Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Bunga Muda

simple man - simple stories

Minoritas Islam di Flores Vs Minoritas Katolik di Jawa Timur

HL | 03 May 2013 | 10:08 Dibaca: 5610   Komentar: 71   39

136755117932579025

Masjid di kampung saya, pelosok Flores Timur.

Saya tinggal di perkampungan di pinggiran Surabaya, tepatnya daerah Gedangan, Sidoarjo, yang penduduknya hampir 100 persen beragama Islam. Masjid di RW saya ada tiga meski tidak terlalu besar. Di RT saya, warga yang non-Islam hanya tiga rumah. Jadi, suasana islami sangat terasa. Apalagi, Sidoarjo ini tergolong kota santri.

Yang paling menarik bagi saya adalah JUMATAN atau salat setiap Jumat siang. Mengapa? Yang ikut salat ini semuanya laki-laki. Yang perempuan tetap saja sibuk di rumah, baca koran, memasak, menonton televisi, dan sebagainya.

“Sampean kok gak jumatan?” pancing saya kepada Ambar.

Sebetulnya saya sudah tahu jawabnya. Bahwa salat Jumat itu hanya wajib untuk laki-laki. Kaum wanita tidak wajib alias sunnah. Hehehe… Si Ambar tertawa kecil. Dia tahu ke mana arah pancingan saya.

“Lha, wanita itu gak wajib salat Jumat, Mas. Kalau laki-laki sih wajib,” katanya ramah. Saya pun melanjutkan nyeruput kopi sambil bersama-sama menonton acara televisi yang tidak menarik. Nona manis ini sepengetahuan saya tidak pernah ikut salat Jumat, tapi rajin salat wajib lima waktu sehari.

Mengapa saya iseng bertanya soal kaum perempuan di lingkungan saya yang tidak salat Jumat? Sebab, di desa asal saya di NTT, tepatnya pelosok Flores Timur, hampir semua perempuan (anak-anak, remaja, gadis, mama-mama, hingga nenek-nenek) pun ramai-ramai datang ke masjid setiap Jumat. Ada yang bawa tikar dari rumah, sajadah sudah pasti, untuk menunaikan sembahyang berjemaah setiap pekan itu.

Perempuan yang tinggal di rumah tentulah yang punya halangan menurut ketentuan agama. Para laki-laki pun rajin sekali salat Jumat. Di mana-mana kaum minoritas memang paling antusias menjalankan kewajiban agamanya ketimbang mayoritas. Contohnya: di pelosok Flores itu banyak orang yang absen ke gereja karena sibuk cari ikan atau masih kerja di kebun.

“Sampaikan salam saya untuk Bapak Pastor di gereja ya? Tuhan sudah tahu bahwa saya punya alasan untuk tidak ikut misa di gereja,” begitu antara lain guyonan orang-orang Flores yang malas ke gereja. Hehehe….

Kembali ke kampung saya di pelosok NTT yang sederhana, baru kemasukan listrik PLN sekitar 10 tahun lalu, warganya banyak yang merantau ke Sabah, Malaysia Timur. Sebagian besar penduduknya beragama Katolik. Sebagian kecil beragama Islam. Ada pula orang tua yang menganut “agama” nenek moyang atau ritual prakristiani layaknya tradisi etnis Lamaholot.

Masjid di tengah kampung itu tidak terlalu besar. Mushala di Sidoarjo malah jauh lebih besar. Tapi antusiasme umat Islam untuk beribadah patut diacungi jempol. “Tite ata diken perlu sembeang. Tite toi hala hogo erem rua tite mataye,” kata Haji Anwar Tadong, takmir masjid sekaligus imam di Masjid Lewotolok.

Pak Haji ini masih tergolong paman saya. Kata-katanya dalam bahasa Lamaholot, bahasa daerah Flores Timur, itu artinya: “Kita manusia harus sembahyang. Kita tidak tahu besok atau lusa meninggal dunia!” Begitu Pak Haji memotivasi umat agar rajin-rajinlah SEMBEANG.

Orang Flores Timur kurang mengenal kata SHALAT atau SALAT. Yang dikenal adalah SEMBEANG atau SEMBAHYANG. Kata MUSHALA pun baru saya ketahui saat kuliah di Jawa Timur. Di kampung saya masjid kecil itu disebut LANGGAR.

Nah, mungkin karena sedikit jumlahnya, orang Islam di daerah saya sangat guyub, kompak, dan antusias mengikuti salat dan perayaan hari besar Islam. Setiap hari raya macam Idul Fitri dan Idul Adha umat Islam dari seluruh kecamatan berkumpul di salah satu desa untuk salat berjemaah. Gantian dari desa ke desa. Panitianya gabungan umat Islam dan Katolik. Para tamu dari luar desa itu menginap di rumah-rumah penduduk yang beragama Katolik.

Sang kepala desa, yang Katolik (dari 20 desa, hanya 3 kepala desa beragama Islam, kalau tidak salah), berperan sebagai penasihat panitia hari raya Islam itu. Beliaulah yang menentukan rumah Pak A nampung berapa orang tamu dari desa X dan seterusnya. Usai ibadah salat berjemaah, seluruh warga desa mengadakan perayaan, menikmati gule dan sate kambing ramai-ramai. Kemudian para tamu itu dilepas ke desanya masing-masing.

Tahun lalu, rumah orang tua saya di kampung, (kami keluarga Katolik, bahkan bapak saya dulu ketua dewan stasi, posisi yang tergolong tinggi untuk ukuran gereja-gereja desa di Flores) menampung sekitar 10 tamu muslimin dari desa muslim di kawasan paling ujung kecamatan saya. Setelah itu, hubungan kekerabatan kami makin erat. Saat mudik Natal belum lama ini, gantian saya yang dijamu saat mampir ke desa yang punya budidaya rumput laut itu.

1367579272573115755

Paduan Suara Orang Muda Katolik Paroki Jember, Jatim (foto: Majalah HIDUP)

Ketika kuliah diĀ  Jember, Jawa Timur, saya juga melihat suasana yang rada mirip di mana umat Katolik sangat minoritas. Terbalik dengan Flores Timur. Ternyata orang Katolik yang super sedikit itu rajinnya luar biasa.

Setiap hari Gereja Santo Yusuf di Jalan Kartini itu selalu didatangi banyak orang, termasuk anak-anak muda. Latihan paduan suara, Legio Maria, pertemuan Wanita Katolik, persekutuan doa karismatik, kongregasi Santa Anna, Lectio Divina, Karmelit Awam, rapat ini itu, dan sebagainya. Belum lagi para mahasiswa yang tergabung dalam KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik) dan PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) seakan berlomba bikin acara, diskusi, atau hanya sekadar omong-omong kosong.

Cowok-cowok sering memanfaatkan peluang itu untuk menjajaki hubungan asmara dengan sang cewek. Sebab, stok cewek Katolik cenderung lebih sedikit daripada cowok. Berbahagialah anak-anak muda yang akhirnya menemukan jodohnya di lingkungan gereja. Ketimbang kenalan sama lawan jenis di tempat hiburan malam, bukan?

Ada juga mahasiswa, termasuk saya, yang datang untuk menimba ilmu tentang wayang kulit. Maklum, saat itu pastor parokinya, Romo Yustinus Slamet Riyadi, Ordo Carmelit, juga dikenal sebagai dalang wayang kulit. Romo Yustinus alias Ki Bodronoyo ini beberapa kali ditanggap saat perayaan Natal bersama dan acara-acara lain.

Selain di gereja, umat Katolik yang minoritas itu juga sering mengadakan doa lingkungan, doa wilayah, pendalaman iman, pendalaman kitab suci, pendalaman APP, dan sebagainya. Acaranya dari rumah ke rumah umat. Setiap bulan ada tiga sampai empat kali pertemuan. Saya geleng-geleng kepala karena setahu saya orang Katolik yang mayoritas di Flores tidaklah serajin itu.

Bahkan, ketika tinggal di daerah Patrang, setiap bulan Mei dan Oktober diadakan doa rosario. Doanya setiap malam dari rumah ke rumah selama satu bulan. Padahal, doa rosario itu dalam tradisi Katolik hanyalah ibadat devosional. Istilah muslimnya: sunnah alias tidak wajib.

Melihat fenomena ini, saya tidak heran melihat begitu banyak orang Flores yang super aktif dalam kegiatan-kegiatan di gereja-gereja Katolik di Surabaya, Malang, Jember, Jakarta, Bandung, bahkan Malaysia. Motor utama paduan suara Katolik di Jawa (kecuali Jogjakarta dan Jawa Tengah) boleh dikata orang Flores atau NTT umumnya.

“Setelah tinggal di Jawa, saya justru merasa terpanggil untuk lebih banyak melayani Tuhan lewat paduan suara,” kata seorang pentolan choir di kawasan Surabaya Selatan.

“Jadi minoritas di negeri orang membuat saya lebih rajin baca kitab suci, bahkan ikut melatih paduan suara. Jelek-jelek begini, kita punya potensi lho. Waktu Jumat Agung kemarin, saya tampil menjadi solis utama saat PASSIO di gereja. Padahal, waktu masih di Flores, saya ini termasuk orang yang sering bolos ke gereja,” kata Alfred asal Flores Barat.

Ada-ada saja si bung yang satu ini! Rupanya di kota besar yang sibuk dan bergegas ini Roh Tuhan bekerja lebih efektif. Hehehehe…….

Saat saya mengikuti perayaan ekaristi atau misa di Gereja Katolik Matraman, Jakarta, beberapa waktu lalu, suasana Floresnya jauh lebih kental. Pastornya SVD asal Flores, anggota paduan suara hampir semua Flores, bahkan lagu misa yang dibawakan hari itu juga bergaya Flores. Lagu-lagu liturgi karya Martin Runi, komposer asal Flores.

Sayang, saya tidak sempat bertanya apakah dulu ketika masih tinggal di Flores, para aktivis Gereja Matraman Raya itu pun serajin di Jakarta.

Salam damai untuk semua manusia!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ratu Atut Divonis Empat Tahun Namun Terselip …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Katanya Supercarnya 5, Setelah yang Bodong …

Ifani | 12 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 13 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: