Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Jane Papilaya

“Keep your mind as bright & clear as the vast sky, the great ocean & selengkapnya

Dialog Dua Orang Maluku yang Berbeda Kewarganegaraan

REP | 03 May 2013 | 13:56 Dibaca: 790   Komentar: 4   4

Pasca perayaan HUT Republik Maluku Selatan (RMS) di Apeldoorn, Belanda tanggal 25 April 2013 lalu, pada sejumlah akun facebook pro RMS bermunculan beragam kalimat ucapan, mulai dari ‘Dirgahayu RMS ke-63’, ‘Selamat Hari Proklamasi RMS’ hingga salam perjuangan ‘Mena Muria’ termasuk pengibaran bendera benang raja dan segala artibutnya pada timeline nya masing-masing.

Namun ada satu hal yang menarik perhatian saya, bahwa ternyata ada pula yang secara terang-terangan melakukan kontra terhadap upaya para anak cucu pejuang RMS dalam melampiaskan eforianya saat itu. Dua hari setelah HUT RMS (27/4), seorang warga Maluku berkewarganegaraan Indonesia bernama Apin Etes (AE) memposting sebuah gambar berjudul “RMS HAS NO FUTURE IN THIS ISLAND” yang langsung mendapat respon dari salah satu simpatisan RMS berkewarganegaraan Belanda bernama Samuel Patasiwa (SP), hingga terjadilah dialog sebagai berikut :

  • 1367563753295056094

    (facebook.com)

    SP : Anda orang Maluku? Atau orang Indonesia?

  • AE : Saya orang Maluku. Maluku itu ada di Indonesia atau di Belanda? di Indonesia lah saudaraku.
  • SP : Anda tidak tahu sejarah orang Maluku, ya?
  • AE : Memang sejarah orang Maluku itu bagaimana? yang saya tahu kita semua berasal dari Nusa Ina. Mungkin bung tahu kita semua ini darimana? Kenapa saya dan anda berbeda?
  • SP : Berasal dari Nusa Ina itu betul, tapi Maluku bukan di Indonesia! Indonesia masuk tanah Maluku, tanah Alifuru!
  • AE : Iya, itu yang saya maksud, om. Maluku ini milik Nusa Ina bukan milik siapa-siapa. Di Nusa Ina itu ada Nunusaku. Kita semua berasal dari sana. Tala, Eti, Sapalewa yang membawa kita keluar dari nusa ini. Saya berdarah Kaibobu, jadi saya tahu persis, om.
  • SP : Saya juga turunan darah Hena Poput, dari nenek moyang saya.
  • AE : Iya, om. jadi menurut saya Maluku bukan milik RMS, tapi Maluku itu milik Nusa Ina, om.
  • SP : Ok, tapi semua harus tahu dan berpikir lain tentang RMS. Dan juga harus mengetahui sejarah dari nenek moyang kita. Kenapa orang Maluku banyak tinggal di Belanda sini, mungkin anda juga mempunyai banyak saudara di Belanda.
  • AE : Saudara saya juga ada yang tinggal di Belanda. Tapi om, sejarah ini kalau mau diikuti tidak ada yang benar. Iya, kakek saya juga mantan tentara KNIL namanya Iscak Telussa. Kembali ke sejarah… om, saya ini sudah banyak mencari referensi terkait dengan sejarah RMS dan Maluku. Ada versi Indonesia dan ada pula versi RMS. Sebelum ada RMS, kita semua masih hidup baik-baik, justru Belanda datang menjajah kita dan mengangkat kakekku menjadi tentara KNIL untuk melawan Indonesia dengan cara membuat (negara) RMS. Akhirnya kita di Maluku diserang oleh Indonesia gara-gara RMS hingga Dr. Soumokil dkk melarikan diri ke Pulau Seram, setelah Ambon hancur. Itu semua gara-gara siapa? Kalau tidak ada RMS, tidak mungkin Benteng Victoria di Pasar Lama Mardika bisa hancur. Jangan marah ya, om… saya hanya mengikuti sejarah saja.

Catatan : pengertian Nusa Ina, Nunusaku, Tala, Eti, Sapalewa dapat dilihat dalam link berikut ini Belajar Budaya Masyarakat Maluku

Merenungkan dialog di atas, saya sebagai orang muda Maluku hanya dapat menyimpan rasa sesal yang sangat dalam, mengapa bangsa Maluku saat itu mau saja di adu domba oleh penjajah Belanda. Di sisi lain Kapitan Pattimura, Christina Martha Tiahahu, Sultan Baabullah dan pahlawan besar lainnya justru melawan kolonialisme Belanda di tanah Alifuru ini. Mengapa Dr. Soumokil justru memprovokasi orang Maluku untuk memerangi bangsanya sendiri hanya untuk mendirikan negara boneka ciptaan Belanda, yakni RMS. Karena dialah, akhirnya banyak orang Maluku mengungsi ke negeri Belanda meninggalkan tanah nenek moyangnya, Nusa Ina.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 4 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 6 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 8 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 11 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 7 jam lalu

Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak …

Mauliah Mulkin | 7 jam lalu

Me Time (Bukan) Waktunya Makan Mie! …

Hanisha Nugraha | 7 jam lalu

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | 7 jam lalu

Semoga Raffi-Gigi Tidak Lupa Hal Ini Setelah …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: