Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ilam Maolani

Alung Rawawis (Anak Galunggung dari Rawa Sindangraja), If wealth is lost, nothing is lost; If selengkapnya

Renungan Jumat Ini: Mensyukuri Nikmat

OPINI | 03 May 2013 | 07:56 Dibaca: 656   Komentar: 0   0

Allah swt telah menganugerahkan nikmat kepada manusia dengan begitu banyaknya. Beberapa contoh diantaranya difirmankan-Nya: “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir.” (Al-Balad: 8-9). “Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (Al-Mulk: 23). ““Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl: 78).

Diceritakan bahwa pada suatu malam seorang ulama bernama al-Fudhail bin ‘Iyadh membaca Al-Qur’an surat Al-Balad ayat 8-9, lalu ia menangis. Maka orang-orang yang melihatnya menanyakan apa yang membuatnya menangis? Ia menjelaskan, “Tidakkah engkau memasuki malam harimu dalam keadaan bersyukur kepada Allah swt yang telah memberikan dua mata kepadamu dan dengan dua mata ini engkau dapat melihat? Tidakkah engkau memasuki malam harimu dalam keadaan bersyukur kepada Allah swt yang telah menjadikan untukmu satu lidah yang dengannya engkau dapat berbicara?” Fudhail terus menerus menyebutkan organ-organ seperti ini dengan mengajukan pertanyaan retoris yang sama.

Saking banyaknya nikmat dari Allah swt, manusia dipastikan tidak dapat menghitungnya. Firman-Nya: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nahl: 18). “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim: 34).

Salah satu kewajiban manusia terhadap nikmat tersebut adalah bersyukur, sebagaimana firman Allah swt: “…dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah: 152). Bersyukur artinya Al-‘Iddi’aanu ‘Alaa Ni’matillaahi (mengakui atas nikmat yang diberikan Allah). Secara garis besar, bersyukur dapat dilakukan dengan tiga cara: Pertama, dengan hati, yaitu dengan mengimani dan meyakini bahwa segala bentuk kenikmatan ini datangnya dari Allah swt semata. Kedua, dengan lisan, yakni dengan memperbanyak ucapan alhamdulillah wasysyukru lillah. Ketiga, dengan perbuatan, yaitu mempergunakan segala bentuk kenikmatan Allah swt untuk menunaikan perintah-perintah-Nya, baik perintah wajib, sunat maupun mubah. Mempergunakan segala bentuk kenikmatan Allah swt dengan cara menghindari, menjauhi dan meninggalkan segala bentuk larangan-Nya, baik larangan yang haram maupun yang makruh.

Akan tetapi sayang banyak manusia yang tidak bersyukur pada-Nya, malahan mereka justru mengkufuri nikmat-Nya. Firman-Nya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim: 7). Tidak sedikit manusia yang tertipu dalam menggunakan nikmat itu, seperti sabda Rasul SAW:Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu oleh dua kenikmatan ini, yaitu: sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Di kala sehat manusia mempergunakannya untuk berbuat maksiat, di saat waktu luang ada, manusia memanfaatkannya dengan cara-cara yang munkar dan tidak maslahat.

Kita semestinya menyadari bahwa semua kenikmatan akan dimintai pertanggungjawabannya. Firman-Nya: “…Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabannya.” (Al-Isra: 36). “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (At-Takatsur: 8).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 7 jam lalu

PDI-P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 10 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 21 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 22 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: