Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Shelly Lansritan

Kenali saya melalui buah pikir dalam tulisan-tulisan di Kompasiana & celoteh lainnya di Facebook saya selengkapnya

Agnostic & Atheist Dalam Kacamata Saya

OPINI | 24 April 2013 | 17:09 Dibaca: 2005   Komentar: 109   2

Secara umum pengertian Agnostic adalah sebuah paham yang mempercayai keberadaan Tuhan namun tidak mempercayai ajaran agama manapun. Sedangkan pengertian Atheist secara umum adalah sebuah paham yang tidak mempercayai agama dan keberadaan Tuhan. Nah, bagi Anda yang percaya akan keberadaan Tuhan dan memeluk sebuah agama, apa yang Anda pikirkan tentang orang-orang Agnostic dan Atheist? Bagaimana jika sampai ada seorang teman atau kerabat Anda yang memilih untuk menjadi seorang Agnostic atau Atheist? Sanggupkah Anda berbesar hati untuk menerima apa yang menjadi pemikiran mereka. Sebuah pemikiran non-mainstream. Pemikiran yang tidak sama dengan apa yang menjadi pemikiran Anda, sebab mereka memilih untuk think out of the box.

Well, sejak bergabung di Kompasiana ini saya jadi lebih sering membaca bagaimana pola pikir mereka para Agnostic dan Atheist. Tidak sepenuhnya saya pahami jika mereka sedang menggunakan bahasa-bahasa filsafat hehehe… Namun yang akhirnya menggugah saya untuk menyentuh keyboard di laptop kesayangan saya ini adalah karena begitu banyak cacian, hinaan, penyudutan dan cibiran untuk mereka. Mereka para Agnostic dan Atheist yang dihina dan dicaci sedemikian rupa hanya karena tidak memiliki standard pemahaman yang sama dengan golongan orang-orang penghina. Mereka para Agnostic dan Atheist yang disudutkan dan dicibir sedemikian rupa bukan atas sebuah perbuatan nista, kejam dan sadis yang mereka lakukan. Sungguh tulisan ini adalah sebuah renungan hati tentang perbedaan keyakinan dan kepercayaan umat manusia dimanapun mereka berada.

Mungkin sebagian pembaca yang sudah pernah membaca tulisan saya sebelumnya “Mengapa Tuhan Tidak Menciptakan Manusia Dengan 1 Agama Saja?“ akan tahu bahwa saya adalah seorang murid dari ajaran Sang Buddha yang hanya mengenal ajaranNya dalam garis besar saja, yang juga jarang sekali ke vihara dan yang tidak hafal ayat-ayat suci di Tripitaka. Mungkin ibarat murid dalam kelas, saya adalah tipe murid yang tidak popular dalam nilai akademis. Tapi bukankah mereka-mereka yang terbukti pandai dalam nilai akademis belum tentu pandai dalam mensukseskan kehidupan nyata mereka nantinya. Hal ini pula yang saya pertanyakan kepada mereka-mereka yang rajin beribadah dan yang jago melafalkan ayat-ayat kitab suci secara gamblang dan detail. Sampai dimana ilmu keagamaan yang Anda semua banggakan itu mampu menjadikan Anda seorang manusia yang baik secara pikiran, perkataan dan perbuatan. Sudah sampai level itukah Anda semua? Jika nurani Anda jujur menjawab belum, maka dengan kerendahan hati yang teramat dalam, saya berharap agar masing-masing dari Anda yang sering menghina, mencaci, menyudutkan dan mencibir para Agnostic dan Atheist untuk lebih mempraktekkan ajaran agama Anda saja dulu daripada sekedar giat berteori. Fokus kepada diri sendiri saja dulu. Jika Anda saja belum benar-benar menjadi pemeluk agama yang baik dan benar, untuk apa gelisah atas keyakinan dan kepercayaan orang lain.

Satu hal yang paling membuat saya miris dari para penghina Agnostic dan Atheist, biasanya mereka yakin teramat yakin akan menjadi penghuni surga. Well dalam kacamata saya, agama bukanlah penjamin sebuah surga. Agama hanya akan menjadi kendaraan dalam garasi jika itu hanya tercatat pada sebuah KTP. Tanpa bahan bakar yang baik, kendaraan hanyalah seonggok besi yang tidak dapat mengantarkan kita ke tempat tujuan. Agama tanpa pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik tidak akan mengantarkan kita menuju surga. Jika orang-orang yang mengaku memiliki agama merasa jauh lebih budiman dibandingkan para Agnostic dan Atheist, lantas mengapa masih banyak ditemukan orang-orang yang rajin beribadah bahkan memiliki gelar keagamaan sekalipun yang masih berbuat hal-hal tidak terpuji? Karena itulah dalam pemikiran saya, orang-orang Agnostic dan Atheist belum tentu orang yang jahat sedangkan orang-orang beragama (termasuk yang Bhuddist) belum tentu orang yang baik.

Dalam beberapa komentar yang saya sering baca juga, ada yang mempertanyakan cara para Agnostic untuk beribadah kepada Tuhan. Buat saya pribadi, tidak peduli bagaimana cara seseorang beribadah. Mau sambil duduk, berdiri, nungging, tiduran, bernyanyi, baca puisi atau bahkan hening dalam diam itu semua adalah hanya sebuah cara untuk berkomunikasi denganNya. Cara yang digunakan tidak perlu sama, jadi kenapa risau jika ada yang beribadah dengan cara yang tidak sama dengan kita. Bukankah ada banyak jalan menuju Roma? Biarkan masing-masing dari kita memilih jalan yang nyaman menuju Roma. Jika memang orang-orang beragama menganggap bahwa para Agnostic dan Atheist akan masuk neraka, ya sudah biarkan saja itu menjadi urusan mereka masing-masing nantinya setelah kehidupan mereka usai di dunia. Kenapa harus Anda repot memberikan penghakiman kepada para Agnostic dan Atheist bahwa nantinya mereka akan begini dan begitu, seakan-akan Anda adalah Perdana Menterinya Tuhan.

Jika Anda yang membaca tulisan saya adalah seorang Agnostic maupun Atheist pemula yang sedang bersedih hati karena Anda mengalami tekanan yang luar biasa dari lingkungan dan banyak teman maupun kerabat perlahan tapi pasti mulai menjauh dari kehidupan Anda, maka cobalah untuk lebih bersabar. Mereka-mereka yang punya pemikiran-pemikiran non-mainstream memang harus punya mental baja dan jiwa yang besar. Jika ada teman yang pada akhirnya memilih untuk meninggalkan Anda hanya karena paham Agnostic atau Atheist yang Anda pilih, seharusnya Anda bersyukur. Orang-orang jenis itu hanya membuat hubungan pertemanan yang palsu dengan Anda. So why should you sad of something called as the fake friendship when they’re going to leave you? Tetapkan dengan kesungguhan hati bahwa jika Anda bisa membuktikan diri untuk menjadi orang yang baik dan menyenangkan, maka orang-orang yang bersedia menerima Anda apa adanya adalah orang yang layak menerima segala kebaikan Anda. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Do not believe in anything simply because you have heard it.

Do not believe in anything simply because it is spoken and rumored by many.

Do not believe in anything simply because it is found written in your religious books.

Do not believe in anything merely on the authority of your teachers and elders.

Do not believe in traditions because they have been handed down for many generations.

But after observation and analysis, when you find that anything agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all, then accept it and live up to it.

(Buddha)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: