Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Aly Taufiq

Pernah kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Ilmu Al-qur"an (PTIQ) Jakarta (Lulus 2009). Saat selengkapnya

Pemimpin “Ayam Potong”

OPINI | 29 April 2013 | 16:36 Dibaca: 183   Komentar: 0   0

Oleh : Aly Taufiq

Suatu hari, seorang teman berkata : “Tahukah kamu, hidup nyaman dengan fasilitas wah yang serba memudahkanmu akan membuat dirimu lemah, bahkan otakmu akan menjadi tumpul.” Sesaat saya menyanggah, apa benar demikian? Bukankah selama ini kemudahan akan mendatangkan nilai tambah. Misalnya, jika saya kaya, tentu akan mudah memilih sekolah dan jurusan yang saya mau. Saya juga mudah memilih perguruan tinggi yang berkualitas di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Atau saya akan lebih mudah membeli buku atau membeli teknologi canggih, Gadged, ipad atau iphone untuk hunting referensi. Kok otak bisa tumpul?

Teman saya tak mau kalah atas sanggahan tersebut. Ia kemudian memberi analogi tentang hewan. Ia menjelaskan perbedaan keterampilan hewan liar dan hewan yang ‘dimanja’ dalam sangkar. Lebih tepatnya, perbedaan ayam kampung dengan ayam potong. “Keduanya mempunyai karakter yang berseberangan,” katanya.

Ayam potong selalu berada dalam “pendopo”. Ia diberi banyak fasilitas dan kemudahan. Makan dan minum tak perlu repot ceker-ceker di kebun orang. Setiap hari ia hanya makan dan tidur. Badannya gemuk dan bersih. “Namun tahukah kamu?” kata teman itu kepadaku dengan tegas. “Ayam potong tidak terlatih mencari makan sendiri. Ia begitu rapuh dengan keganasan alam. Jangankan mencari makan untuk saudaranya, makan untuk dirinya sendiripun sulit. Ayam potong juga tak terbiasa menangani permasalahan besar dan rumit, karena semasa hidupnya tak pernah menemui masalah besar. Hidupnya selalu instan dan hanya memikirkan dirinya sendiri.”

Lalu ia melanjutkan. “Sedangkan ayam kampung, ia terbiasa hidup di alam bebas. Setiap pagi bangun menatap mentari dengan semangat. Bagaimana gak semangat, kalau gak keluar kandang ia akan mati kelaparan. Sejak kecil, ia diajari oleh ibunya mencari makan di pekarangan-pekarangan tetangga. Dilempar batu atau dipukul sapu oleh si tukang kebun adalah sarapan paginya. Ia kerapkali menghadapi beragam masalah. Bahkan masalah sepertinya menjadi sahabatnya. Lambat laun, otak ayam kampung berkembang. Ia terlatih menghadapi masalah besar, sehingga suatu saat ia akan pantas menjadi pemimpin kerajaan ayam.”

Sejenak saya berfikir, memang ada benarnya perkataan teman saya, namun tidak sepenuhnya tepat dalam konteks kepandaian dalam pengertian prestasi akademik. Dalam ketajaman berfikir akademik dan teoritis, ayam potong, atau orang yang diberi kemudahan, akan lebih mudah mendapatkan prestasi belajar. Ia juga lebih mudah mencapai gelar doktor, karena apa yang ada di sekelingnya sangat mendukung. Namun di sisi lain, ayam potong tidak sepenuhnya mengerti tentang realitas dan problem yang dihadapi di lapangan. Ia akan tercerabut dari realitas, karena ia hidup hanya berdasarkan teori yang tertulis dalam buku. Padahal realitas itu lebih luas dari pada buku.

Sedangkan ayam kampung, atau seorang yang hidup tirakat dan sering menghadapi kegetiran, ia sudah terbiasa merasakan penderitaan rakyat kecil. Ia lebih peka dengan permasalahan yang dirasakan di lapangan. Meskipun tak begitu pandai dalam prestasi akademik, meskipun selalu lulus dengan nilai yang kemelut (bukan cumlaude), ayam kampung terlatih menyelesaikan masalah besar.

Nah, selanjutnya, karakter manakah yang kita butuhkan untuk memimpin bangsa yang carut marut ini?

Di alam demokrasi yang serba terbuka ini, kedua tipe ‘ayam’ tersebut mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi, presiden, Gubernur atau Wali kota. Namun, manakah yang lebih lihai memimpin?

Dalam beberapa literature atau media, selalu tertulis bahwa kita membutuhkan seorang pemimpin yang berintegritas, jujur dan peka terhadap problematika bangsa. Kita membutuhkan pemimpin yang dapat “mengindra” perasaan rakyat. Kita membutuhkan pemimpin yang menyatu dengan aroma tanah dan seluk beluknya. Seorang pemimpin harus berdiri tegak dengan kaki sendiri di atas tanah.

Benar sekali apa yang dikatakan literature dan media itu. Kita membutuhkan pemimpin yang membumi. Prestasi akademik tidak begitu penting, meskipun kita masih kikuk untuk mengatakan tidak perlu. Kita membutuhkan pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah. Buat apa pandai secara akademik tetapi tidak mampu “mengindra” penderitaan umatnya.

Mungkin inilah alasan Tuhan “membuang” Nabi Adam ke bumi setelah “disekolahkan” di Surga. Adam menginjak di bumi karena ia akan menjadi khalifah di bumi. Ia belajar merasakan sesuatu yang nantinya dirasakan oleh umatnya. Memimpin bumi membutuhkan ilmu bumi, bukan ilmu langit. Yaitu Ilmu manusia, bukan ilmu malaikat. Adam tak mungkin bisa menjadi khalifah jika hanya sekolah di Surga dengan fasilitas yang serba mudah. Ini juga yang menyebabkan Tuhan menolak mentah-mentah protes malaikat atas titah Khalifah di bumi kepada Adam.

“Dan kami selalu bertasbih kepadaMU dan menyucikanMu”. Ungkapan itu menjadi satu-satunya argumentasi Malaikat atas kepantasan dirinya menjadi pemimpin di bumi dari pada Adam yang sering “membuat kerusakan”. Tapi Tuhan berkata lain, tasbih dan penyucian tidak cukup untuk mengelola bumi. Pemimpin di bumi harus berjibaku dengan hal-hal yang “jijik” dan “kotor”. Pemimpin di bumi harus mempunyai ambisi dan nafsu. Malaikat tidak mempunyai itu. Pemimpin di bumi harus sedikit “cerdik” dan “nakal”.

Kita kembali pada persoalan ayam. Marilah kita menengok latar belakang pemimpin-pemimpin kita. Soekarno misalnya, apakah ia ayam potong, atau ayam kampung?

Siapa yang berani meragukan kelihaian Soekarno dalam memimpin. Nama dan wajahnya tak pernah benar-benar lumat. Puluhan tahun Orde Baru berusaha meruntuhkan kewibawaan dan membenamkan namanya, justru malah semakin menjadi ikon.

Soekarno talah merasakan perih getir kehidupan bersama rakyat. Saat ia lahir, sang bapak, Raden Soekemi Sosrodiharjo bahkan tak mampu memanggil dukun beranak. Ia lahir dengan persalinan sederhana melalui tangan seorang kawan keluarga.

Saat menempuh pendidikan di kampus, Soekarno tidak memposisikan dirinya seperti “ayam potong” yang diam dan makan menikmati fasilitas mewah. Soekarno aktif di berbagai organisasi pemuda hingga ia meninggalkan kuliah selama dua bulan.

Petualangan dinamis dan keganasan alam juga dialami oleh pemimpin-pemimpin yang berpengaruh seperti jenderal Soedirman, Hatta, Tan Malaka, Syahrir hingga Abdurrahman Wahid.

Dari sini dapat disimpulkan, semua pemimpin besar lahir dari realitas dinamis yang serba menyulitkan. Tak ada pemimpin besar yang lahir “karbitan” dan instan. Nah, belakangan ini media sering mengelukan pemimpin muda seperti Edy Baskoro, Puan Maharani, Yenni Wahid. Pertanyaannya, apakah mereka kategori “Ayam Kampung”? Rasanya masih kikuk untuk menjawab “iya”.

Yah, intinya, apa yang saya tulis tersebut adalah satu sisi saja dari sekiaan banyak aspek yang harus dialui oleh pemimpin. Tapi pada intinya, Indonesia tidak butuh pemimpin seperti “Ayam Potong”.

Lebak Bulus, 28 April 2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Haruskah Jokowi Blusukan ke Daerah Konflik …

Evha Uaga | | 19 December 2014 | 12:18

Artis, Bulu yang ‘Terpandang’ di …

Sahroha Lumbanraja | | 19 December 2014 | 16:57

Jalanan Rusak Kabupaten Bogor Bikin …

Opi Novianto | | 19 December 2014 | 14:49

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 10 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: