Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Rachmad Gempol

RACHMAD YULIADI NASIR, Saya adalah seorang Gelandangan Politik…Sering-seringlah baca ayat kursi…amin… www.facebook.com/rachmad.gempol www.twitter.com/rachmadgempol Email:rachmad.gempol@yahoo.com, Semoga seumur hidup selengkapnya

Gubernur Jenderal DKI Jakarta

REP | 26 April 2013 | 15:03 Dibaca: 1070   Komentar: 0   0

JAKARTA-GEMPOL, Sejarah berulang di kota Metropolitan ini. Beberapa hari yang lalu telah hadir kembali tempat yang bersejarah untuk berbagai kalangan yang menyenangi objek sejarah. Tempat ini mengusung thema sejarah, romansa dan budaya Indonesia bernama Gedung Kunstkring di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Kita perhatikan bahwa Kata Kunstkring berasal dari bahasa Belanda yang artinya Lingkaran Seni. Mereka ini adalah sekelompok orang-orang seni yang ingin menggairahkan kegiatan seni modern dan dekoratif di tanah jajahan.

Sebelum mendirikan gedung sendiri, kegiatan-kegiatan Kunstkring seperti malam penggalangan dana dan pertemuan-pertemuan seni dulunya diselenggarakan di gedung-gedung lain seperti Eastern Star Masonic Lodge atau di Royal Naturalists Society.

Setelah bertahun-tahun mengumpulkan dana, akhirnya gedung Kunstkring pun berhasil dibangun dan dibuka pada tanggal 17 April 1914. Awalnya, Kunstkring yang menjadi ajang pameran dan pusat belajar bagi para seniman muda sempat dipandang sebelah mata oleh para kritikus karena hanya memamerkan karya-karya artis “belajaran”. Namun dalam perjalanannya, Kunstkring berevolusi menjadi arena seni multifungsi dan menumbuhkan seniman-seniman profesional.

Di masa kejayaannya, berbagai pameran digelar disini, mulai dari karya “yang tak keruan kelasnya” hingga kerajinan ukiran Bali yang luarbiasa indah dan bahkan menjadi tuan rumah bagi lukisan-lukisan kelas dunia karya Vincent Van Gogh, Pablo Picasso, Paul Gauguin, dan Marc Chagall.

Tak hanya tempat pameran, Kunstkring juga menjadi ajang pertemuan para insan kreatif di Batavia. Mereka biasa duduk-duduk di café Stam en Weynes sambil menyesap wine dan santap siang. Tahun 1934-1939 benar-benar menjadi masa gemilang Kunstkring sebagai oase seni di tanah jajahan.

Setelah sempat ramai diberitakan melanggar peruntukan gedung ini “BUDHA BAR” akhirnya ditutup dan dibuka kembali pada 17 April 2013. Disana terdapat lukisan THE FALL OF JAVA, sebuah lukisan raksasa berukuran 9×4 meter yang berkisah tentang penangkapan Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830 dirumah Residen Magelang sebagai akibat tipuan dan ingkar janji dari Jenderal De Kock.

Sepanjang sejarah lukisan, adegan penangkapan Pangeran Diponegoro hanya pernah dilukis oleh J.W. Pieneman dan Raden Saleh. Pada lukisan The Fall of Java merupakan lukisan ketiga di dunia yang menggambarkan salah satu peristiwa sejarah paling ikonik di Indonesia ini. lukisan ini berada di Ruang Pangeran Diponegoro.

Di dalam lukisan dramatis ini pelukis menggambarkan dirinya sedang mempersembahkan sebuah cawan berisi air minum terakhir kepada sang Pangeran sebelum Belanda membuangnya ke Menado pada tahun 1830. Itulah titik dimana Perang Jawa berakhir.

Sebuah perlawanan besar-besaran dari anak bangsa, berlangsung selama lima tahun tahun dan hampir membangkrutkan pemerintah kolonial. Penangkapan Diponegoro adalah sebuah kejadian yang begitu tragis hingga sang pelukis memberinya simbol sebagai momentum “Jatuhnya Pulau Jawa”.

Dalam pembukaan kembali gedung Kunstkring ini, Jokowi berkenan hadir, akan tetapi terlambat 2 jam karena hujan lebat. Pembukaan ini bertepatan dengan peringatan 99 tahun usia gedung Kunstkring ini (17 April 1914 - 17 April 2013).

Pada saat pembukaan dan penarikan selubung kain penutup lukisan Pangeran Diponegoro, Jokowi berkata,” ‎Bismillahir Rahmanir Rahim, Dengan rahmat Allah, Bila dahulu Gubernur Jenderal Belanda membuka gedung ini maka sekarang Gubernur Jenderal DKI Jakarta yang membukanya.”

Kemudian Jokowi berkeliling gedung seni ini melihat-lihat beberapa karya seni serta berfoto bersama dengan tamu lainnya.

Banyak tamu-tamu penting yang datang seperti mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso bersama Istri dan anaknya Renny yang pernah mengelola gedung Kunstkring “Budha Bar” serta tamu dari pecinta seni lainnya. Renny Sutiyoso mengatakan bahwa, “Syukurlah gedung Kunstkring ini akhirnya kembali kepada peruntukannya semula yaitu galeri seni budaya.”

Hari menjelang tengah malam ketika satu persatu tamu meninggalkan gedung Kunstkring ini menuju ke tempat tinggal masing-masing.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 13 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 13 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 14 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Donor Darah di Perancis …

Bayu Teguh | 11 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 12 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 12 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: