Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Jimmy Haryanto

Pecinta Kompasiana. Berupaya menjadi pembelajar yang baik, namun sering merasa malu karena belum bisa berbuat selengkapnya

Apa Rahasia Keberhasilan Negeri Jepang?

OPINI | 01 May 2013 | 07:48 Dibaca: 1647   Komentar: 32   9

Apa yang terkesan ketika kita mendengar Jepang? Mungkin negara maju dengan kemampuan teknologi penghasil mobil dan mesin-mesin handal. Tapi tahukah kita bahwa negara itu hancur tahun 1945 ketika dikalahkan AS, dan hingga sampai sekarang tidak boleh mempunyai angkatan bersenjata? Negeri Jepang juga sangat miskin dulunya sehingga banyak wanitanya yang menjadi prostitusi ke Surabaya ketika masih bernama negeri Hindia Belanda. Tahun 1945 Jepang begitu hancurnya sehingga hampir tidak ada harapan. Namun mengapa negeri ini bisa bangkit dengan cepat?

Banyak yang mengatakan bahwa semangat (gambatte) yang sangat tinggi yang dimiliki rakyat Jepang membuat mereka tidak cepat puas dalam segala hal. Belajar sangat rajin, berpikir senantiasa, serta memiliki kedisiplinan luar biasa membuat mereka cepat maju. Negaranya yang hanya seperlima luas Indonesia dengan cepat dibangun karena masyarakatnya tidak memiliki sikap senang melihat orang lain susah, dan tidak mau merusak yang ada. Justeru sebaliknya, tidak mau mengganggu orang lain dan berupaya menolong orang yang kesusahan walaupun tidak kenal sama sekali.

Saat ini Jepang memiliki menara tertinggi di dunia (Tokyo Skytree) yang diresmikan tahun 2012. Katanya itu dibangun dengan menggunakan prinsip tradisional membangun sebuah kuil. Namun mereka kembangkan. Dulu orang Jepang mempunyai tenun tradisional, lalu mereka kembangkan menjadi mesin tenun. Jadilah Jepang hingga saat ini pemilik mesin tenun kain paling canggih yang sudah menggunakan komputer. Kemudian pemilik mesin tenun itu tidak puas dan mengembangkannya lagi untuk membuat mobil, maka muncullah pabrik mobil Toyota yang mendominasi mobil di seluruh dunia.

The Tokyo Sky Tree is seen above cherry blossoms in full bloom at Sumida Park

Tokyo Sky Tree, Menara setinggi 634 meter merupakan yang tertinggi di dunia setelah Burj Khalifa Dubai dengan tinggi 828 m. Foto diambil di saat sakura bersemi. Menara ini dirancang untuk dapat menahan gempa dengan magnitude 7, dan menurut Sho Toyoshima, juru bicara Tobu Tower, saat terjadi gempa Fukushima dengan magnitude 9 tahun 2011, konstruksi menara ini tidak mengalami kerusakan (Sumber: Aflo Co. Ltd./Alamy, www.telegraph.co.uk).

Suatu saat sahabat saya terjebak dalam salju ketika menuju Gunung Fujiyama; ternyata mobil yang mereka sewa belum dilengkapi ban anti salju sehingga hampir saja mereka celaka. Ada orang Jepang yang kebetulan lewat, dan tidak segan menolong tanpa pamrih selama dua jam bolak balik mencari ban anti salju dan memasangkannya. Mungkin di Indonesia orang itu kemudian sudah minta balas jasa, tapi ini alamatnya pun tidak mau memberi karena menganggap itu hal biasa saja.

Orang Jepang juga tidak dendam terhadap AS yang mengebom Hiroshima dan Nagasaki tanggal 6 dan 8 Agustus 1945, tetapi menjadikan itu sebagai penyemangat untuk belajar dan bekerja lebih giat lagi. Ada seorang nenek berusia 69 tahun yang sedang kursus bahasa Inggris karena mau bertamasya ke London dengan suaminya. Sementara orang Indonesia diminta Gita Wiriawan belajar bahasa Inggris di BKPM dan Kementerian Perdagangan agar TOEFLnya di atas 600 sudah mengeluh karena merasa sudah terlalu tua. Bagaimana bisa bersaing dengan Jepang?

Kemampuan Bahasa Asing

Selanjutnya orang Jepang sangat percaya satu sama lain. Misalnya hal ini dapat terlihat kalau naik kereta gantung (rope way) mendaki gunung terjal yang sangat curam dengan penumpang dua puluh orang setinggi 1.100 meter di kota Nagasaki (hampir setiap lima menit) untuk melihat keindahan kota dari ketinggian. Kalau ada yang salah sedikit saja maka pasti semua jatuh dan hancur. Namun karena rasa saling percaya, tidak mungkin ada kecelakaan. Sementara kita masih ada rasa curiga satu sama lain. Bagaimana tidak curiga, misalnya Susno Duadji saat ini benarkah tidak diketahui oleh polisi? Pasti ada yang tidak benar di tubuh polisi. Akhirnya sesama polisi pun tidak saling percaya, apalagi masyarakat terhadap polisi. Adanya rasa tidak saling percaya ini sangat merusak segalanya.

Harian The Yomiuri Shimbun, 29 Mei 2013 menurunkan berita dengan judul “Abe receives panel’s proposals to improve English education.” Memang orang Jepang dulu tidak terlalu suka belajar bahasa Inggris sehingga walaupun cerdas dan kreatif, tapi kalau sudah bahasa Inggris agak susah mereka.

Rupanya para pemimpin Jepang sadar bahwa kemampuan bahasa Inggris orang Jepang yang kurang baik itu akan menurunkan daya sang Jepang di dunia. Untuk itu dibentuk sebuah panel (Education Rebuilding Implementation Council) yang menyarankan agar pelajaran bahasa Inggris diajarkan sejak dini. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik orang Jepang yakin akan mempunyai daya saing yang lebih baik lagi di dunia.

Tahun 2011 pelajaran bahasa Inggris diberikan di kelas lima dan enam SD Jepang sekali seminggu, namun hanya sebagai pilihan.

Bagaimana kita di Indonesia? Para pemimpin Indonesia perlu menyadari hal ini apalagi anggaran pendidikan kita sudah trilyunan rupiah pertahun (20% dari anggaran nasional dan daerah).

Seorang anak remaja dari pondok pesantren di pulau Jawa yang belum pernah ke luar negeri, bahkan ke Jakarta, ternyata sangat fasih berbahasa Inggris hanya karena menonton televisi dan belajar di pondok. Pasti masa depan anak ini akan lebih baik dibandingkan dengan anak-anak lain karena kemampuan bahasa Inggrisnya yang baik.

Kalau Perdana Menteri Jepang saja peduli akan kemampuan bahasa Inggris orang Jepang, seharusnya kita bangsa yang sedang membangun ini juga perlu memberi perhatian terhadap bahasa asing ya. Saat ini kelihatannya negeri kita masih kesulitan mencari orang yang fasih dalam bahasa-bahasa asing. Bahkan walaupun ada jurusan bahasa asing, namun lulusannya pada umumnya tidak lancar berkomunikasi sehingga mereka juga tidak dapat menikmati manfaatnya.

Itulah yang membuat Jepang maju, yakni semangat belajar dan bekerja keras serta disiplin yang tinggi, serta tidak cepat puas diri, dan memiliki rasa saling percaya yang sangat tinggi. Indonesia juga bisa lebih cepat maju kalau punya prinsip seperti itu dan menghilangkan keinginan korupsi karena kekayaan alam Indonesia lebih banyak!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59



Subscribe and Follow Kompasiana: