Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Rahmat Fajar

Bekerja dan bermanfaat untuk masyarakat !!

Ketika Suara-suara Itu Tidak Terdengar Lagi…

OPINI | 30 April 2013 | 14:32 Dibaca: 229   Komentar: 0   1

Sore itu suasana terasa tentram dan tenang. Alam yang hening yang tidak dirusak dengan hiruk pikuk hiburan telah membuat suasana peralihan dari mentari kepada purnama kian anggun di tempat yang penuh dengan sahaja itu. Dari kejauhan terdengar lantunan dan suara anak-anak kecil yang menyanyikan lagu-lagu Ilahiyah yang terdengar sangat merdu dan indah. Terlihat keramaian anak-anak kisaran Sekolah Dasar sedang asik dan khidmat melagukan pesan-pesan Allah itu. Sesekali kita akan dapatkan tawa mereka sesekali keluar dari wajah mereka yang memanglah masih sangat “putih” itu. Suasana itu semakin memperindah kondisi di suatu wilayah di daerah pinggiran kota Jakarta itu.

Ya, memang ada culture yang menarik di daerah tersebut pada setiap sehabis sholat maghrib. Keramaian masyarakat dan hiruk-pikuk kesibukkan masyarakat secara langsung terhenti. berubah menjadi suatu kondisi yang menentramkan tadi. Masyarakat di daerah itu menjadi masyarakat yang dekat dengan “Wajah Indonesia” yang sesungguhnya. Kita akan dapati sekumpulan anak yang asik dengan bahan dan materi pengajian pada setiap harinya. TPA-TPA hidup dengan sangat subur di sana. Orang tua- orang tua menjadi sangat malu jika mengetahui anaknya tidak mengikuti pengajian layaknya anak-anak yang lain.  Ya. itulah gambaran di wilayah Kramat Jati pada beberapa belas tahun yang lalu.

Kini, semua telah berubah. Wilayah yang awalnya sangat anggun itu, kini telah menjadi wilayah yang rasanya telah terpengaruh arus modernisasi atau mungkin westrenisasi prematur. Dan mungkin itu pula menjadi gambaran secara umum bagaimana Jakarta dan mungkin Indonesia pada hari-hari ini.

Pengajian-pengajian atau TPA-TPA menjadi barang yang sulit untuk kita temukan. Anak-anak yang asik dan sibuk untuk menghafal tugas-tugas pengajiannya menjadi barang langka bagi kita pada hari ini. Kita mungkin juga menjadi salah satu orang yang kemudian sulit untuk mendapatkan kumpulan-kumpulan anak-anak usia sekolah dasar yang berangkat menuju TPA-TPA mereka. Padahal, kita mungkin pada masa-masa yang lalu adalah bagian dari mereka.

Hari-hari ini, kita malah lebih sering mendapati anak-anak kita itu kini menjadi salah satu “makhluk aneh” penghuni rumah-rumah kita. Mereka menyibukkan diri dan asik dengan gadget mereka. Blackberry, Android dan berbagai macam perlengkapan itu akhirnya membuat mereka semakin tidak memiliki arah dan gaya yang jelas. nyanyian-nyanyian indah mereka dalam pengajian-pengajian itu telah berubah menjadi nyanyian-nyanyian kegalauan dari grup Band yang “aneh” dengan segala rupa mereka. padahal, dulu kita dibanjiri dengan nyanyian-nyanyian anak yang membuat hati menjadi riang. Bahkan anak-anak yang menyanyikan zaman kita dulu lebih sering menyanyikan lagu-lagu anak, kini mereka malah diasikkan dnegan lagu-lagu “TUA” dengan tema Cinta dan Pacaran. Padahal kata yang terakhir kita dengar ini dulu adalah kata yang tabu untuk kita ucapkan.

Kini, kita juga dapati rasa malu nya orang tua yang melihat anaknya tidak mengikuti les pelajaraan daripada anaknya yang tidak mengikuti pengajian. atau keengganan orang tua untuk membangunkan anaknya yang sedang tertidur padahal ada pengajian yang harus diikutinya. Namun rasa “tega” nya orang tua yang membangunkan anaknya yang sedang tertidur karena harus mengukuti les pelajaran.

Semua itu pulalah yang membuat semakin “aneh” nya kasus pelanggaran yang dilakukan oleh anak-anak kecil pada saat ini. Kisah seorang anak kelas 6 SD yang menghamili anak kelas 5 SD, Kisah anak SMP yang membunuh temannya hanya karena coretan tentang sekolahnya yang dicoret. Dan segudang kisah keburukan yang melanda bangsa ini yang dilakukan oleh anak-anak usia Sekolah Dasar.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Taufik Mihardja dalam Sepenggal Kenangan …

Pepih Nugraha | | 27 August 2014 | 22:34

Ini yang Harus Dilakukan Kalau BBM Naik …

Pical Gadi | | 27 August 2014 | 14:55

Cinta dalam Kereta (Love in The Train) …

Y.airy | | 26 August 2014 | 20:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Hilangnya Acara Budaya Lokal di Televisi …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Lamborghini Anggota Dewan Ternyata Bodong …

Ifani | 11 jam lalu

Cara Mudah Latih Diri Agar Selalu Berpikiran …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

3 Kebebasan di K yang Buat Saya Awet Muda …

Hendrik Riyanto | 13 jam lalu

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: