Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Oom Somara De Uci

Pegiat Seni dan Budaya. Sepakbola, jalan-jalan, baca dan ngariung jadi hobi. Tinggal di Pustaka Kemucen, selengkapnya

Paket Hardiknas: Jatuh Vonis Buat Guru Aop Majalengka

OPINI | 03 May 2013 | 18:23 Dibaca: 188   Komentar: 0   0

Terpujilah wahai engkau,

Ibu Bapak Guru……

Hymne Guru

Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada  hari Kamis, 2 Mei 2013, kemarin terasa mengharu biru. Mayoritas orang berbicara soal Ujian Nasional yang karut marut itu. Namun khususnya di Kabupaten Majalengka, sesungguhnya ada yang lebih mengharu biru. Peristiwa ini nyaris luput dari pemberitaan media: Jatuh vonis terhadap Aop Saopudin (31), seorang guru honorer di sebuah SDN V Panjalin Kidul, Sumberjaya, Majalengka.

Vonis yang dijatuhkan hakim Pengadilan Negeri Majalengka adalah 3 bulan penjara dengan masa percobaan 6 bulan.  Aop dianggap melanggar pasal 335 pasal 1 KUHP. Ayat baku pasal ini berbunyi,”Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak tigaratus rupiah” Hukuman diberikan kepada orang yang secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan atau membiarkan sesuatu dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri atau orang lain”.

Kasus Aop ini sebenarnya telah menyita perhatian dunia pendidikan ketika kasusnya mengemuka di sepanjang tahun 2012. Ketika itu di bulan Maret 2012 Aop merazia rambut anak didiknya yang berambut panjang. Hanya saja ada orangtua siswa yang keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Guru Aop itu untuk kemudian memperkarakannya ke pengadilan. Siswa yang dicukur Guru Aop ini bernama Tomy Himawan beserta 6 siswa kelas 3 lainnya. Upaya mediasi menemui kebuntuan. Ruang persidangan Aop ini, yang bergulir sejak Oktober 2012 , selalu penuh sesak oleh pengunjung terutama guru.

Vonis itu telah jatuh Kamis kemarin. Persis pada hari Pendidikan Nasional kita. Vonis itu jatuh sudah, walaupun Guru Aop tak mesti menjalankan hukuman. Pengunjung sidang, yang kebanyakan guru, tak kuasa menahan haru. Ada yang bertakbir histeris, tak sedikit yang menitikan air mata.

Saya teringat ucapan Guru Besar saya, Prof. Dr. Hj.Rochiati Wiriatmadja, MA sewaktu menjadi mahasiswanya di Pascasarjana IKIP Bandung, “Seorang guru hadir di kelas mestilah anggun, dengan tidak hanya bahwa ia memiliki segudang ilmu, tetapi juga kebijaksanaan….”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 7 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 11 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 11 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 15 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: