Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Caraka Muda

petarung yang bertarung di dalam kegelapan

Deformasi

OPINI | 04 May 2013 | 14:40 Dibaca: 110   Komentar: 0   0

Tahun 1998 sering disebut – sebut sebagai tahun paling berdarah Indonesia. Bagaimana tidak, bukan sedikit nyawa yang melayang dalam peristiwa pada pertengahan akhir tahun tersebut. Peristiwa tersebut dikatakan sebagai tonggak penentuan nasib bangsa Indonesia yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kuat. Dalam peristiwa itu, kerap disebut suatu kata yang sudah tidak asing, yaitu reformasi.

Reformasi berarti perubahan suatu sistem yang telah ada pada suatu masa. Reformasi di Indonesia di latar belakangi oleh pemerintahan (­baca : rezim) di era presiden Soeharto. Presiden Soeharto sudah menjabat selama 32 tahun dan rakyat merasa adanya ketidak-adilan dalam hal ini. Bagi mereka, Soeharto telah mengkhianati rakyat dan nilai demokratis Pancasila yang sudah merupakan bagian dari rakyat. Selain itu, rakyat merasa Soeharto terlalu otoriter dalam masa pemerintahannya. Dalam masanya, berpendapat tidaklah sebebas sekarang. Jika salah bicara, senjatalah yang akan mengadili. Soeharto juga dianggap sebagai rezim paling korupsi sepanjang masa. Berbagai kendala inilah yang membuat rakyat resah, dan menuntut keadilan.

Penuntutan keadilan ini diawali dengan berbagai gerakan mahasiswa (baca : generasi muda) melakukan aksi demonstrasi dan protes besar – besaran dengan menduduki gedung DPR/MPR. Tujuan mereka sederhana, yaitu menurunkan Soeharto dari jabatannya sebagai presiden. Adalah mahasiswa Trisakti yang menjadi pionir dalam peristiwa ini. Demonstrasi besar – besaran ini memancing Soeharto untuk menggunakan kekuatan militer—yang merupakan kartu As-nya—untuk menghentikan kerusuhan. Ia bahkan menurunkan pasukan baret merah (sebuah detasemen khusus yang hanya diturunkan di saat – saat paling genting) untuk ”mengamankan” keadaan. Alih – alih pengamanan, yang terjadi adalah perang yang makin meningkatkan kadar kerusuhan yang juga melayangkan nyawa – nyawa yang sebetulnya tidak perlu untuk dilayangkan. Berbagai kejadian di saat itu sudah cukup untuk menyebut tahun 1998 adalah era ”perang penentuan” bangsa Indonesia.

Namun, apakah betul peristiwa tersebut sudah sukses mengubah nasib bangsa Indonesia ? karena setelah peristiwa ”perang penentuan” yang mengatas-namakan reformasi tersebut telah berakhir, apa yang terjadi adalah Indonesia menjadi semakin parah. Setelah mundurnya Soeharto, maka sudah terbukalah kedoknya selama ini. Terbukalah bagaimana tindak – tanduknya sebagai presiden dan pada akhirnya, efek dari tindak – tanduknya adalah kerugian besar terhadap negara, karena terbukti secara resmi bahwa Soeharto sudah menyalahgunakan uang negara yang diberikan kepadanya yang ditujukan untuk yayasan sosial. Setelah Soeharto turun jugalah diketahui bahwa sudah sangat banyak Indonesia memiliki hutang dengan negara lain. Sedangkan dari sisi demokrasi, rakyat terutamanya mahasiswa merasa besar kepala karena tahu bahwa presiden saja bisa turun karena demonstrasi besar – besaran itu. Maka, segala masalah sosial yang mereka hadapi mereka anggap salah negara dan menggunakan demonstrasi anarkis untuk penyelesaiannya.

Bangsa Indonesia dengan gamblang menganggap dengan adanya reformasi, mereka sudah melangkah kepada tahap selanjutnya dalam sebuah kemerdekaan. Namun, tahukah kita arti dan hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya ? Arti dan hakikat kemerdekaan menurut kebanyakan orang adalah kebebasan. Kebebasan yang dicari biasanya kebebasan dari penjajahan dan kebebasan menentukan nasib sendiri. Namun, apakah penjajahan sebetulnya ? penjajahan pada dasarnya adalah sebuah bentuk ”penaklukan” dengan dasar kekuasaan. Jika suatu subyek ditaklukkan dan dikuasai oleh subyek lain, maka subyek tersebut sudah mutlak dijajah. Subyek disini bisa bermaksud apa saja. Subyek yang ditaklukkan contohnya saja seorang individu, dan yang menaklukkan adalah hal – hal buruk pada dirinya. Bukankah hal yang wajar, jika seseorang ”ditaklukkan” oleh hal – hal buruk yang ada pada dirinya ? Maka, bisa dikatakan seseorang tersebut sudah dijajah oleh dirinya sendiri.

Jika dilihat dari sisi tersebut, maka sesungguhnya kita tidak pernah benar – benar merdeka. Bukan saja kita, namun juga seluruh dunia pada dasarnya. Karena dunia beserta isinya tidak pernah lepas dari hal – hal buruk. Selama ini dunia masih ”dijajah” dengan kemiskinan, bencana, dan terutamanya kerakusan akan kekuasaan. Kerakusan akan kekuasaan membuat ketidakmerdekaan dunia semakin jelas, dengan munculnya perang, diktatorisme, dan berbagai unsur – unsur penaklukkan lainnya. Namun, semua itu hanya jika kita melihat arti merdeka hanya sebatas ”memperoleh kebebasan”. Karena jika begitu, pada aslinya kita tidak pernah bebas dari hal buruk. Lalu, apakah arti kemerdekaan yang sesungguhnya ? arti kemerdekaan telah dicapai jika suatu individu atau komunitas mampu menciptakan keseimbangan antara hal baik dan hal buruk yang ada pada diri mereka dan pada akhirnya menciptakan perdamaian sebagai hasil dari keseimbangan tersebut.

Ironisnya, masih banyak bangsa Indonesia yang mengartikan kemerdekaan dengan sederhana sebagai ”bebas”, apalagi setelah adanya reformasi. Reformasi pada awalnya ditujukan untuk menciptakan keseimbangan dan perdamaian, namun rasa bangga yang berlebihan dan kesombongan bangsalah yang mengakibatkan reformasi diwarnai dengan warna anarkisme dan pertempuran. Padahal dengan mereka menunjukkan aksi anarkisme mereka sudah ”menjajah” diri mereka sendiri dengan anarkisme yang mereka sanjung – sanjung dengan membawa reformasi. Reformasi yang mereka sebarkan tak lain hanyalah sebuah propaganda. Namun, jika kita membuka mata lebih lebar, maka akan diketahui bahwa yang terjadi sebenarnya adalah sebuah deformasi. Deformasi adalah keadaan dimana sesuatu berubah menjadi ke bentuk yang lebih tidak baik.

Penting bagi kita semua untuk menyadari bahwa kemerdekaan tidak akan didapat dengan cara yang anarkis. Bahkan para demonstran di tahun 1998 dahulu tidaklah terlalu anarkisme seperti sekarang. Kalaupun anarkis, itu karena apa yang mereka lawan di saat itu adalah suatu kekuatan yang memang sudah melampaui batas. Namun, sekarang kita lebih bebas. Memang, tingkat kekotoran politik tidak ubahnya seperti pada tahun 1998. Namun bukankah lebih bijak jika kita menggunakan kebebasan yang sudah ada dengan cara yang lebih beradab ? karena dengan cara itu, bukan saja kita tidak merugikan orang banyak (tidak seperti anarkisme yang bisa merugikan orang lain yang tidak bersalah), kita juga mampu menyampaikan apresiasi dengan karya.

Bagi generasi muda yang akan menjadi tonggak bangsa di masa depan, mulailah berpikir untuk mencari jalan agar ”keseimbangan” dapat dicapai. Jangan masukkan diri kita ke dalam hal – hal berbau anarkis karena itu tidak akan menghasilkan ”keseimbangan”. Bebas, namun itu bukan inti utama kemerdekaan. Salah satu cara agar keseimbangan bisa dicapai yaitu dengan perbanyak ilmu dan ubahlah nasib bangsa. Masa depan bangsa ada di tangan kita.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lebaran Sederhana ala TKI Qatar …

Sugeng Bralink | | 30 July 2014 | 22:22

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 3 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 5 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 7 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 9 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: