Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ar Kus

senang berpikir apa adanya dan adanya apa

Teroris Boston Ternyata Bukan Atheis

OPINI | 22 April 2013 | 20:12 Dibaca: 474   Komentar: 10   5

Kadangkala, orang Indonesia sering mengumpamakan suatu perbuatan yang biadab dengan kata-kata “ih…seperti orang tak bertuhan saja”. Ketika bom Boston meledak, beberapa orang juga mengatakan “sungguh biadab, pasti ini perbuatan orang-orang tak bertuhan”. Seolah-olah tindakan bermoral hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang bertuhan.

Orang tak bertuhan sering diidentikan dengan orang yang tidak memiliki aturan, suka berbuat seenaknya, jahat, atau pengacau lingkungan sosial. Cap orang tak bertuhan benar-benar buruk. Tak heran bila mereka sering dikucilkan, diintimidasi, atau bahkan dibunuh. Ada yang dihambat karier pekerjaannya, diceraikan pasangannya, diputusin pacarnya, atau bahkan diusir oleh keluarganya.

Trade mark orang tak bertuhan memang jelek di masyarakat. Jika dianggap najis maka mereka akan dikelompokkan dalam kategori najis mughaladhoh. Najis berat, yang untuk membersihkannya perlu memakai tata cara khusus. Termasuk menggunakan tanah dan basuhan tujuh kali air sebagai penawar kenajisannya. Tapi itulah yang terjadi di masyarakat, siapa bisa mengubahnya?

Syukurlah, pelaku bom Boston bukanlah atheis. Kelakuannya memang sangat jahat dan tak berkeprimanusiaan, tapi tidak ada bukti bahwa ia orang tak bertuhan. Mudah-mudahan hal ini akan mengubah persepsi masyaraat bahwa kejahatan bisa dilakukan oleh siapapun, yang kadang tanpa terkait sedikitpun dengan keyakinannya. Ada orang baik dan ada orang jahat, itulah hukum kehidupan.

Bagi saya, teroris Boston sendiri tidaklah dapat dikatakan bersalah sepenuhnya. Tamerlan Tsarnaef dan Dzhokhar Tsarnaef, dua orang ini adalah korban. Korban suatu indoktrinasi atau cuci otak dari suatu ajaran yang menyimpang. Mereka berdua adalah korban. Sebagai korban kita harus mengasihani mereka seperti halnya kita mengasihani korban ledakan bom Boston lainnya.

Ajaran radikal dan orang-orang yang mengindoktrinasikannyalah yang salah. Duo tsarnaef tidaklah sepenuhnya bersalah. Mereka adalah korban. Korban dari sebuah doktrin radikal. Tetapi, hal yang paling penting lagi, mereka adalah korban ketidakpedulian kita. Kita kurang peduli dengan apa yang terjadi pada saudara, kerabat, dan lingkungan kita. Kita tidak pernah saling mengingatkan.

Kita terlalu asyik dalam keheningan. Kita terlalu pongah dengan kedirian. Asal diri selamat peduli apa dengan orang lain. Adanya bahaya yang mengancam sepanjang tidak mengancam dirinya akan dibiarkan saja. Dan kini, saat ribuan orang telah menjadi korban indoktrinasi ajaran radikal jahat, kita masih tidak peduli. Kita masih termangu. Tidak ada keinginan untuk saling mengingatkan dan bahu-membahu melawannya.

Sepanjang pemahaman saya, semua agama mengajarkan kebaikan. Sejelek-jeleknya ajaran agama, tidak ada ajaran agama yang mengajarkan untuk membunuh orang yang berbeda keyakinannya. Agama itu baik dan seharusnya mengajarkan kebaikan. Tapi, jikapun ternyata ada, jelas ajaran kejahatan seperti itu harus dibasmi. Harus dimusuhi bersama. Sebab siapapun akan menjadi korbannya.

Jika teroris akan beraksi di suatu lokasi, mereka tak akan bertanya agamamu apa. Teroris tak pernah pilih-pilih mangsa. Teroris tak pernah punya rasa belas kasihan. Jika bom sudah diletakkan dan pemicu siap ditarik. Siapapun di lokasi itu akan menjadi korban. Tidak peduli kamu itu beragama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, maupun bersikap atheis. Kita semua akan menjadi korban.

‘Kita’ yang dimaksud dalam kalimat ini adalah: saya, anda, pasangan, anak, kerabat, guru, teman, pacar, ataupun boss anda. Jangan pikir bahwa kejadian bom teroris adalah jauh dari kehidupan anda. Adanya kasus teroris yang menyimpan bom di rumah-rumah lalu bom itu meledak sebelum waktunya. Adanya kasus peledakan bom teroris dilakukan di hotel atau tempat keramaian yang mungkin saja ‘kita’ sedang berada di sana.

Hal ini harus menyadarkan kita bahwa kita semua berada dalam target teroris. Tak peduli siapapun anda, sebenarnya anda berada dalam target teroris. Saat anda sedang asyik tidur di rumah, menonton tv, atau bahkan ketika sedang ngeseks bersama pasangan, sesungguhnya anda sedang berada dalam target teroris. Pun ketika anda sedang berjalan-jalan di mall, menginap di hotel, ataupun antri membuat paspor.

Terorisme adalah risiko yang mengancam kita semua, sehingga harusnya teroris menjadi musuh kita bersama.

***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 4 jam lalu

SBY ‘Ngrecoki’ Jokowi …

Suko Waspodo | 6 jam lalu

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 11 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 15 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: