Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Mayoko Aiko

Pemilik sekolah menulis gratis. CENDOL. CErita Nulis Diskusi OnLine. Diskusi Fiksi.Menulis Fiksi.MEmbaca FIksi (Universal Nikko+mayokO selengkapnya

Ngumpulke Balung Pisah (Reuni Akbar SMPN1, Manyaran)

REP | 18 April 2013 | 16:26 Dibaca: 413   Komentar: 5   2

Balung dalam pemahaman eksak berarti tulang atau kerangka. namun dalam pemahaman sosial kekerabatan, balung memiliki makna lebih luas dan filosofis. Balung bisa diartikan secara luas menjadi kekerabatan, atau juga pertemanan atau juga hubungan yang begitu kuat sampai rasa itu menjadi bagian dari isi tulang belulang. Begitulah kata ‘balung” sangat sakti untuk menggambarkan semua hal itu.

Dari pertautan pertemanan di facebook antar mantan Alumni SMP Negeri 1, Manyaran, Wonogiri yang secara intens berkomunikasi secara maya, tiba-tiba terpikir bagaimana bila komunikasi secara maya itu terwujud dalam pertemuan besar secara fisik. Yang tadinya kasat mata, menjadi nampak nyata. Bisa menyapa, bisa berjabatan tangan, bisa curhat dan bisa memperhatikan sebagian rambut alumni yang mungkin saja sudah memiliki dua warna.

Adalah seorang junior (sebutan untuk adik kelas) yang memiliki ide mengumpulkan Alumni SMP N 1 Manyaran, Wonogiri dari Angkatan Pertama (1983) hingga angkatan 90an.

Reuni Akbar yang dikemas dengan semangat paling menyentuh “Ngumpulke Balung Pisah” yang digagas oleh salah satu alumni bernama Setianto Joko, ternyata cukup ampuh menjadi magnet buat mengumpulkan Alumni SMP Negeri 1, Manyaran, Wonogiri yang tersebar di seluruh dunia.

Sesuatu yang tadi lahir dari pemikiran maya bersambut ke lintas generasi. Bahkan salah seorang penulis nasional alumni SMP Negeri 1 Manyaran, Otran Soenarto, dibuat bergegas untuk ikut menggelorakan semangat reuni akbar ini.

Sesungguhnya apa yang mendasari begitu kuatnya kekerabatan suatu komunitas? Banyak hal terjadi yang membuat semangat gotong royong, saling toleransi di Indonesia makin semu, makin pucat dan lama-lama luntur dari bumi Indonesia tercinta. Feodalisme, individualisme saat ini menjadi fenomena yang terus bermunculan, tidak hanya di kota besar tetapi juga merampah hingga ke pedesaan.

Jangan heran bila sekarang, banyak orang yang lebih suka berkunjung ke mall daripada saling berkunjung ke keluarga. boleh dibilang dalam 1 tahun orang saling mengunjungi terjadi satu kali saat lebaran. Tetapi, setiap orang mungkin saja akan berkunjung ke mall empat kali dalam seminggu.

Apakah kekerabatan di Indonesia mulai luntur? Yang jelas saat ini kita nyaris tiap hari disuguhi tawuran antar kampung. tawuran sekolah dan disharmonisasi.

“Ngumpulke Balung Pisah” adalah sebuah gerakan sosial yang mungkin saja itu bersifat lokal karena kecilnya lingkup peserta. Tetapi pesannya tentu tidak sekecil itu. Pertemanan yang nyaris hilang bisa timbul dengan acara-acara kekerabatan seperti ini.

“Semangat pertemuan yang digagas sangat dalam mengingat kita dulu pernah sama-sama satu kandang.” Jiman Sastrowijoyo yang sekarang sukses menjadi dealer forex menyampaikan pemikirannya.

Sangat simple. Satu kandang pastilah memiliki makna yang lebih luas dalam pemaknaan sebagai bangsa Indonesia yang komplek.

Sementara seorang alumni lain, Parkist Senopati dan Tetucho Pringgondani menyampaikan harapannya bahwa reuni ini bisa menjadi penyemangat persaudaraan khusunya warga Manyaran, Wonogiri.

Kecamatan Manyaran, merupakan salah satu kecamatan Kabupaten Wonogiri. Wilayah ini terletak di sebelah barat kabupaten Wonogiri dan menjadi wilayah perbatasan dengan DI Yogyakarta. Manyaran juga menjadi salah satu pemangku budaya sekaligus pusat dunia tatah sungging dan yang pasti dari daerah ini dalang-dalang nasional dilahirkan.

Wilayah yang memiliki kekayaan alam berupa kayu jati dan batu-batu alam yang indah ini juga memberi andil pada pasokan kebutuhan kacang mede dunia.

Sukasno Kazuo yang kali ini didapuk sebagai wakil ketua Reuni Akbar “Ngumpulke Balung Pisah” SMP N 1 Manyaran, Wonogiri juga berharap siapapun yang pernah lahir dan menginjak bumi Manyaran, untuk ikut berkumpul pasca lebaran nanti, di Aula SMP Negeri 1, Manyaran. “Ngumpul bareng ben iso ngguyu bareng.”

‘Ngumpulke Balung Pisah’ adalah pesan sosial, sebab dari situ kita bisa kembali membenihkan nilai-nilai kekerabatan dan gotong royong yang mulai pudar dari bumi pertiwi.

mayokO aikO

Praktisi Periklanan dan Kepala Sekolah Kelas Cendol

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pesona Pasar Legi Kotagede: Kerukunan …

Sulfiza Ariska | | 19 December 2014 | 17:43

Jangan Mau Mengajar Mahasiswa …

Giri Lumakto | | 20 December 2014 | 00:33

(Maaf) Ngupil Pun Ada Etikanya …

Find Leilla | | 19 December 2014 | 14:04

Sang Penabuh Kabar …

Muhammad Armand | | 19 December 2014 | 10:18

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Mau Lihat Orang Jepang Panik Antri Bensin? …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 9 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 9 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 10 jam lalu

Media Online, “Pelahap Isu Hoax” …

Ajinatha | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: