Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sungkem, Mohon Doa Restu Orang Tua akan Perkawinan Kita

OPINI | 29 April 2013 | 19:40 Dibaca: 6048   Komentar: 4   4

1367238867854212313

Sungkem, mohon doa restu ayahanda.

Dalam upacara ( bukan pesta lho… ) perkawinan, saat paling mengharukan adalah saat sungkem pada orang tua atau sungkeman. Sangat mengharukan karena pada saat itulah orangtua telah merasa berhasil menuntaskan putra-putrinya menuju kemandirian membentuk keluarga. Bagi sang mempelai juga merupakan peristiwa yang amat dinantikan untuk mohon restu pada orangtua untuk hidup berkeluarga.

Sebagai peristiwa yang amat mengharukan, tentunya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar acara sungkeman berjalan dengan baik, bukan sekedar seremonial belaka yang justru kadang menjadi lelucon yang tak diharapkan.

Pertama, sungkem sebaiknya dilakukan ketika akan pelaksanaan akad nikah ( penerimaan sakramen perkawinan bagi Kristiani ). Kepada siapa pertama kali kita sungkem, terserah pihak keluarga atau pengantin menentukan. Ada pendapat kepada ibu dulu, karena beliau yang melahirkan kita. Ada yang berpendapat kepada ayah, karena beliau adalah kepala keluarga dan masyarakat kita berpaham paternalistis.

Ke dua, sungkem merupakan tanda penghormatan dan permohonan doa restu kepada orangtua yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik kita. Maka pada saat sungkem kita betul-betul mengucapkan kata-kata permohonan. Bukan lewat ucapan pembawa acara, pranata cara, atau MC dengan kalimat-kalimat majemuk bertingkat nan indah puitis membuai tapi tanpa makna. Sedangkan sang pengantin hanya bersujud atau bersimpuh di kaki orangtua tanpa kata terungkap kecuali suara mendesis wis….wis….wis…. atau sekedar mengkomat-kamitkan bibir seperti dukun membaca mantra!

13672389971749726039

Sungkem bukan sekedar mencium kaki Ibunda!

Ke tiga, sebagai peristiwa yang mengharukan tentunya kita akan terbuai dan menitikkan airmata sebagai tanda kebahagiaan. Bukan titik airmata yang membawa kepedihan, sehingga harus membanjiri pipi yang telah dipoles dengan make up hingga luntur. Maka tak perlu menangis ( dan wajib menahan diri… ) sendu seperti saat berduka….

Ke empat, sekalipun acara sungkeman telah dilaksanakan sebelum akad nikah, upacara sungkeman secara adat tetap bisa dilaksanakan. Namun sebaiknya, pada acara keluarga dan bukan pada saat pelaksanaan pesta dengan dilihat para undangan, apalagi di gedung.

Semoga catatan pengalaman penulis menjadi EO Perkawinan Tradisional Gaya Jawa ini bisa menambah wawasan jika suatu saat akan menikah atau akan mantu. Salam

13672391121053686672

Doa dan restumu…..

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Ikuti Blog Competition ā€¯Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 9 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 10 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 11 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: