Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

“Saat Kemauan Tidak Berpihak Pada Si Lemah”

REP | 18 April 2013 | 23:49 Dibaca: 135   Komentar: 0   0

PERAN AKTIF MAHASISWA DI BIDANG SOSIAL

“Saat Kemauan Tidak Berpihak Pada Si Lemah”

Mahasiswa merupakan sebuah kata yang mungkin “wah” untuk sebagian orang, wah dalam arti sesuatu yang sangat istimewa dan sangat diharapkan akan dirasakan oleh setiap individu. Sebuah sebutan yang tentunya harus ditebus dengan perjuangan, baik itu dengan pengorbanan materi dan non-materi. Tidak dapat dipungkiri bahwa kita semua mengetahui bagaimana susahnya untuk melanjutkan pendidikan, adakalanya mereka yang beruntung dan ada pula yang harus merelakan kesempatannya melanjutkan di perguruan tinggi karena ekonomi yang pas-pasan dan beban keluarga yang harus dipikul. Mungkin banyak dari kita yang kurang menyadari akan semua nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita hingga saat ini, nikmat yang tiada hentinya dan tidak ada tandingannya.

Beruntunglah untuk mereka yang terus memacu semangatnya untuk berjuang hingga akhir nafasnya, dengan tingkat ekonomi yang lebih demi selembar kertas yang sangat dibanggakannya. Hal ini sangat beralasan karena tidak semua orang dapat merasakan rasanya menjadi seorang “Maha”, yang notabenya hanya milik Tuhan Yang Maha Esa.

Sebuah ungkapan yang secara terminologi melekat erat pada setiap diri muda anak bangsa yang memiliki semangat membara jika dipercikkan api motivasi dan masa dimana seorang pemuda berada dalam tahap persiapan menuju kehidupan yang lebih jauh lagi. Baik itu yang sudah siap ataupun masih bersiap, mahasiswa telah ditakdirkan untuk berjibaku dengan masalah dan tantangan hidup yang diwariskan oleh para generasi sebelumnya. Semua tantangan yang ada bukanlah pilihan, namun ini menjadi fardhu atau kewajiban yang harus dihadapi bagi mereka yang mengerti akan arti sebuah perjuangan untuk terus memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.

Perjalanan yang panjang telah dimulai oleh seorang mahasiswa sejak ia berniat memasuki dunia perguruan tinggi. Si bocah yang saat SD hingga SMA hanya bisa melihat para penguasa negeri duduk manis diatas penderitaan rakyatnya yang masih banyak berada dibawah tarif kemiskinan, yang hanya bisa memanfaatkan jabatan yang sudah diamanatkan oleh rakyat. Mungkin banyak dari para pejabat yang saat ini berada diatas sana, hanya bisa mem”Bulli” para rakyat jelata dengan omong kosongnya. Dan kini saatnya mahasiswa memberikan perannya di lingkungannya. Lingkungan kampus contohnya dapat memberikan pendidikan emosional dan spiritual bagi diri mahasiswa lain. Lalu dalam lingkungan masyarakat sekitar tempat tinggal dapat membantu membentuk kesadaran bermasyarakat dengan merekonstruksi kondisi - kondisi dimana peran sosial potensial dalam diri individu dapat tersalurkan.

Semakin tingginya tingkat apatisme (acuh) dalam diri generasi muda maka tidak lain dan tidak bukan menjadi ciri kehancuran akan semakin dekat. Apakah cukup tenaga orang tua saat ini untuk membalikkan keadaan yang terus bergelombang saat ini. Musim kemarau dan penghujan dalam demokrasi kehidupan bangsa mengajarkan kita bahwa sangat sulit untuk tersenyum dalam keadaan yang serba sulit saat ini. Oleh karena itu, di tengah kegalauan yang kian memuncak dan apatisme yang melonjak tajam. Peran perguruan tinggi sangatlah diharapkan. Perguruan tinggi harus menjalankan Tri Darmanya, untuk mewujudkan generasi pemimpin masa mendatang yang cerdas, bermoral, dan yang pasti peka akan kehidupan disekitarnya.

Perguruan tinggi mempunyai tiga aspek yang wajib dipenuhi, aspek pertama adalah pendidikan. Pendidikan merupakan wujud bakti perguruan tinggi untuk bangsa. Sebagai tempat pendidikan dan pembentukan moral anak bangsa , perguruan tinggi dituntut komitmennya untuk memberikan sumbangan terhadap pembangunan manusia yang berkelanjutan. Aspek kedua , adalah penelitian. Penelitian dilakukan setelah seorang mahasiswa mendapatkan pendidikan yang dirasa cukup, maka mereka dapat mengembangkan penelitian yang bertujuan menghasilkan suatu bentuk referensi ilmiah yang baru dan bermanfaat. Terakhir, bakti perguruan tinggi adalah ilmu yang bermanfaat, yakni bagaimana ilmu yang telah didapatkan dari pendidikan dan penelitian tersebut dapat disumbangkan kepada masyarakat. Artinya apa yang dikembangkan dalam kehidupan kampus memiliki hubungan dengan sistem yang berada di luarnya.

Begitu banyak peran yang harus dijalankan oleh mahasiswa. Setidaknya berusaha untuk berperan aktif dalam kegiatan yang berpacu pada Tri Darma Perguruan Tinggi. Kesuksesan yang akan diraih di akhir hanyalah milik mereka yang pandai dalam memanage peran tersebut. Dan sangatlah fatal akibatnya bagi mereka yang hanya menonton dan bertanya namun tanpa usaha yang jelas untuk diri mereka. Peran utama mahasiswa jelaslah sebagai sebuah kewajiban individu kepada orang tua masing – masing. Selembar sertifikat ijazah dengan nilai memuaskan merupakan suatu kebanggan yang dihadiahkan kepada kedua orang tua tercinta.

Dalam perkembangannya, peran mahasiswa sebenarnya terbagi menjadi berbagai macam. Namun saat ini saya akan menitikberatkan pada contoh kasus peran mahasiswa dalam hal sosial dan politik. Kedua buah peran ini tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Sebab berbagai peran sosial yang dilakukan mahasiswa tidak luput sebagai bentuk peran politik aktif mereka terhadap keadaan bangsa. Melalui organisasi - organisasi kampus dan kemahasiswaan, mahasiswa membantu masyarakat menyelesaikan perkara sosial yang ada dalam masyarakat. Peran sosial ini dapat berupa melakukan kegiatan bakti sosial untuk yang tertimpa musibah bencana, baik alam ataupun Human Error. Peran sosial dan politik mahasiswa diharapkan selalu muncul di saat yang tepat untuk membela kepentingan rakyat.

Contoh permasalahan sosial yang paling konkret adalah mengenai anak jalanan. Jumlah anak jalanan di Jakarta cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Dinas Sosial DKI Jakarta mencatat, saat ini ada 7.300 anak jalanan di Jakarta. Jumlah itu meningkat sekitar 10 persen dari tahun lalu. Padahal bagi anak jalanan yang berasal dari Jakarta, pemerintah melakukan pendekatan dengan cara menempatkan petugas di titik-titik yang menjadi tempat berkumpulnya anak jalanan.

Dalam Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 disebutkan bahwa:

“Fakir miskin dan anak - anak terlantar dipelihara oleh Negara”

Maka secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa semua orang miskin dan semua anak terlantar pada prinsipnya dipelihara oleh Negara, tetapi pada kenyataannya yang ada di lapangan bahwa tidak semua orang miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara. Seseorang dapat dikatakan sebagai anak apabila ia masih berusia dibawah 18 tahun dan belum terikat dengan suatu perkawinan, karena jika ia belum berusia 18 tahun tetapi telah melakukan perkawinan maka ia dapat dikatakan telah dewasa.

Penanganan masalah anak merupakan masalah yang harus dihadapi oleh semua pihak, bukan hanya orang tua atau keluarga saja, tetapi juga setiap orang yang berada dekat anak tersebut harus dapat membantu pertumbuhan anak dengan baik termasuk kita sebagai seorang mahasiswa. Mengenai anak terlantar banyak hal yang sebenarnya dapat diatasi seperti adanya panti-panti yang khusus menangani masalah anak terlantar tetapi karena kurangnya tenaga pelaksana dan minimnya dana yang diperoleh untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut serta tingkat keseriusan pemerintah dalam menangani hal ini yang masih relatif rendah maka kelihatannya panti-panti tadi dikhawatirkan tidak akan berfungsi dengan baik lagi.

Menurut Supeno, jalanan yang ditempatkan petugas memang bersih dari anak jalanan. Namun, apabila petugas tidak ada, anak-anak itu akan kembali mengemis dan mengamen di jalanan. Hal ini pula yang sering penulis lihat di setiap jalan protokol di ibukota, terutama di lampu merah. Mungkin banyak hal yang bisa kita simpulkan saat kita melihat mereka berada di jalanan. Tapi terkadang kita hanya bisa melihat tanpa melakukan hal aktif yang sebenarnya mereka butuhkan. Mereka yang mengemis rata - rata anak kecil, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengemis dan mengamen adalah anak muda yang masih berbadan kekar dan tampak sehat.

Seperti yang mungkin sudah diduga banyak orang, para pengemis dan pengamen anak ini sudah melupakan pendidikan. Sebenarnya ada kesempatan untuk sekolah, tapi kemauan mereka yang sudah lenyap. Ketua LSM (lembaga swadaya masyarakat) SWARA, Endang Mintarja, yang bergiat untuk anak-anak jalanan di sekitar Jakarta Timur menyebut kondisi ini sebagai titik “aman” orang tua. Maksudnya, orang tua memang sengaja membiarkan anak-anaknya mengemis dan mengamen di jalanan. “Kenapa dibiarkan? Karena mereka juga mengambil keuntungan dari situ,” katanya. Lalu mengenai pendidikan, beberapa tahun ke belakang Endang dan beberapa timnya memberikan ke-sempatan kepada anak-anak ini untuk sekolah. Masalah biaya SWARA akan berusaha membantu.

Namun kenyataannya tak banyak orang tua dan anak-anak yang tertarik dengan program ini. Mereka lebih senang di jalanan ketimbang harus duduk dan belajar di sekolah. Begitu pula ketika mereka disuruh membacakan Pancasila. Seorang anak dengan cepat langsung mengacungkan tangannya dan berdiri di antara anak-anak lainnya. “Pancasila! Satu, Ketuhanan yang Maha Esa. Dua, mari mengamen sama-sama,” kata anak itu sambil tertawa terbahak-bahak.

Melihat hal tersebut, apa kita sebagai seorang mahasiswa hanya diam saja?

“ TIDAKK !!! ”

Sesungguhnya mahasiswa diciptakan untuk membangun kembali bangsa ini yang telah jauh terjatuh, perlahan namun pasti jelas akan tiba masa mahasiswa membawa keadilan yang merata untuk segenap rakyat Indonesia. Peran dijalankan dengan penuh tanggung jawab untuk mewujudkan Indonesia yang dicita - citakan oleh kita semua. Indonesia dan Rakyat Sejahtera.

Aksesdunia.com/2012/kisah-pilu-kehidupan-anak-jalanan-di-jakarta/

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ratu Atut Divonis Empat Tahun Namun Terselip …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Katanya Supercarnya 5, Setelah yang Bodong …

Ifani | 12 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 13 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: