Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Zeinul Ubbadi

Martawan Koran Madura

Nikah Siri

OPINI | 21 April 2013 | 17:53 Dibaca: 251   Komentar: 6   0

Menikah siri itu enak tidak ya? tentu enak. Bahkan mungkin sangat enak. Nikmat tidak ya? Belum tentu.

Menyetubuhi gadis-gadis belia yang umurnya bahkan masih belum genap 17 tahun, siapa bilang tidak enak. Jika tidak enak, oknum anggota dewan yang ditangkap di Surabaya itu pasti tidak melakukannya hingga kepada sembilan gadis. Saat birahi membuncah bersambut dengan kulit segar dan muda, tentu membuatnya seakan tak menginjak bumi. Enak, Pasti.

Tapi kita tidak pernah tahu apa sebenarnya yang berdetak dalam hati kecilnya, utamanya saat ia mulai menggenggam tangan si gadis dan meminta “penghulu bayaran” untuk menikahkannya dalam mobil. Konon, hati yang paling dalam itu selalu mengajak pada kebenaran, kesetiaan dan penghormatan.

Setiap akan melakukan sesuatu yang menyimpang, hati kecil selalu membunyikan alarmnya. Bisa dalam bentuk bayangan wajah ibu, bisa bisikan bijak sorang guru ngaji, bisa gemma tangisan buah hati, bahkan bisa berbentuk bayangan kejadian buruk semisal ditangkap KPK, diborgol polisi, dan karir yang jatuh. Sayangnya, tidak semua orang mau mendengarkan alarm itu. Seringkali banyak yang nekat dan mengabaikannya.

Saya yakin hati nurani oknum anggota dewan itu juga sudah membunyikan alarmnya. Namun nafsu dan birahinya memaksanya untuk mengabaikannya. Dan sesuatu yang dilakukan tidak seijin hati nurani hanyalah enak. Tidak nikmat. Hanya bagian ragawi saja yang merasakan sensasinya, tidak bagian psikisnya.

Seorang blater di dusun tetangga pernah menyampaikan nasehatnya “Jangan beristeri lebih dari satu jika urat saraf yang menyambungkan hati dan akalmu belum putus” katanya. Mengapa? “Ini sudah saya alami sendiri. Saat bersama isteri muda, yang terbayang dalam hati adalah anak yang mulai bisa merengek minta jajan. Sementara bila bersama isteri tua, hati khawatir isteri muda ditiduri teman”.

Benarkah itu? saya belum pernah mengalaminya. Namun suatu saat saya menemukan penegasannya pada blater lain yang isterinya merantau mencari pekerjaan. Saya tanya “Mengapa sampeyan membiarkan isteri pergi sendirian bekerja di Malaysia, apa tidak takut ada yang merayunya, menjahilinya bahkan menikmatinya?”. Ia hanya tersenyum datar “Biar saja, anggap saja tuyul, kalo pulang nanti dia bawa uang” jawabnya tanpa beban. Saya tersentak, karena rupanya benar-benar ada orang yang saraf hati dan akalnya terputus.

Bagaimana dengan anggota dewan yang menikah siri hingga dengan sembilan gadis itu? saya tidak bermaksud mengatakan ada “saraf putus” itu padanya. Sebab menurut berita yang santer di beredar di media, ia tidak menikah siri  seperti pada umunya. Ia menikah dalam mobil, tidur di hotel, membayar si gadis kemudian talak. Bagi saya, ini seperti prostitusi biasa pada umumnya. Namun karena mungkin yang bersangkutan takut neraka, maka dipanggillah “Penghulu Bayaran” itu untuk menikahkannya.

“Takut Neraka” menunjukkan bahwa urat saraf yang menyambungkan hati dan akalnya masih ada. Begitu pula dengan alarm hati nuraninya, jelas masih berfungsi dengan baik. Sebab jika tidak, ia pasti tak mau repot-repot menikah untuk melampiaskan birahinya.

Apakah dia terbebas dari dosa? dari dosa zinah, bisa jadi bebas. Tapi menikah diam-diam pasti membuat hati isterinya sakit karena merasa dikhianati. Dan penghkianatan adalah juga dosa. Mungkin hampir sama besarnya dengan zinah. Tidakkah dulu guru ngaji kita mengatakan bahwa khianat itu adalah tanda-tanda orang munafiq, dan innal munafiqina fiddarkil asfali minannar, sesunggunya tempat orang-orang munafiq adalah dilapisan paling bawahnya neraka.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Ga Pengen Gundul? Rawat Rambutmu??? …

Kang Isrodin | | 29 November 2014 | 12:00

Sentilan-sentilun SBY dan Jokowi …

Gunawan | | 29 November 2014 | 09:00

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Festival Payung Indonesia Pertama, …

Indria Salim | | 29 November 2014 | 13:31

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jangan Tekan Ahok Lagi …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 11 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kekhawatiran Masyarakat Terhadap Bahaya Susu …

Hikmawati . | 8 jam lalu

Seperti Apa Mas Kawin di Zaman Rasulullah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kontraversi Aborsi …

Jahrianti Nur Tahir | 8 jam lalu

Remang-remang Kunang-kunang …

Harry Ramdhani | 9 jam lalu

Panggung Rising Star Indonesia Gagal …

Pietro Netti | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: