Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Rika Prasatya

i'm proud to be Indonesian

Tidak Perlu Takut Jika RUU Ormas Disahkan

OPINI | 25 April 2013 | 09:29 Dibaca: 97   Komentar: 1   0

RUU Organisasi Masyarakat (Ormas) masih terus menuai pro dan kontra. Beberapa pihak yang kontra terhadap pengesahan RUU Ormas, menilai bahwa RUU Ormas terlalu banyak mengatur administrasi dan menerapkan rezim perijinan. RUU Ormas juga dinilai akan membangkitkan rezim represif dan otoriter. Jika RUU ini disahkan akan menginjeksi mati ormas-ormas yang kini mulai tumbuh subur di Indonesia. Selain itu, RUU ini juga dinilai sarat kepentingan ekonomi, politik, kekuasaan, dan pemodal.

Sementara itu, tidak sedikit juga pihak yang pro, yang menilai bahwa RUU ini akan dapat mengatur dan mengawasi organisasi maupun LSM asing yang beraktivitas di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan, banyak kepentingan asing yang menyelundup melalui ormas. Selama ini masih belum ada aturan yang mengawasi keberadaan LSM atau ormas asing yang dapat membahayakan kedaulatan NKRI. Selain itu, RUU Ormas juga tidak akan membatasi gerakan ormas. Inilah yang menjadi dasar mengapa RUU Ormas harus segera disahkan.

Jika dikaji kembali, UU Ormas Nomor 8 Tahun 1985 sudah tidak sesuai dengan amandemen UUD 1945 dan tidak mengakomodasi masyarakat. Dalam UU Ormas lama ini sanksi terhadap ormas justru jauh lebih ketat dibandingkan RUU Ormas. RUU ini juga tidak bertujuan untuk mengembalikan Indonesia seperti era Orde Baru.

Oleh karena itu, disahkannya RUU Ormas ini seharusnya tidak perlu diperdebatkan karena tidak akan ada pihak yang dirugikan jika memang sudah sesuai dengan aturan. Saat ini bukanlah era Orde Baru yang membatasi masyarakatnya untuk berpendapat. Pemimpinpun telah beda sehingga Indonesia tidak akan dikembalikan ke jaman seperti Orde Baru.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Kasus PR Habibi, ketika Guru Salah Konsep …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 13 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 14 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 15 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 8 jam lalu

(H-16) Jelang Piala Asia U-19 : Uzbekistan …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Pingin Body Kayak Artis …

Ifani | 8 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Diari Santri: #7 Tamu Misterius …

Syrosmien | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: