Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Dodita -

Ingin Maju dan Sukses bersama Kompasiana

Pacu Jalur; Menutupi Kealpaan akan Sebuah Tradisi

HL | 25 April 2013 | 17:55 Dibaca: 389   Komentar: 0   2

1366905234267294642

Ilustrasi/Admin (kompas.com)

Kabupaten kuantan singingi tak lama lagi akan kembali menggelar event nasional pacu jalur yang diperkirakan akan dihelat juni 2013 mendatang. negeri yang terkenal dengan slogan daerah “basatu nagori maju” ini, akan menarik ribuan pasang mata para wisatawan baik domestic maupun asing, dengan tontonan olahraga yang kental dengan aroma seni dan budaya.

Mengunjungi satu kampung ke satu kampung yang lain diwilayah ini, kita akan melihat begitu besarnya antusias masyarakat mempersiapkan diri menyambut pagelaran event tahunan itu. segenap unsur masyarakat dan pemerintah desa, saling bekerjasama terutama dalam mempersiapkan jalur yang akan turun di gelanggang batang kuantan, tempat kompetisi pacu jalur dilangsungkan.

Berbeda dengan kampung lain, suasana yang begitu mencolok terkait persiapan ini saya dapati di desa seberang taluk, kecamatan kuantan tengah, awal bulan ini. desa yang terdiri dari tiga dusun ini, baru saja mengadakan tradisi pendiangan jalur atau melayur jalur, yakni proses memanaskan jalur menggunakan bara api, yang bertujuan untuk mengembangkan bukaan jalur atau melebarkan diameter jalur sehingga dapat menampung muatan yang lebih banyak.

Tradisi melayur jalur sejak dahulu lazim digelar malam hari, dengan rangkaian acara yang menyertai. ada acara makan basamo, acara hiburan randai, dan acara hiburan lain yang mengiringi proses melayur jalur. apalagi, desa seberang taluk mengundang khusus bupati kuantan singingi sukarmis, untuk hadir ikut melayur jalur. wajar saja, jika perayaan tradisi ini terbilang cukup meriah, walaupun sempat diguyur hujan.

Proses melayur jalur, selanjutnya berlangsung hingga keesokannya paginya, yang dilakukan para pemuda pemudi setempat. menurut cerita, ditengah panasnya kobaran api yang memanaskan jalur inilah, benih-benih cinta diantara muda-mudi pun bersemi.

Menurut kepala desa seberang taluk emil harda, jalur yang dilayur ini merupakan generasi penerus dari jalur sebelumnya yang bernama ‘gagak hitam’. Jalur yang ditukangi khairun, pria asal inuman ini direncanakan akan diberi nama ‘penantian batang kuantan’.

Melayur jalur merupakan satu bagian dari rangkaian proses pengerjaan sebuah jalur yang berlangsung kolosal. menyaksikan prosesi dalam setiap pengerjaan jalur tersebut kini menjadi daya tarik tersendiri dan juga dapat menambah wawasan terutama bagi wisatawan yang tengah melancong ke kuantan singingi.

Menurut pengakuan salah seorang yang telah lama menekuni pembuatan jalur, ali rauf, pacu jalur pada zaman dahulu merupakan permainan biasa, yang dilakukan antar satu kampung dengan kampung lain yang berada dipinggiran sungai kuantan. dimasa agresi belanda, permainan tradisional ini kemudian diberi hadiah, dan digelar rutin setiap 30 agustus dalam rangka memperingati ulang tahun ratu belanda, ratu wilhelmina.

Sebagai permainan tradisional, kegiatan ini dulunya memiliki keunikan tersendiri, seperti pedayung atau yang biasa disebut anak jalur, dahulunya dikhususkan bagi laki-laki yang telah bertunangan. Biasanya, setiap anak jalur akan turun pacu, pihak perempuan akan memberikan sehelai tikar sebagai alas duduk bagi tunangannya saat berada diatas jalur. sayangnya, ketentuan tak tertulis tersebut, sudah tidak berlaku lagi pada setiap event pacu jalur yang digelar saat ini.

Di indonesia, pengerjaan sebuah jalur yang dilakukan secara kolosal oleh suatu kaum dengan seni ukiran dan ritualisme tersebut barangkali hanya ada di kuantan singingi. Ada nilai-nilai luhur budaya yang menyelip dalam setiap pembuatan dan pengerjaan sebuah jalur, misalnya semangat kebersamaan serta jiwa gotong royong dari setiap warga. Mulai dari mencari pohon, menebang, menariknya hingga ke kampung, dan membuat bentuk jalur hingga mempercantiknya dengan cat dan ukiran, dahulunya dilakukan dengan balutan aturan dan ritual khusus.

Pohon yang akan diambil kayunya sebagai jalur, dipilih dan ditentukan oleh seseorang pawang atau orang yang dipercaya dalam memilih kayu. setelah didapat pohon yang hendak ditebang, kesepakatan pun kembali dilakukan antar orangorang tua, tentang waktu dilakukan penebangan.

Setelah tiba pada saat penebangan, ada beberapa prosesi ritual lagi yang akan berlangsung, seperti berdoa meminta izin menebang, dan memohon kelancaran saat penebangan . saat mulai menebang, juga ada satu keyakinan dikalangan masyarakat kuansing, bahwa kulit pohon yang lepas pada tiga tebangan pertama akan disimpan. konon menurut cerita, jika kulit kayu ini dibawa saat pacu jalur berlangsung, akan membawa kemenangan pada jalur tersebut.

Setelah proses penebangan rampung, maka proses berlanjut ke acara maelo atau menarik jalur dari hutan ke kampung. proses ini dahulunya mendapat perhatian banyak dari berbagai kalangan masyarakat, terutama muda-mudi. namun sayangnya, tradisi ini sudah sangat langka dilakukan masyarakat, bukan karena masyarakat yang alpa pada tradisi, namun disebabkan karena lokasi penebangan kayu yang sangat jauh dari kampung. betapa tidak, saat ini rata-rata kayu yang digunakan untuk membuat jalur tidak lagi berasal dari hutan rimba wilayah ini, namun sudah banyak diambil dari rimba di kabupaten lain di riau, seperti salahsatunya pelalawan. jauhnya lokasi itu, menyebabkan kayu harus diangkut menggunakan kendaraan, dengan konsekuensi tradisi maelo jalur, secara tak langsung menjadi luntur.

Setelah kayu sampai diperkampungan, proses membuat jalur segera dilakukan. kaum laki-laki, baik pemuda maupun orang tua, bersama-sama mengerjakan proses pembentukan jalur. proses pertama yang dilakukan yakni membuang kulit dan membentuk kayu menjadi jalur. proses pembentukan jalur ini sendiri memakan waktu lebih kurang dua minggu, atau sekurang-kurangnya sepuluh hari jika dilakukan setiap hari.

Setelah terbentuk, proses selanjutnya yakni mendiang jalur atau melayur jalur sebagaimana yang telah saya beberkan diawal. Usai dilayur, jalur akan dibiarkan selama satu minggu, agar proses bukaan badan jalur benar-benar sempurna.

Berbicara tentang bukaan atau daya tampung sebuah jalur, umumnya jalur besar menampung 49 hingga 51 anak jalur. sementara untuk jalur mini, dalam aturan yang telah disepakati dalam setiap kompetisinya, harus menampung maksimal 15 anak jalur.

Nah, jalur yang sudah siap digunakan untuk setiap pacu jalur telah terlapisi cat dan ukiran dengan motif dan filosofi tersendiri. setiap jalur, akan bertahan lima hingga sepuluh tahun, selama proses perawatannya benar-benar dijaga. untuk menjaga ketahanan sebuah jalur, maka setiap jalur dibuatkan rumah tersendiri yang melindungi jalur dari panas dan hujan.

Bagi masyarakat kuantan singingi, jalur tidak sekedar sebuah instrumen bagi sebuah kompetisi pacu. jalur, telah menjadi perlambang kebersamaan, kegotongroyongan, dan perekat dalam menutupi kealpaan akan sebuah tradisi.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47

Ibu Renta Itu Terusir …

Muhammad Armand | | 22 December 2014 | 09:55


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 8 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 9 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 11 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 12 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: