Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Dewi Sumardi

IRT dan tinggal di Baku, Azerbaijan. Menulis untuk berbagi manfaat. #Buku Let's Learn English Alphabethical selengkapnya

Penglaris untuk Dagangan, Percayakah?

OPINI | 04 May 2013 | 03:43 Dibaca: 4118   Komentar: 36   6

1367613535973046397

mymilamin.blogspot.com

Berdagang pasti tujuannya adalah ingin mempunyai banyak pembeli alias laris. Pedagang apapun bisa kios barang-barang sembako, bisa warung makanan, bisa pakaian, atau lainnya pasti akan mencari cara agar dagangannya dikunjungi, diminati dan akhirnya dibeli oleh banyak konsumennya. Syukur-syukur bisa menjadi pelanggan tetap.

Untuk mendapatkan pembeli yang banyak memang bermacam cara digunakan oleh pedagang :

1. Ada yang memberikan harga murah untuk barang atau makanan yang dijual dibandingkan dengan pedagang lain.

2. Ada yang menghias tempat berjualannya sedemikian rupa sehingga pembeli tertarik datang ke sana dan betah untuk berlama-lama berada di sana.

Misalnya untuk toko pakaian busana muslim, pedagang memakaikan baju yang sedang trend di manequin, kepala boneka dipasangi jilbab-jilbab yang cantik untuk menarik perhatian wanita berhijab yang bertambah hari makin banyak pemakainya.

Sementara ada tempat makan ( cafe, restoran) yang memadukannya dengan perpustakaan mini, menghadirkan live music atau menghias dengan aksesoris musik dan tokoh tokoh Musik dunia seperti Elvis P, Beatles dan lain sebagainya.

3. Ada lagi pedagang yang mengandalkan keramahannya kepada pembeli. Saya dulu punya toko langganan pakaian di Semarang (Toko di Pasar Johar), padahal ya harganya sama dengan yang lain. Pedagang juga tidak memasang dagangannya dengan cara yang menarik, tapi si tante yang menjual blouse, rok dan lain sebagainya ramahhh banget. Ada saja bahan obrolan untuk membuat pembeli betah berlama-lama. Akhirnya rencana cuma mau beli blouse satu buat mengajar , jadinya nambah dua atau tiga item yang dibeli.. He he… :D :D

4. Memberikan kredit kepada Pembeli. Tidak hanya toko-toko besar, seperti Furniture, Elektronik, Motor/Mobil yang mau memberikan kredit kepada pembeli. Pedagang rumahan, pedagang keliling, atau yang tak kalah heboh di kumpulan ibu-ibu arisan atau ibu-ibu yang menunggui anak di sekolah biasanya juga sering berhubungan dengan pedagang barang kreditan dari baju, tas, sampai peralatan rumah tangga.

5. Dan cara yang terakhir adalah dengan Penglaris.

Nah cara yang terakhir ini saya tidak begitu yakin apakah memang benar adanya atau hanya isapan jempol belaka.

****

Banyak sekali berseliweran cerita-cerita tentang Penglaris ini. Yang paling terkenal adalah mitos penglaris-an di Gunung Kawi di daerah Jawa Timur. Konon katanya kalau mau mendapatkan penglarisan harus mengikuti ritual-ritual tertentu, dari meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan. Tempat lain yang katanya juga banyak didatangi orang untuk mendapatkan penglaris adalah Gunung Kemukus di Jawa Tengah.

****

Biasanya rumor tentang penglaris yang menimpa seorang pedagang acap terjadi karena dagangannya sangat laris dan yang paling sering tertimpa rumor tersebut adalah pedagang makanan. Bermacam-macam rumor terdengar, dan sering tidak bisa dibuktikan darimana sumber berita itu pertama kali berasal. Apakah dari saingan pedagang makanan tersebut yang merasa iri karena kalah dalam mendapatkan pelanggan atau memang dari orang yang melihat sebuah keanehan di tempat pedagang tersebut, Wallahu’alam bissawab.

*****

Ada sebuah rumor tentang sebuah kios bakso yang menggunakan penglaris pocong. Katanya pocong tersebut ikut menemani pedagangnya berjualan. Berkali-kali saya makan di sana, tak pernah sekalipun liat pocongnya (Astaghfirullah.. Jangan sampai) dan menurut saya memang baksonya lumayan enak. Ada lagi rumor air liur pocong dalam mangkuk-mangkuk yang disajikan oleh pedagang soto. Belum lagi cerita penglaris makanan dengan menggunakan (maaf) celana dalam yang dicampur dengan rebusan kuah ( soto, bakso dll). Dan masih banyak lagi cerita-cerita tentang “media” atau “jimat” yang digunakan sebagai penglaris dagangan.

*****

Di dekat rumah orang tua saya ada beberapa pedagang sayuran (mbok blanjan). Ada yang membawa dunak besar dan mengedarkan barang dagangannya keliling kampung, tapi ada yang membuka warung sayuran tersebut di rumah. Nah, rumor yang santer beredar salah satu ibu yang membuka warung sayur di rumah “menumbalkan” anak perempuannya (tidak menikah) agar dagangannya lebih laris dari yang lainnya. Anak perempuannya yang sudah berusia cukup dewasa memang sampai sekarang belum mendapatkan jodoh. Meski kalau menurut saya pribadi, memang belum datang saja jodohnya bukan karena jadi tumbal.

*****

Segala cerita tentang pedagang yang menggunakan jimat atau mengadakan perjanjian dengan yang ghoib sampai akhirnya harus mengorbankan sanak keluarga sebagai tumbal untuk penglaris memang sulit dibuktikan kebenarannya. Tapi yang pasti setiap pedagang akan berusaha untuk membuat dagangannya laris manis tanjung kimpul, dagangan habis duitpun kumpul. Mengenai bagaimana caranya, tergantung masing-masing pedagang, mau menggunakan cara yang baik dan diridhoi oleh Allah atau menggunakan cara yang tidak baik.


Sumber gambar : mymilamin.blogspot.com


-Salam Kompasiana-

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 14 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 21 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 22 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 22 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 23 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: