Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Anggara Gita

100% Indonesia, 100% Katolik, Plural, Internazionale Milan, The Beatles, Reggae, cerewet Lisan-Tulisan, dan Canda. @cekinggita

Omprengan, Angkot Ilegal Idaman Penumpang

OPINI | 20 April 2013 | 19:09 Dibaca: 385   Komentar: 1   0

Sumber foto : http://mediapublica.co/2013/02/11/fenomena-omprengan-sebagai-angkutan-alternatif/

Sumber foto : http://mediapublica.co/2013/02/11/fenomena-omprengan-sebagai-angkutan-alternatif/

Ada yang tahu angkot (Angkutan Umum) omprengan yang saya maksud? Atau justru salah satu dari teman sekalian ada yang sudah menjadi penumpang setia omprengan? Baiklah akan saya coba jelaskan apa yang saya maksud dengan omprengan.

Omprengan yang saya maksud adalah angkutan umum (angkot) yang menggunakan mobil pribadi atau tepatnya berplat nomor warna hitam. Aneh kah?  Memang aneh, karena pada dasarnya omprengan ini bukanlah angkutan umum seperti yang lainnya, dimana berplat nomor berwarna kuning. Namun pada prakteknya, mereka tidak jauh berbeda dengan angkutan umum lainnya karena merekapun punya pangkalan dan jalur tujuan.

Mengapa angkutan umum berplat hitam tersebut dinamakan omprengan? Arti kata omprengan menurut KBBI adalah 1) Mencari penghasilan tambahan dengan menambangkan mobil, 2)  Menumpang kendaraan. Dari kedua definisi tersebut, saya simpulkan bahwa penyebutan nama omprengan dikarenakan pekerjaan sebagai supir omprengan adalah pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Kemudian karena angkutan umum ini termasuk ilegal, maka untuk berjaga-jaga jika ada pihak berwajib yang melakukan razia, maka para supir akan berkilah bahwa para penumpang tersebut hanyalah teman yang ikut nebeng bersamanya, bukan penumpang yang dipungut biaya. Jadilah kita menamakan mereka ‘omprengan’.

Saya rasa untuk definisi yang pertama memang benar kenyataannya demikian. Beberapa kali saya berbincang dengan supir omprengan dan banyak dari mereka yang kesehariannya bekerja di kantoran (Jakarta). Mereka menjadi supir omprengan karena untuk menyiasati harga bensin dan tarif tol yang kian menjulang. Alhasil mereka menkomersilkan mobilnya untuk mengangkut para penumpang yang ingin pergi ke arah yang sama dengan tempat kerja si supir.

Tempo yang lalu atau mungkin masih sering dan akan terjadi, terdapat perselisihan antara supir-supir dari angkot resmi dengan omprengan. Tidak bisa dipungkiri bahwa omprengan adalah angkutan umum yang tidak sah. Mereka salah! Omprengan akan menyedot penumpang yang seharusnya naik ke angkot resmi. Trayek omprengan pun sama dengan trayek angkutan umum lainnya atau bahkan lebih baik karena bisa ke jalur-jalur yang tidak dilalui angkutan umum resmi.

Walaupun omprengan adalah angkot ilegal, namun menurut saya, omprengan juga menjadi salah satu kesayangan warga Jakarta dan sekitarnya. Omprengan menjadi angkutan umum alternatif jika tempat tujuan kita tidak dilalui oleh angkutan umum resmi atau kalaupun ada angkutan umum resmi, mungkin tidak senyaman omprengan.

Naik omprengan relatif lebih nyaman dibanding angkutan umum seperti bus (transjakarta/patas), metromini, koasi, mikrolet. Jika anda naik omprengan, maka dapat dipastikan anda tidak akan berdiri dan berdesak-desakan sampai dengan tempat tujuan. Semua penumpang pasti mendapat tempat duduk walaupun sempit-sempitan, namun setidaknya lebih manusiawi ketimbang naik bus atau kereta. 1 mobil omprengan biasanya terdiri dari 12 penumpang. Rata-rata dari mereka adalah karyawan dan pelajar/mahasiswa.

Omprengan mungkin kalah nyaman dengan taxi, tapi pastinya jauh lebih murah. Bahkan sekarang sudah banyak omprengan yang sudah ber-AC. Rata-rata sekarang omprengan sudah menggunakan mobil grandmax dan luxio, Bahkan suatu waktu, saya pernah ikut omprengan dengan mobil Inova. Jadi untuk kenyamanan, mungkin sudah tidak jauh dari taxi. Untuk tarifnya akan berbeda-beda tergantung trayek dan jenis mobil. Mobil yang tidak ber-AC biasanya lebih murah. Anda akan mendapatkan omprengan hanya pada pagi hari dan sore/malam hari.

Saya sebagai pelanggan omprengan, berharap pemerintah mengetahui keberadaan omprengan namun bukan untuk dimusnahkan, melainkan untuk ditiru. Bagaimana bentuk angkutan umum yang nyaman, tidak perlu berdesak-desakan dan sangat terorganisir. Pangkalan omprengan di daerah Jatibening tidak luas namun sangat rapi. Mobil-mobil omprengan parkir dengan rapi sesuai trayek masing-masing sembari menunggu giliran mereka. Mereka dikoordinir oleh timer layaknya terminal-terminal pada umumnya.

Jika semua jenis angkutan umum bisa senyaman omprengan, saya rasa akan banyak masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang beralih dari mobil pribadi menjadi penngguna transportasi publil. Bravo omprengan.

@cekinggita

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 4 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 6 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 8 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 11 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 7 jam lalu

Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak …

Mauliah Mulkin | 7 jam lalu

Me Time (Bukan) Waktunya Makan Mie! …

Hanisha Nugraha | 7 jam lalu

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | 7 jam lalu

Semoga Raffi-Gigi Tidak Lupa Hal Ini Setelah …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: