Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Masih Perlukah Menyadarkan Kepedulian terhadap Sesama?

OPINI | 19 April 2013 | 09:30 Dibaca: 572   Komentar: 2   0

Bila diperhatikan dengan baik, jarang sekali masyarakat kota jaman sekarang yang peduli entah dengan lingkungan atau dengan orang lain. Walaupun ada mungkin hanya sepuluh diantara seribu orang yang peduli. Sebenarnya apa sih penyebabnya? Nah, dalam kesempatan menulis kali ini saya akan mencoba membagikan penyebab ketidakpedulian masyarakat kota menurut pandangan dan pengamatan saya.
1. Gengsi
Dilihat-lihat orang kota itu aneh ya?Berbuat baik aja gengsi. Takut dibilang sok baik lah, sok peduli lah. Baru dibilang begitu udah menciut, langsung gajadi. Dan ketika hal ini terjadi berkali-kali, lama kemudian orang baik yang dihasut temannya pun malas untuk peduli.
2. Individualis
Mungkin yang satu ini adalah sifat yang sebenarnya bukan sifat dasar manusia, akan tetapi dapat berubah karena tuntutan lingkungan sekitar tempat hidup. Di kota besar, tentu saja setiap orang memiliki prioritas bekerja untuk memperoleh penghasilan yang besar. Dapat diakui semangat dan daya juang nya tinggi, akan tetapi prioritas juang mereka bukan untuk orang yang tidak dekat dengan mereka melainkan untuk orang terdekat dan tersayang seperti keluarga. Di luar itu mereka tidak akan peduli. Niatnya mungkin baik, “membahagiakan keluarga” tetapi kita hidup di dunia ini kan tidak selamanya dengan keluarga, tentu ada interaksi dengan masyarakat luar walaupun dalam pikiran kita mereka tidak berarti untuk kita. Berbeda dengan di desa yang masyarakatnya sangat akur, suka bergotong-royong dalam setiap ada kesempatan. Tidak peduli mereka adalah keluarga atau bukan, tetapi masyarakat desa lebih menganggap tetangga adalah bagian dari hidup mereka. Walaupun tidak dapat dikatakan akur semua, at least masyarakat desa lebih punya jiwa sosial yang baik. Kenapa saya dapat berkata demikian? Ya karena saya tinggal di desa selama 11 tahun.
3. Pendidikan rendah?Mana mungkin
Pengecualian untuk masyarakat yang kurang mampu, pendidikan rendah mungkin saja menjadi penyebab. Karena kurangnya pendidikan, mereka tidak memiliki panutan yang baik karena mungkin saja sulit bagi mereka untuk membedakan yang mana yang real baik dan mana yang real buruk. Sehingga mereka menilai warga yang kaya adalah warga yang berpendidikan dan dapat dijadikan panutan dalam bertindak. Masalahnya, yang berpendidikan aja belum tentu benar, pintar mungkin dapat tapi hati?Hanya orang yang bersangkutan dan Tuhan lah yang tahu. Untuk warga yang mampu ke atas tidak sulit untuk mendapat pendidikan yang tinggi atau bahkan sampai melanjutkan pendidikan di negeri seberang itu semua adalah hal mudah. Kembali lagi ke hati, hati manusia itu sulit di tebak. Apakah mereka berpendidikan untuk memajukan diri sendiri atau bangsa dan tanah air? Jika hanya sebatas memajukan diri sendiri, apapun pasti akan dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Mudah saja, dengan mencontek, membeli soal karena mereka memiliki uang semuanya beres. Jadi untuk saat ini, pendidikan tinggi tidak menjamin kepandain dalam mengolah hati.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tulis. Tetapi pembacanya nanti mabuk. Semoga bermanfaat :D

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Java Jazz On The Move” di Kota Batu …

Wahyu Jatmiko | | 04 March 2015 | 23:39

Masjid Vs Televisi; Kisah Kerisauan Moral …

Subronto Aji | | 05 March 2015 | 00:05

Kompasiana Drive&Ride: ”Be Youthful, …

Kompasiana | | 26 February 2015 | 22:29

Ruki : “Menjadi Ketua KPK Itu …

Abanggeutanyo | | 05 March 2015 | 01:25

Move On Agriculture di Purworejo …

Saryanto Bpi | | 04 March 2015 | 21:26


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Negara Bekas Jajahan Belanda …

Rudi Hartono | 3 jam lalu

Coretan Tangan Ahok: “Pemahaman Nenek …

Edi Abdullah | 3 jam lalu

Horree! Indonesia Punya Polisi Terjujur …

Anton Kapitan | 5 jam lalu

Ekuivokasi di Sekitar Kisruh Ahok-DPRD …

Nararya | 9 jam lalu

Ahok Vs. M. Taufik dan Kutukan Kulminasi …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: