Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Antonius Ipur

Mahasiswa Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta

Rindu Soeharto

OPINI | 30 April 2013 | 02:02 Dibaca: 537   Komentar: 7   0

Gaya Desain pada Stiker “Piye Kabare? enak jamanku tho?”

Sosok dalam foto itu, tersenyum dengan kerutan di wajahnya.  Putih rambutnya menunjukan dia tidak lagi muda. Ekspresinya yang tenang seakan memberikan kesejukan dan pengharapan. Soeharto mantan presiden Indonesia yang telah memimpin negara jamrud khatulistiwa ini selama kurang lebih 32 tahun -dengan segala kebijakan politik serta pro-kontra kepemimpinannya- kini terpampang sebagai ‘pemanis’ pada kendaraan, tembok, dinding, gang-gang sempit, warung, tambal ban, hingga kios pulsa. Stiker Soeharto telah menjadi salah satu bagian dari  fenomena desain sebagai wujud ‘budaya kasat mata’ yang mewakili keadaan sosial budaya yang terdekat dengan kita sekarang ini.

Fenomena stiker Soeharto jika merunut dari beberapa sumber sebenarnya telah ada sejak tahun 2004. Pun berbagai asumsi muncul sebagai jawaban atas keberadaannya. Ada yang berpendapat bahwa hal itu memang sengaja ‘dimunculkan’ oleh pihak-pihak tertentu yang menginginkan ‘kekuatan’ lama itu muncul kembali. Ada pula yang berpendapat bahwa hal itu sebagai gambaran ‘kegalauan’ masyarakat atas stabilitas politik sekarang ini, sebuah rasa ketidakpuasan kepada era reformasi. Namun ada sebuah pendapat yang cukup logis untuk menanggapi hal itu yaitu fenomena itu muncul sebagai wujud ‘kerinduan’ masyarakat akan aspek-aspek yang pernah dicicipi pada masa pemerintahan Soeharto. Sebuah kenyataan bahwa pada masa pemerintahan orde baru, masyarakat cenderung  merasakan aspek-aspek yang ‘menyenangkan’ misalnya saja keamanan, ekonomi yang stabil, sembako yang murah, sekolah murah dlsb. meskipun secara substansial tidak demikian adanya.

Terlepas dari itu semua, stiker Soeharto merupakan sebuah wujud karya desain. Entah siapa yang pertama kali membuatnya, stiker tersebut merupakan sebuah bentuk media komunikasi yang di dalamnya memuat tanda-tanda yang telah diatur sedemikian rupa. Stiker tersebut mengandung tanda verbal dan visual sebagai mana sebuah desain pada umumnya. Tanda verbal bisa kita lihat pada teks yang ada; “Piye kabare? enak jamanku tho?” (Gimana kabarnya? masih enak zamanku tho), serta tanda visual berupa ilustrasi foto dari Soeharto itu sendiri. Sebagai wujud desain, stiker tersebut tentu saja bisa kita kaji dengan pendekatan fenomenologi, smiotika, persepsi visual, ideologi, dlsb. Dalam tulisan ini akan mencoba melihat fenomena tersebut melalui kacamata gaya desain.

Gaya desain merupakan satu dari sekian banyak aspek dalam menciptakan sebuah desain yang kreatif dan estetis. Kreatif berhubungan dengan segala bentuk teknis sedangkan estetis berhubungan dengan rasa.  Judith Genova mengemukakan bahwa: “… gaya diciptakan melalui perkawinan antara bentuk dan kandungan isi, dengan cara tertentu, sehingga bentuk mengekspresikan, yaitu secara metaforik menggambarkan kandungan isi.” Nicos Hadjinicolaou daripada menggunakan kata gaya desain ia menggunakan istilah: “… cara tertentu elemen-elemen formal dan tematik satu gambar dipadukan pada suatu keperluan yang khusus. Perpaduan ini merupakan satu bentuk khusus ideologi kelas sosial secara keseluruha.” Jadi jika mengacu dari pemaparan Nicos Hadjinicolou tersebut dapat menjelaskan bahwa gaya memiliki tingkatan sosial seperti halnya yang terdapat pada stiker Soeharto di mana sebagian besar stiker tersebut digunakan, sering ditemukan atau bersinggungan langsung dengan unsur masyarakat pada tingkatan tertentu, pada bak truk dan angkot misalnya.

Dalam melihat desain stiker Soeharto dapat didekati dengan dua bentuk gaya desain/visual; pastiche dan parodi. Pastiche menunjuk pada gaya desain yang sangat tergantung dari eksistensi kebudayaan atau idiom-idiom masa lalu. Ilustrasi pada stiker Soeharto mengambil bentuk atau visualisai gambar/foto Soeharto di masa lalu, menggabungkannya dengan unsur lain -seperti tipografi- menjadi bentuk yang sekarang ini yang digunakan untuk menyampaikan pesan tertentu. Contoh lain dari praktik dari penggunaan gaya ini bisa kita lihat pada tokoh-tokoh terkenal lainnya -Soekarno, Che Guevara, Benyamin, dlsb. yang diaplikasikasikan pada beragam media. Pastiche biasanya tetap berada dalam genre yang sama seperti model rujukannya. Pastinya kita tahu pose dari Che Guevara yang dipakai dalam praktik pastiche meskipun diterakan dalam berbagai media. Hal tersebut juga terjadi dalam stiker Soeharto jika kita amati visualisainya antara stiker yang satu dengan yang lain.

contoh stiker Soeharto pada angkot

sumber : www.lensaindonesia.com

Stiker Che Guevara

Sumber : www.demograpics.co.uk

Lain halnya dengan parodi. Parodi juga mengambil referensi dari masa lalu, hanya saja ia menekankan perbedaan, bukan pada persamaan. Parodi juga menyimpan bentuk kritisme. Kritisme disini bukan ditujukan kepada audiens namun pada obyek yang dijadikan unsur dalam sebuah karya desain. Parodi seringkali dipersempit sebagai bentuk ‘kelucuan’ padahal lebih dari itu. Parodi menyimpan sebuah bentuk dialog,  didalamnya terdapat suara dan dua bahasa.

Sumber gambar : www.tokobukubekas.blogspot.com

Apapun gaya desain yang digunakan, masyarakat dalam kurun waktu tertentu akan selalu memunculkan beragam fenomena desain sebagai manifestasi dari dinamika sosial budaya yang ada. Wujud desain merupakan sebuah sosok yang memuat nilai-nilai di dalamnya. Wujud desain dianggap sebagai representasi kompleks dari sub-sub sosial budaya yang mengiringi proses penciptannya. Jadi kita tunggu saja fenomena desain yang akan muncul selanjutnya. Salam.

Antonius Purwantono | Mahasiswa Desain Komunikasi Visual | ISI Yogyakarta

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sejoli Penghuni Pulau Cengkeh (Cangke) …

Asri Salam | | 22 October 2014 | 13:56

Happy Birthday Kompasiana …

Syukri Muhammad Syu... | | 22 October 2014 | 18:24

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Geliat Predator Seks di Medsos …

Muhammad Armand | | 22 October 2014 | 14:12

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 11 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 11 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 11 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 12 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Andaikan Tak Ada Qurban …

Giyat Yunianto | 7 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal ? …

Goezfadli | 7 jam lalu

Kasus Kekerasan Terhadap Anak, Buah dari …

Ade Faulina | 7 jam lalu

#TerimaKasihSBY …

Bagus Eka Putra | 8 jam lalu

Jalangkung dan Rejeki …

Arif Meftah Hidayat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: