Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Agustinus Wahyono

alias GUS NOY, bukan siapa-siapa. Lahir-remaja di kampung Sri Pemandang Pucuk, Sungailiat, Bangka Belitung, melanjutkan selengkapnya

Tulisan Mbeling: Resiko Orang Ganteng

OPINI | 20 April 2013 | 17:43 Dibaca: 830   Komentar: 0   0

Saya sempat kaget sewaktu membaca berita di situs detikdotkom yang berjudul “Terlalu Ganteng, 3 Pemuda Abu Dhabi Diusir dari Arab Saudi” oleh situs detikdotkom (www. news.detik.com/read/2013/04/18/114702/2223686/1148/?nd772204topnews).

Saya cuplik sebagian beritanya, Otoritas Arab Saudi menahan dan mendeportasi tiga pemuda yang berasal dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UAE). Pengusiran ini dilakukan karena ketiga pemuda tersebut dianggap terlalu ganteng. Polisi syariah di kota itu atau Mutaween, beralasan bahwa pemuda-pemuda tersebut dikhawatirkan bisa mengganggu kaum wanita setempat. Menurut Mutaween, dikhawatirkan para wanita setempat tidak akan mampu menahan diri dan tergoda dengan ketiga pria tampan tersebut. Hal tersebut jelas-jelas melanggar hukum syariat Islam yang berlaku di negara itu.”

Weleh-weleh, sampai sebegitu luasnya dampak kegantengan hingga melintasi teritorial negara, dan dilarang oleh negara lain! Meski sempat kaget, saya langsung berintrokpeksi dan berpikir guna mengeliminasi kekagetan sesaat saya tadi.

Saya menduga-duga, mungkin ganteng merupakan sebuah kutukan. Sebab, sepengetahuan saya, dalam sejarah orang suci di tanah Arab yang tertulis rapi dalam sebuah kitab keramat, seorang bernama Yusuf adalah tokoh ganteng. Bahkan Yusuf telah divonis oleh banyak kalangan dan keturunan sebagai “orang ganteng sepanjang masa”. Gara-gara kegantengan Yusuf, saudara-saudara kandungnya menjadi iri/cemburu. Lalu Yusuf dijadikan obyek bulan-bulanan oleh saudara-saudaranya. Disuruh ini-itu, dikerjain-lah pokoknya, lantas dijual kepada orang asing. Gara-gara ganteng, di daerah orang asing pun Yusuf jadi obyek bulan-bulanan, tepatnya obyek binal-binalan seorang istri penguasa.

Apakah memang ganteng merupakan kutukan, yang turun-temurun sejak jaman Yusuf? Paling tidak, menurut mbeling saya, sedikit terbukti kutukan itu dalam berita yang saya baca. Saya pun mencoba menautkannya dengan pengalaman saya sendiri sebagai orang ganteng meskipun belum mendapatkan sertifikat “ganteng” dari departemen/dinas terkait. Dan saya setuju dengan legenda dalam kitab itu serta fakta dalam berita tadi.

Saya setuju karena saya juga mengalaminya. Saya dulu dikenal sebagai orang ganteng di daerah saya, kampung Sri Pemandang Pucuk, Sungailiat, Bangka. Saya tidak pernah berharap lahir dan hidup sebagai orang ganteng. Kegantengan tidak termasuk pilihan melainkan langsung jadi dalam cetakan. Sejak lahir jebrot, saya sudah ganteng.

Saya tidak pernah memilih untuk menjadi orang ganteng. Saya tidak pernah bercita-cita menjadi orang ganteng. Saya tidak pernah memoles-moles wajah saya agar ganteng. Kalau saya memoles-moles wajah saya agar ganteng, itu jelas saya memilih atau bercita-cita menjadi orang ganteng. Sudah ganteng sejak bayi, apalah guna memoles diri?

Ketika masih muda belia, saya sempat mensyukuri diri saya yang ganteng ini, kendati belum ada lomba atau kontes “Raja Kegantengan” ketika itu. Sempat? Iya! Selanjutnya, saya mulai menguatirkan kegantengan saya. Bukan mustahil jika kegantengan saya beresiko bagi diri saya sendiri. Oh ya? Iya!

Begini. Saya mulai menguatirkan kegantengan saya lantaran para laki-laki di sekitar saya selalu membenci saya. Kalau saya pikir-pikir, pasti kebencian itu ada alasan paling mendasar.

Suatu hari saya temukan jawabannya, yaitu mereka iri hati pada kegantengan saya. Ya, iri hati mereka adalah alasan dasarnya. Begitu resiko pertama saya sebagai orang ganteng; membuat orang lain iri hati lantas dibenci. Cukup? Tidak.

Dasar tersebut berkembang biak, rupanya. Saya kemudian dicurigai oleh mereka, bahwa kegantengan saya bisa berdampak buruk terhadap hubungan mereka dengan pasangan masing-masing. Mereka kuatir kalau-kalau pasangan mereka akan kepincut pada kegantengan saya. Ini resiko kedua, yakni dicurigai.

Sejatinya, normal jikalau ada perempuan yang kepincut pada pria ganteng, minimal ganteng seperti saya. Wajar jikalau perempuan memilih pria ganteng. Bukan sesuatu yang janggal, kan? Tetapi, barangkali, normal pula bahwa kegantengan justru membangkitkan iri hati dalam diri pria-pria lainnya. Lantas, kalau sudah sama-sama normal, apa lagi?

Lalu saya difitnah oleh mereka, bahwa saya selalu tebar pesona di mana-mana, waspadalah. Setiap saya berada di mana, mereka selalu mengatakan bahwa saya sedang tebar pesona. Bahkan, ketika di toilet sekalipun, saya masih juga difitnah “sedang tebar pesona”. Di pintu toilet mereka tempelkan stiker bertuliskan, “Awas, orang ini sedang tebar pesona!” Itu resiko ketiga.

Tidak puas melakukan itu, maka jadilah resiko keempat : mereka pun semena-mena menghakimi saya, bahwa kegantengan saya merupakan bencana atau bahaya laten bagi setiap laki-laki dan perempuan, bagi setiap hubungan, bagi setiap keharmonian lingkungan. Jangan salahkan apabila alam semesta mengamuk gara-gara orang ini (saya), kata mereka.

Ditambah lagi, sebagai resiko kelima, vonis mereka, bahwa saya seorang playboy, buaya darat, mata keranjang, hidung belang, dan sejenisnya. Vonis ini mereka beritakan lewat media-media yang ada, hingga ke kotak-kotak sampah di seantero kota. Ketika berhadapan dengan beberapa perempuan, serta-merta mereka sering menghakimi saya, “Kamu pasti playboy!”

Penghakiman tersebut memang berdampak jelas menjadi resiko keenam. Saya menjadi seorang jomblo selama bertahun-tahun bahkan pernah dicalonkan sebagai ketua Perhimpunan Jomblo Bahagia Indonesia (PJBI) cabang Bangka Belitung. Tidak ada seorang perempuan pun yang sudi berhubungan istimewa dengan saya. Para perempuan seolah mengidap sebuah phobia terhadap saya. Entahlah, phobia terhadap orang ganteng itu apa nama ilmiahnya.

Itulah enam resiko orang ganteng, yang sebelum-sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Dibenci, dicurigai, difitnah, dihakimi, dicap ini-itu, dan menjadi jomblo bertahun-tahun! Luar biasa resiko sebagai orang ganteng ini. Saya tidak habis mengerti hingga saat ini.

Saya pernah kepikiran hendak memperkarakan masalah ini sebagai tindakan perusakan nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, dan intimidasi psikologis yang mengganggu hak-hak saya dalam berinteraksi sosial dengan siapa pun, di mana pun, dan even apa pun. Sebab, dampak yang lebih luas lagi, saya tidak lagi menerima undangan-undangan, minimal hajatan khitan anak tetangga. Hak-hak sosial saya benar-benar telah terberangus gara-gara kegantengan saya.

Saya tidak kuat lagi menolerirkan tindakan-tindakan, semacam sanksi sosial, terhadap saya. Ketika saya mendatangi sebuah kantor pengacara yang di halamannya terdapat patung Dewi Keadilan, saya kaget.

Kata seorang pengacara kondang di situ, “You tidak bisa melakukan gugatan mengenai tindakan mereka karena, I sendiri akui, you punya kegantengan memang berbahaya; berpotensi menyesatkan banyak perempuan, menyebabkan demo besar-besaran di setiap sudut kota sampai sekaput kampung, dan kerusuhan massal yang anarkis. I juga kuatir, patung di halaman kantor akan mengajukan resign siang ini, dan mengikuti you. Tapi setidaknya, you musti bersyukur, belum ada peraturan daerah yang melarang orang ganteng semacam you ini tinggal di sini.” Wah, sampai sebegitu krusialnya resiko orang ganteng semacam saya ini!

Memang sih, saya belum mengalami pengusiran apalagi seperti yang dialami oleh tiga pemuda Arab dalam berita itu. Namun, saya mulai kuatir, jika suatu waktu nanti ada hukum Indonesia seperti di sana itu, jangan-jangan saya bakal diusir dari negara saya sendiri. Kekuatiran ini semakin mengganggu saya. Kekuatiran ini membuat saya berkesimpulan sementara bahwa beginilah resiko orang ganteng sebagaimana sebuah kutukan yang sudah berlaku sejak jaman Yusuf.

*******

Balikpapan, 20/04/2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 10 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 11 jam lalu

Anies Baswedan Sangat Pantas Menjadi …

S. Suharto | 12 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: