Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Anjo Hadi

"Politikus itu banyak. Tapi Negarawan itu sedikit." Once worked as a journalist for OZIndo (Indonesian-speaking magazine selengkapnya

Tak Percaya “Tuhan” Sumber Rejeki? Tanya Arya Wiguna

OPINI | 01 May 2013 | 19:04 Dibaca: 745   Komentar: 0   0

Siapa bilang makian dan amarah tidak bisa digunakan untuk mencari duit? Di negara penuh kesempatan seperti Indonesia, semua mungkin. Coba tengok Arya Wiguna. Setelah sumpah serapahnya pada mantan sifu Eyang Subur, orang yang nyaris tidak pernah diketahui eksistensinya oleh publik kini telah menjadi trend lokal.

Arya pun mendapat banyak tawaran tampil di berbagai TV show lokal dan baru-baru ini ia mendapat tawaran dari salah satu label rekaman Trinity Optima Production. Eka Gustiawana, orang yang membuat lagu untuk beberapa artis seperti Nikita Willy dan Maudy Ayunda kini membuka gerbang “bisnis” bagi Arya.

“Benar akan jadi RBT. Sudah kontrak sama Trinity (label rekaman Trinity Optima Production). Diambil dari YouTube, dari Eka Gustiwana, itu orang Trinity. Nadanya itu yang diambil,” ujar Arya seperti dikutip Kompas, Selasa (30/4/2013).

Sungguh ironis, Arya padahal hanya menumpang holy crusade campaign seorang Adi Bing Slamet melawan “kesesatan guru bathil” Eyang Subur. Tapi justru Arya yang mendapat berkah.

Namun….sampai sekarang masih jadi misteri, apa sih yang membuat amarah Arya, enak untuk konsumsi publik? Apakah karena topiknya berbau mistis dan apalagi sedang gencar-gencarnya isu RUU Santet? Ataukah hanya karena membawa nama “Tuhan”? Sebuah entitas sakral yang hanya dapat disebut dalam sikon tertentu.

Kalau mengikuti berita mengenai Eyang Subur dari awal, kita mungkin dapat berasumsi bahwa tindakan Arya hanya emosi semata. Setidaknya ia percaya bahwa ia menggunakan nama Tuhan untuk misi suci memberantas ilmu hitam.

Namun dalam kelanjutannya, Arya membawa “Tuhannya” ke ranah entertainment diluar sengketanya dengan Eyang Subur. Dalam acara show Hitam Putih, Arya melampiaskan amarah “Demi Tuhan” dengan sedikit revisi.

“Nu…liat muka saya, kamu dari dulu enggak tinggi-tinggi sampai sekarang masih kecil-kecil aja gimana sih Nu…!”

“Saya gak mau tau, besok kamu harus tinggi…DEMI TUHAN!!!” Cuplikan ini dapat dilihat di Youtube.


Tak hanya di Hitam Putih, tindakannya tersebut telah menuai penghargaan diantaranya di ajang “Selebration, Seleberita in Action” Trans 7 dalam kategori “Best Fight.”

“Ini masyarakat yang milih, saya anggap ini bonus dari Allah. Semakin terlihat siapa yang benar, siapa yang salah,” ujar Arya selepas acara itu, seperti dikutip Kompas (24/4/2013).

Saya sungguh penasaran dengan orang-orang yang menyerukan tabligh akbar ketika Arya memaki Eyang Subur. Apa mereka tidak iri…sama-sama mengumandangkan panji agama, tapi yang ketiban rejeki justru Arya. Ooops, apalagi kalau saya jadi Adi Bing Slamet. Yang perang siapa…tapi yang dapet spotlight dan rejeki justru third party. Arya sejak awal hanya didesign sebagai saksi atau penguat bukti, bukan protagonis utama kasus tersebut.

Bolehkah Meneriakkan Kebencian Atas Nama Tuhan Selama Pihak Yang Diteriakkan “Salah”?

Ini akan menjadi renungan bagi kita umat beragama. Sengaja saya beri tanda petik untuk kata “Salah” karena ini masalah perspektif. Apa yang benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Tapi bila kita merasa benar, bolehkan mengutuk dan meneriakkan nama Tuhan pada mereka yang kita anggap salah?

Dengan semangat para pendukung Arya Wiguna meneriakkan tablight akbar. On top of that, MUI secara tidak langsung mengaminkan dan hingga sekarang tidak terlihat mengkritik pengucapan “Demi Tuhan” tersebut. Bahkan setelah Arya Wiguna menghadiri berbagai TV show dan menggunakan kata Tuhan untuk keperluan komersial, MUI yang dikenal nomor satu dalam “mengendus” sesuatu hal yang “haram” malah tetap santai-santai saja.

Beralih topik sejenak, kita tahu kata “Oh My God” adalah kalimat “latah” yang biasa diucapkan di dunia barat ketika seseorang menghadapi sesuatu yang mengejutkan. Sudah tentu kalimat tersebut pertama kali muncul di sebuah lingkungan bertradisi agamis di masa lampau. Hari ini, kalimat tersebut dapat diucapkan siapa saja, baik yang percaya Tuhan maupun tidak percaya Tuhan. Kebanyakan umat Kristiani sekarang lebih menggunakan kalimat “Oh My Goodness” sebagai tanda hormat tidak mengucapkan nama Tuhan sembarangan.

Pertanyaannya, apakah penyelewangan “Oh My God” di dunia barat kini sedang hadir di Indonesia dalam bentuk latah “Demi Tuhan?” Atau mungkin ini cara masyarakat Indonesia menunjukkan identitasnya sebagai masyarakat religius. Entahlah. Tapi bila ada yang tidak percaya bahwa Tuhan sumber rejeki, Arya-lah saksinya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Di Kupang, Ibu Negara yang Tetap Modis namun …

Mba Adhe Retno Hudo... | 9 jam lalu

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 13 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 13 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: