identitas Kota Kita

OPINI | 05 May 2013 | 13:04    Dibaca: 131   Komentar: 0   0

Derap langkah pembangunan adalah sebuah keniscayaan, semakin hari semakin cepat, terus bergerak maju. Ironisnya, dibalik itu semua ada konsekuensi-konsekuensi yang harus dibayar, salah satunya dengan penggusuran atau kita sebut saja penghancuran bangunan-bangunan tua. Tidak perlu jauh-jauh, di Indonesia saja sudah banyak terjadi. Memang sih, kita tidak boleh selamanya terjebak dalam romantisme masa lalu. Tapi saya kira itu bukan alasan yang tepat untuk melegalkan perbuatan tidak berkeperi-arsitektural seperti itu. Keren istilahnya ya, cieee..

Pada hakikatnya, keberadaan bangunan tua dalam sebuah kota ibarat sebuah bayangan, bagai sebuah rantai penghubung ingatan antar generasi. Karena memang sejatinya manusia tidak boleh melupakan sejarahnya, jangan sekali-kali. Itu bukan kata saya, itu kata bung Karno. Selain itu, bangunan tua berfungsi sebagai locus solos, genius loci dan landmark sebagai pembentuk identitas atau citra sebuah kota. Itu juga bukan kata saya, tapi kata Kevin Lynch. Mudah-mudahan kau percaya.

Cagar budaya di Menteng yang menuju kehancuran (sumber: www.inikabarku.com)

Oleh karena itu, tindakan penghancuran bangunan tua merupakan sebuah tindakan irasional. Kalau katanya John Ruskin, merupakan dosa sosial yang besar dan tidak terampunkan. Bagaimana tidak, selama pemerintahan kita masih diduduki oleh mereka yang pendek ingatannya (ini merupakan bentuk penghalusan dari kata: BODOH) dan salah kaprah dalam memaknai kata “modern”, selama itu pula kota kita akan menuju ke arah yang entah kemana. Kota kita berjalan tanpa konsep yang jelas, yang pada akhirnya muncul homogenitas di mana-mana, bagai wabah karena ada disetiap koridor kota manapun, karena memang fasade kota kita dibentuk dari rentetan ruko-ruko yang berdiri kokoh dan dingin seolah tanpa ujung. Mungkin output dari semua ini akan terjadi krisis visual dan kita akan kehilangan sense of place.

Entahlah, pengkhianatan sejarah kota terjadi di depan mata dan parahnya kita tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

PS: Bangunan tua yang dimaksud disini merupakan bangunan yang masuk kategori cagar budaya, dimana harus memenuhi 5 kriteria yaitu memiliki: (1) nilai historis (2) nilai arsitektural (3) nilai sosial (4) nilai ilmu (5) nilai keaslian bentuk/pemanfaatannya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sudut Perempuan Dalam Iklan Rokok …

Bai Ruindra | | 25 May 2015 | 15:54

Suksesnya Pagelaran Malang Youth Day 2015 …

Mbah Ukik | | 25 May 2015 | 18:28

[Nangkring] Bedah Copa América 2015 Bersama …

Kompasiana | | 25 May 2015 | 18:23

Menjaring Ide ala Cita Citata, Deep Purple …

Rumahkayu | | 25 May 2015 | 18:59

[Blog Competition] Selfie Moment …

Kompasiana | | 18 May 2015 | 17:04


TRENDING ARTICLES

Meluruskan Opini Publik yang Keliru: Wakil …

Himam Miladi | 5 jam lalu

Wibawa Bupati Subang Ojang Sohandi, Jeblok! …

Jadiah Upati | 7 jam lalu

Saat Timnas Menanti Deadline FIFA, Thailand …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Terobsesi Menulis Hingga Lupa Anak Istri …

Tjiptadinata Effend... | 17 jam lalu

Wacana Menristek Opsionalkan Skripsi, Kabar …

Liafit Nadia Yuniar | 18 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: