Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sungkem, Mohon Doa Restu Orang Tua akan Perkawinan Kita

OPINI | 29 April 2013 | 19:40 Dibaca: 5456   Komentar: 4   4

1367238867854212313

Sungkem, mohon doa restu ayahanda.

Dalam upacara ( bukan pesta lho… ) perkawinan, saat paling mengharukan adalah saat sungkem pada orang tua atau sungkeman. Sangat mengharukan karena pada saat itulah orangtua telah merasa berhasil menuntaskan putra-putrinya menuju kemandirian membentuk keluarga. Bagi sang mempelai juga merupakan peristiwa yang amat dinantikan untuk mohon restu pada orangtua untuk hidup berkeluarga.

Sebagai peristiwa yang amat mengharukan, tentunya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar acara sungkeman berjalan dengan baik, bukan sekedar seremonial belaka yang justru kadang menjadi lelucon yang tak diharapkan.

Pertama, sungkem sebaiknya dilakukan ketika akan pelaksanaan akad nikah ( penerimaan sakramen perkawinan bagi Kristiani ). Kepada siapa pertama kali kita sungkem, terserah pihak keluarga atau pengantin menentukan. Ada pendapat kepada ibu dulu, karena beliau yang melahirkan kita. Ada yang berpendapat kepada ayah, karena beliau adalah kepala keluarga dan masyarakat kita berpaham paternalistis.

Ke dua, sungkem merupakan tanda penghormatan dan permohonan doa restu kepada orangtua yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik kita. Maka pada saat sungkem kita betul-betul mengucapkan kata-kata permohonan. Bukan lewat ucapan pembawa acara, pranata cara, atau MC dengan kalimat-kalimat majemuk bertingkat nan indah puitis membuai tapi tanpa makna. Sedangkan sang pengantin hanya bersujud atau bersimpuh di kaki orangtua tanpa kata terungkap kecuali suara mendesis wis….wis….wis…. atau sekedar mengkomat-kamitkan bibir seperti dukun membaca mantra!

13672389971749726039

Sungkem bukan sekedar mencium kaki Ibunda!

Ke tiga, sebagai peristiwa yang mengharukan tentunya kita akan terbuai dan menitikkan airmata sebagai tanda kebahagiaan. Bukan titik airmata yang membawa kepedihan, sehingga harus membanjiri pipi yang telah dipoles dengan make up hingga luntur. Maka tak perlu menangis ( dan wajib menahan diri… ) sendu seperti saat berduka….

Ke empat, sekalipun acara sungkeman telah dilaksanakan sebelum akad nikah, upacara sungkeman secara adat tetap bisa dilaksanakan. Namun sebaiknya, pada acara keluarga dan bukan pada saat pelaksanaan pesta dengan dilihat para undangan, apalagi di gedung.

Semoga catatan pengalaman penulis menjadi EO Perkawinan Tradisional Gaya Jawa ini bisa menambah wawasan jika suatu saat akan menikah atau akan mantu. Salam

13672391121053686672

Doa dan restumu…..

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 10 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 12 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 13 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 14 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 11 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 11 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 11 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 12 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: