Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Bu Anni

Istri, Ibu dari dua gadis cantik, Pendidik. Kata orang, saya orangnya biasa saja, tapi baik selengkapnya

Mbak, Bisa Nggak Tanpa Goyang Pantat?

HL | 30 April 2013 | 08:44 Dibaca: 3264   Komentar: 159   14

13672916512099836839

Ilustrasi/Admin (Tribunnews.com)

Baru saja menonton acara berita di Televisi, tentang keributan yang terjadi di  arena pergelaran music dangdut di kota kecil Kendal Jawa Tengah. Kerumunan anak muda yang asyik berjoget tak dapat mengendalika emosinya saat bersenggolan dengan sesama pejoget yang juga sedang asyik di sebelahnya. Tak pelak lagi, tinjupun melayang ke arah hidung lawan, yang dibalas dengan tendangan keras ke arah tulang kering.  Semenit kemudian pecahlah perkelahian massal di tengah hingar bingar dentaman gendang dan mendayunya suara sang biduan yang memabukkan.

Bukan musiknya, tapi penyanyinya

Musik dangdut sudah sejak dulu ada di bumi pertiwi ini . Dahulu musik Dangdut dikenal dengan nama musik Melayu. Musik dangdut diklaim sebagai musik asli milik bangsa Indonesia, meski pengaruh India begitu kentara di dalamnya. Apapun kontroversinya, musik dangdut tetaplah menjadi musik khas milik bangsa kita yang juga sudah diakui keberadaannya oleh bangsa lain.

Banyak orang yang sangat fanatik menyukai musik dangdut, namun tak sedikit juga orang yang bersikap anti pati, dan menganggap musik dangdut adalah musik kampungan yang tak berselera tinggi. Terserah apa kata orang, musik dangdut terus melaju di negeri ini. Dari waktu ke waktu kualitas musik dangdut terus mengalami peningkatan. Yang menjadi masalah adalah performa para penyanyinya. Sungguh kontradiktif. Sementara penyanyi dangdut papan atas semisal Ikke Nurjanah, Iis Dahlia, Christina, Evie Tamala, dll, berusaha mati-matian memperbaiki citra musik dandut agar lebih berkelas, penyanyi dangdut kelas kelurahan justru bersikap sebaliknya. Berpenampilan seseronok dan seheboh mungkin. Melihat penampilan para artis dangdut kelas kampung ini , orang pasti akan sulit membedakan, mana penyanyi mana PSK.

Khusus untuk penyanyi kelas hajatan ini, jangan salahkan orang lain jika mereka dinilai negatif oleh masyarakat. Lihat saja gaya berpakaiannya. Serba ketat, serba terbuka, super mini, dan mencolok. Sudah begitu suranya mendayu merayu merajuk hati. Dan ini yang terpenting : gaya jogetnya itu lho ! alamak, sensual banget. Dada digoyang ke arah depan, kaki mengangkang- paha terbuka, pinggang - pinggul - bokong diputar cepat sampai 360 derajat. Coba, laki-laki mana yang nggak sesak napas melihat gerakan (yang kata Bang Haji Rhoma Irama ) seperti gerakan persenggamaan seperti ini ? nah, manakala gerakan saru seperti itu dipertontonkan di ruang terbuka, wajar saja jika masyarakat mengira para penampilnya adalah cewek-cewek bispak (bisa dipakai - pen), dan penonton yang berjogetpun jadi mudah tersulut naluri agresifnya. Senggol sedikit saja akan berakibat bacokan.

Silahkan menggoyang dunia,  tapi jangan saru !

Saya pernah menghadiri undangan pernikahan salah seorang kenalan di kampung sebelah. Saya tiba di tempat hajatan saat jam makan siang. Maksud saya biar laparnya pas gitu :D. Tapi sesampainya di sana, boro-boro bisa menelan makanan dengan nikmat, malahan keselek yang ada. Bagaimana mau enak makan, lha wong di siang bolong yang panas gerah seperti itu, tuan rumah menyuguhkan atraksi musik dangdut yang suaranya digeber pol, kuenceeeeng..  bangets ! sampai kalau kita duduk, badan jadi ikut bergetar lantaran kursi yang kita duduki bergetar lumayan keras, dan jantung serasa berdentam-dentam tak beraturan sebab  dahsyatnya volume sound system.

Sudah begitu, Mbak-Mbak penyanyinya itu lho, masyaallah !  rambut keriting panjang sepinggang, dicat merah menyala. Lagu apapun yang dinyanyikan, kepala dan rambutnya pasti akan diputar-putar seperti baling-baling kincir angin Belanda, tak peduli apakah lagunya cocok atau tidak. Rupanya dia meniru gerakan andalan para tiga singa yang sedang ngetop itu.  Lalu goyangannya, haduh. Bukan goyang itu sih, tapi lebih tepatnya bergetar, berdenyar, berdenyut !. Lihat saja pantatnya. Kok bisa-bisanya dia melakukan putaran 360 derajat, 50 putaran perdetik kayaknya, saking cepat dan dahsyatnya. Apa si Mbak ini nggak takut pinggulnya lepas ,apa ya ? edan tenan.

Saya sih tak peduli dengan atraksi itu. Saya kan perempuan jadi ya nggak terpengaruh sedikitpun. Mau hotnya sampai kayak kebakaran juga, saya sih nyengir saja, secara saya mah nggak napsu sama perempuan, cuma merasa jijik saja.  Tapi Bapak-bapak dan para pemuda yang menonton ? haduh kasihan banget, sampai pada melotot gitu (ditambah agak nganga dan lidahnya keluar dikit ). Untung saya datang barengan sama Ibu-ibu. Coba kalau sama suamiku. Bisa habis aku dimakan sama suamiku sepulangnya ke rumah ! ( he he …pis Ayah .. )

Beneran deh, heboh banget itu si Mbak penyanyinya. Padahal lagunya selow-selow saja, tapi kok ditampilkan dengan begitu hotnya. Lagu yang seharusnya sendu, malah  jadi ancur 1000 persen di tangan si Mbak itu. Heran saya.

Diatas itu semua, ada satu hal yang saya prihatinkan. Sajian musik dangdut dengan hanya diiringan organ tunggal itu  dilakukan di atas panggung yang tingginya kira-kira sedada laki-laki dewasa, jadi kurang lebih setinggi kepala anak berumur 8 tahunan. Para penonton yang berada di bawah panggung akan otomatis harus mendongakkan kepalanya saat menonton aksi sang biduan.

Nah disitulah letak persoalannya. Penyanyi itu berpakaian sangat minim. Rok bawahannya hanya sejengkal panjangnya dari pangkal paha. Saya yakin dia mengenakan hotpants yang lebih mini lagi di balik rok kulit imitasi yang super ketat itu. Tapi kan pas dia melakukan gerakan mengangkang, menendang, goyang pinggul dan bokong dengan paha ngablak, semua pemandangan seronok itu tersaji tepat di depan mata orang dewasa dan tepat di atas kepala anak-anak yang kesemuanya menonton dengan terpana dan melotot. Entah apa yang ada di benak para penonton yang didominasi laki-laki itu. Sedih saya melihat anak laki-laki cilik yang terpaksa menjadi korban “pemerkosaan” para biduan itu.

Tak henti berkecamuk pertanyaan di hati saya saat terpaksa menyaksikan pertunjukkan yang sangat tidak pantas itu.  Apakah para penyanyi itu tak punya anak, adik, atau keponakan yang masih kecil ? mengapa memancing nafsu syahwat dengan begitu bebas seolah tak punya malu ? berapa sih bayaran yang dia terima untuk aksi hotnya itu ? berapa banyak sih sawerannya ? kok sampai sebegitu ngototnya. Apakah memang seimbang dengan rasa malu yang terpaksa ditekan habis ?

Lalu para penyelenggara hajatan. Apakah tidak bisa melakukan rikues terlebih dahulu, agar grup organ tunggal yang mereka sewa itu, hanya menampilkan penyanyi yang sopan yang tak mirip PSK ? sangat tidak sopan menurut saya jika tuan rumah menyuguhi tamu-tamunya dengan pertunjukkan yang sangat tak bermutu seperti itu.

Dan ini yang terpenting. Para orang tua. Mengapa membiarkan anak-anak laki-laki kecil dan remajanya menonton pertunjukkan yang menjurus mesum seperti itu. Dimana tanggung jawab dan kesadaran para orang tua atas keselamatan moral anak-anaknya ? atau mungkin hal-hal semacam itu tak terpikirkan, karena justru mereka adalah salah satu diantara penonton yang berjoget itu ? Ya susah kalau begitu. Rusak satu rusak semua. Tak ada tanggung jawab sosial yang dapat diharapkan dari orang-orang yang bersikap tak acuh seperti itu.

Dan yang ini tak kalah pentingnya :  Bapak- bapak aparat kemanan. Nggak usak sok- sok ikutan  joget gitu deh. Alay tauu ..

Terakhir …

Musik dangdut sebagaimana musik lainnya yang merupakan sebuah karya seni, tak pernah salah. Jika terjadi kesalahan, tentu kesalahannya terletak pada manusia penciptanya dan pembawanya. Lagu dangdut yang berlirik sopan akan jadi masalah besar manakala dibawakan oleh penyanyi yang bergaya erotis. Sebaliknya, lagu dangdut yang berlirik menjurus porno, tak akan pernah berpengaruh ketika tak ada penyanyi yang melantunkannya, manatah lagi mendengarkannya. Jadi marilah teman-teman, selalulah bersikap arif dalam menyikapi sebuah karya seni, selalu bersikap selektif dan waspada, demi kebaikan kita bersama, terutama kebaikan anak-anak kita.

Salam sayang,

Anni

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 7 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 8 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 9 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 10 jam lalu

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Dilema Pinjam-Meminjam Buku …

Much. Khoiri | 8 jam lalu

Waspada, Ancaman Katup Jantung Bocor pada …

Yuni Astuti | 8 jam lalu

United Kalah, Wujud Kerinduan Hairdryer …

Aristo Setiawan | 8 jam lalu

Kolaborasi Rasa …

Puji Anto | 8 jam lalu

Ramping Itu Artinya Wamen dan Staff Ahli …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: