Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Marlina Historia

penulis yang ingin menyampaikan keindahan alam semesta dan ruang waktu

Mengapa Eistein Belum Lahir Kembali?

OPINI | 25 April 2013 | 16:04 Dibaca: 98   Komentar: 0   0

Dalam berbagai hal memang, kemajuan zaman membuat titik jenuh. Jenuh akan kemajuan itu sendiri pula. Segala teknologi membuat nyaman manusia dan bahkan organ-organ manusia fungsinya tak dapat dimaksimalkan lagi karena segala bentuk teknologi menggantikan peranan fungsi itu. Walau tidak secara keseluruhan namun begitu berpengaruh dalam jangka panjang. Untuk berjalan kaki tergantikan dengan Mobil, dan sepeda motor. Untuk menulis digantikan oleh Leptop, Untuk belajarpun secara tatap muka tidak zamanya lagi, belajar jarak jauh dengan memanfaatkan internet pun bisa. Sampai sekarang segala pertanyaan akan muncul jawabanya tanpa mencari guru, ustad atau dukun cukup dengan search google semua teratasi. Aku pun memanfaatkan bagian dari kemudahan teknologi itu.

Kemudahan itu yang mungkin membuat manusia kehilangan kemampuanya untuk berpikir. Lama sudah sering dibandingkan antara negera indonesia dan barat. Hal yang membuat barat banyak melahirkan penemu-penemu hebat karena cuaca dan iklim serta kondisi medan bumi yang sulit sehingga otak mereka dipacu untuk berpikir. Ketika mereka sulit berpergian jarak jauh karena cuaca mereka berpikir untuk bagaimana cepat sampai, ketika masakan mereka tak bertahan cukup lama karena cuaca membuat mereka tak dapat mencari makanan membuat mereka mengawetkan makanan. Kemudian bandingkan dengan negera kita, buat apa pergi jauh-jauh karena dekatpun semua terpenuhi, buat apa mengawetkan makanan semuanya bisa tersedia dengan alam yang melimpah ruah. Namun apakah itu memang benar??? Pendapat itu ingin aku patahkan dengan perbandingan yang lain

Bila banyak orang menyalahkan kondisi yang membuat persebaran penemu hanya dibarat. Saya akan menguak komparasi yang lain. Bukan Indonesia dengan barat, sekarang bandingkan saja Afrika dan Eropa. Di Afrika apakah manusia mudah dan diberi kemudahan?? Mungkin keterbelakangan zaman sekarang yang mereka alami banyak faktor namun jika bercermin zaman dahulu alam yang membuat mereka sulit karena dalam guruh dan berpasir. Jika memang otak bisa dibentuk oleh keadaan, siapa penemu yang terkenal dari Afrika yang sampai sekarang manusia masih menikmati penemuan itu?? Bila apartaid dulu digaungkan pun itu hanya berdampak wilaayah tersebut sekarang hal seperti itu masih tetap ada dengan membanding-bandingkan warna kulit. Munafik bila pria atau remaja sekarang bangga akan kulit pacarnya yang hitam. Itu menggambarkan jelas bahwa manusia masih dibanding-bandingkan hanya dengan kulit yang mereka miliki.

Kembali pada perbandingan, bahwa eropa dan Afrika sebagai benua dengan kondisi iklim yang memaksa manusia berpikir keras. Maka dalam karya terbesar mesir piramida , eropa tak ada hal seperti itu namun mereka tetap berkuasa melebihi raja Firaun.

Jadi saya rasa hal pertama tadi terpatahkan

Kemudian soal makanan yang dikonsumsi , orang eropa makanannya banyak protein dan indonesia tidak. Aku rasa secara ilmiah itu sudah dipatahkan bahwa kecerdasan seseorang tidak dapat meningkat secara signifikan hanya karena makanan. Itu hany meningkat kurang dari 5 persen( sempat aku baca diartikel).

“Karena jaman yang terlalu maju sehingga sulit untuk menemukan penemuan baru?” bila anda termasuk orang yang berpikir demikian maka itu terpatahkan dengan mudah bahwa dahulu saat ditemukanya mesin ketik pasti beranggapan jaman tersebut sangat maju dalam persepsi orang dalam zaman tersebut namun ternyata ada yang keluar dari kemajuan itu dan terciptalah komputer dengan mesin ketik. Mungkin saat ini pesawat adalah hal termaju dalam bidang transportasi namun belum tentu 100 tahun kemudian tetap yang termaju mungkin ada orang yang dapat menciptakan pintu kemana saja kaya doraemon? Mungkin siapa yang tahu? J

Aku kemudian mencari lebih lanjut mengapa belum ada penemu sehebat Albert Eistein yang meninggal tahun 1955. Dalam bingung aku melihat video dokumenter mengupas perjalanan Yesus dan Siddartha. Walau Video tersebut sangat membuatku malas namun kupaksakan. Maklum dialog dalam video itu berbahasa inggris dan itu memang sengaja harus ditonton sebagai tahapan pertama belajar bahasa inggris yaitu listening. Sedikit menemukan titik terang melihat sang Buddha. Ia hidup dalam kecukupan dan kemewahan diistanah dan seharusnya pola pikirnyapun tidak terlalu dalam tentang penderitaan rakyat saat keluar istana. Zaman Ia hidup sampai meninggalkan istri dan anaknya hanya untuk berkelana, mengabaikan kenikmatan dunia padahal ia menikmati lama hal itu. Bila memang sengsara rakyat membuat ia berubah maka seharusnya ia tetap memilih kaya dan mensejahterakan rakyat namun ia malah bersemedi dan membuang keduniawiannya total. Itu setidaknya menggambarkan bahwa bangsa indonesia pun walau dalam kenikmatan bisa keluar dari hal itu jika memang nikmat atau kenyamanan alam menjadi penghalang menemukan sesuatu. Aku lebih berpikir mengapa siddartha bisa seperti itu, selain memang takdir yang mengukir Ia lewat mimpi sang ibu ketika melahirkan bahwa akan lahir sang Buddha KEMBALI( Masih bingung mengapa ada kata kembali mungkin dulu sudah ada buddha atau Buddha dalam zaman dahulu memiliki arti tertentu beda dengan sekarang).

Ku berpikir bahwa selain atas nama takdir, hal yang membuat terlahirnya penemu adalah otak mereka sendiri, bahwa bagaimana otak keluar dari kesibukan dunia dan perputaran dunia yang begitu gila serta kejam. Ketika bersemedi dalam sunyi dan melihat dunia maka kita akan menemukan apa yang terjadi dan kemudian akan tahu hal baru apa yang akan diciptakan. Hanya bebarapa orang yang ditakdirkan mau keluar dari perputaran dunia dan kemudian menemukan apa yang terjadi pada dunia, atau mungkin kita sendiri tidak menakdirkan kita menjadi penemu?

Arus zaman apapun dan kapanpun akan membawa orang samudra yang sama namun perlwanan terhadap arus akan membawa orang pada kejernihan pegunungan yang berbeda.karena hiruk pikuk dunia adalah samudera dan sungai adalah arus dunia maka kita aadalah air di samudra yang menemukan gravitasi sendiri dan angin sendiri untuk keluar dari lautan dan mencari perlawanan arus karena ditempat tinggi dapat mnikmati dunia secara keseluruhan.

Bila itu terpatahkan maka pasti ada alasan lainnya namun jika belum mengapa orang bisa keluar dari perputaran dunia. Jawabannya adalah pilihan semua orang yang menyadari dunia ini berputar. Berpikirlah gila karena itu tanda kau berpikir melebihi zamanmu dan bersiap-siaplah kau kesepian karena kau hidup diluar zamanmu dan duniamu secara normal.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: