Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Maya Indriyatini

I wanna be a good teacher | PKnH - UNY | Bekasi - Yogyakarta

Tradisi Rasulan di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta

REP | 21 April 2013 | 10:50 Dibaca: 563   Komentar: 1   0

http://i760.photobucket.com/albums/xx246/penakecil/rasulan.jpg

Pertama kali saya mengetahui Tradisi Rasulan ini, ketika sedang liburan semester di tempat nenek di daerah Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Rasulan merupakan sebuah tradisi yang sudah berlangsung sangat lama di kabupaten Gunung Kidul dan sekitarnya serta diadakan sekali dalam setahun. Rasulan adalah sebuah ritual setelah musim panen tiba sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikan dan juga sebagai ritual untuk terhindar dari segala musibah.

Biasanya, tradisi rasulan ini diselenggarakan per pedukuhan atau dusun dengan waktu pelaksanaan yang berbeda-beda. Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pertama kali yaitu setiap dusun melakukan kerja bakti di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Di pedukuhan Selang, kegiatan kerja bakti tersebut diselenggarakan dalam rangka lomba “Bersih Desa” yang nantinya, akan ada desa yang dinobatkan sebagai desa terbersih.

Kegiatan puncak pada tradisi Rasulan ini sangat menarik dengan adanya berbagai pertunjukkan kesenian tradisional, seperti reog, jatilan (kuda lumping), ketoprak, wayang kulit semalam suntuk dan sebagainya. Selain itu, juga diadakan kirab budaya (karnaval mengelilingi pedukuhan) dari masing-masing dusun dengan aneka gunungan yang terdiri dari berbagai hasil panen, misalnya padi, jagung, kacang dan lain sebagainya. Seluruh peserta kirab budaya menggunakan berbagai macam kostum dan aksesoris yang tradisional dan unik. Misalnya, ada sekolompok remaja putri yang membawa sapu, para petani yang membawa cangkul dan memakai caping, ibu-ibu yang membawa nampah dan juga sekolompok pemuda yang mengenakan seragam tentara kerajaan beserta senjatanya.

Selain kegiatan puncak tersebut bagi anak-anak yang masih sekolah, biasanya orang tua mereka memasak masakan spesial untuk dihidangkan kepada teman-temannya. Jadi, anak-anak tersebut membawa teman-temannya untuk makan di rumah. Tradisi ini menjadi keunikan tersendiri dan kebanyakan dari masyarakat Kabupaten Gunung Kidul sangat menunggu moment ini dibandingkan lebaran. Bahkan untuk melaksanakan tradisi Rasulan ini, mereka lebih banyak mengeluarkan biaya dibandingkan saat lebaran.

Nilai-nilai yang dapat diambil dari tradisi Rasulan ini, yaitu pertama, bahwa adanya kesadaran rasa syukur masyarakat Kabupaten Gunung Kidul atas nikmat yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Yang kedua, nilai kegotong royongan dari seluruh masyarakat dalam melakukan kerja bakti “bersih desa” dan juga ketika akan membuat gunungan serta mempersiapkan kostum dan aksesoaris dalam rangka untuk memeriahkan acara tersebut bahkan ada warga desa yang berada di luar kota rela datang untuk mengikuti acara tersebut. Nilai Ketiga, yaitu melalui adanya berbagai pertunjukkan kesenian tradisional merupakan salah satu cara untuk melestarikan budaya Indonesia yang sudah mulai terkikis oleh kemajuan zaman dan informasi. Dan nilai terakhir yang dapat diambil yaitu ketika anak-anak mengajak teman-teman mereka untuk main ke rumah dan menikmati hidangan yang telah disiapkan, dapat dilihat bahwa bukan hanya makanan yang dicari melainkan juga rasa kebersamaan dan bagi tuan rumah dapat dikatakan sebagai sedekah atas hasil panen yang didapat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengenal Lebih Jauh Meningitis yang …

Wahyu Triasmara | | 28 March 2015 | 07:14

Transformasi Museum Sangiran dengan Sentuhan …

Dhanang Dhave | | 27 March 2015 | 14:33

[AMBON] Jelajah Non Tunai bersama Bank …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:27

Dualisme Parpol Tinjauan Dari Sisi Hukum …

Edo Media | | 28 March 2015 | 08:40

[Nangkring] Jelajah Non Tunai bersama Bank …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:48


TRENDING ARTICLES

Ahok Selingkuh Ketahuan …

Axtea 99 | 9 jam lalu

BBM Naik, Rakyat Menjerit …

Asmari Rahman | 9 jam lalu

“Wow, Mati Juga Akhirnya” …

Muhammad Armand | 11 jam lalu

Maaf Pak Jokowi, BBM-nya Baru Masuk! …

Muksalmina Mta | 12 jam lalu

Apakah Kematian Olga Syahputra Membuat …

Ardi Winata Tobing | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: