Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Tasripin dan Mbok Menil

OPINI | 20 April 2013 | 02:57 Dibaca: 688   Komentar: 16   5

Meskipun bukan HL, higlight dan apalagi trending articles, tulisan pendek berjudul Bacalah Kisah Tasripin dengan Kemarahan…, yang saya unggah pada 15 April 2013, sampai dini hari ini tercatat dibaca 1971 Kompasianer. Sungguh jumlah yang jauh lebih banyak dari perkiraan, apa lagi tulisan pendek tersebut sekadar berisi empati impresif saya terhadap berita di harian Kompas.

Selain di luar perkiraan, jumlah pembaca yang hampir mencapai dua ribu orang itu membuat saya merasa lega dan bersyukur. Sebab, hal itu cukup menjelaskan bahwa ternyata masih banyak yang tertarik membaca berita yang menggugah perasaan. Dan saya semakin lega dan bersyukur ketika Komandan Kodim Banyumas, Letkol Inf Helmi Tachejadi Soerjono langsung turun tangan memperbaiki rumah dan nasib Tasripin. Kita dapat merasakan ketulusan Letkol Helmi, dan semoga Tuhan membalas ketulusannya itu dengan limpahan rahmatNya.

Konon, Presiden SBY juga sudah meminta Gubernur Jateng membantu Tasripin. Mudah-mudahan saja Tasripin tidak dieksploitasi menjadi sekadar ikon atau alat kampanye Pilgub Jateng yang akan berlangsung pada Mei mendatang. Bantuan berupa penganan dan uang juga mengalir dari masyarakat untuk Tasripin. Bahkan sekarang Tasripin sudah punya rekening BRI guna menampung sumbangan dari masyarakat. Alhamdulillah. Kita dapat merasakan kepedulian sekaligus ketidakrelaan masyarakat terhadap nasib Tasripin yang tentu tidak pernah kita inginkan akan menimpa dan dialami anak cucu kita. Dan ketika kisah sedih Tasripin berakhir bahagia, kita pun ikut merasa bahagia.

Kisah Tasripin itu mengingatkan saya pada kejadian di tahun 1989, semasa saya jadi wartawan majalah Sarinah. Suatu ketika, saya dan Mas Marto menulis cerita tentang Mbok Menil, seorang Ibu yang tinggal di pelosok DIY, Jawa Tengah. Mbok Menil adalah seorang Ibu dari tujuh anak, enam di antaranya cacat mental. Suami Mbok Menil sudah lama pergi entah ke mana. Untuk menghidupi keenam anaknya yang cacat mental, Mbok Menil dan anak bungsunya perempuan usia 13 tahun bekerja sebagai buruh pembuat genteng. Mbok Menil dan ketujuh anaknya menumpang tinggal di sebuah rumah berlantai tanah berdinding bata dan bilik bambu. Meski keenam anaknya yang cacat mental itu kelak tidak akan tumbuh menjadi apa-apa, dengan sepenuh cinta Mbok Menil berjuang untuk menafkahi dan menghidupinya.

Hanya sehari setelah majalah Sarinah yang memuat cerita Mbok Menil itu terbit, seorang perempuan Cina setengah baya datang ke kantor majalah Sarinah naik Mercedes Benz. Kepada redaksi, perempuan Cina yang tidak mau disebut namanya itu menitipkan uang Rp 6 juta untuk Mbok Menil. Jumlah yang sangat banyak pada tahun 1989 itu. Selang dua minggu kemudian, sumbangan yang mengalir  dari pembaca  jumlah seluruhnya mencapai Rp 9 juta.

Ketika kami menyerahkan uang itu, tangan Mbok Menil gemetaran dan menangis. Sementara  itu ketiga anaknya yang cacat mental secara bergantian mengentuti kami, sedangkan anak sulungnya yang sehari-hari hanya bisa tergolek di dipan terus-menerus berteriak minta makan. Alangkah hebat Mbok Menil yang selama bertahun-tahun hidup bersama keenam anaknya yang cacat mental dan  senang mengentuti tamu itu.

Oleh Mbok Menil, uang Rp 9 juta itu sebagian digunakan membeli sebidang tanah dan untuk membangun rumah sederhana, sisanya untuk hidup sehari-hari. Ketika membaca berita tentang Tasripin, saya langsung terkenang Mbok Menil. Saya terharu dan bersyukur karena kalau bukan kita, siapa yang peduli mereka? *** @harrytjahjono

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 13 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 13 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 14 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Donor Darah di Perancis …

Bayu Teguh | 11 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 12 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 12 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: