Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Hater To Lover

Kupikir, membenci jauh lebih sulit daripada mencintai. Dan itu jelas menyakitkan. Akuilah!

Tatanan Dunia Baru Kaum Satanis

OPINI | 17 April 2013 | 14:01 Dibaca: 1117   Komentar: 4   0

Apakah Anda merasakan suatu perjalanan yang sedang terjadi?…

Tatanan Dunia Baru menurut yang ane pahami, bukan berarti negara-negara yang ada di dunia harus menjadi satu padu, dunia satu negara, bukan itu. Dunia baru yang ingin diciptakan oleh mereka kaum satanis adalah, dunia dengan aturan yang sama, dengan cara hidup yang sama, dengan kebebasan yang sama. Maka perbedaan nama dan letak negara sudah tidak berarti lagi jika gaya hidup yang dianut sama. Dan itulah dunia baru yang ingin mereka ciptakan. Biarkan manusia hidup di negaranya masing-masing, bahkan terus meneriakan nasionalismenya masing-masing, dan boleh saja mereka memegang agamanya masing-masing, tapi cara hidup yang harus mereka jalani, harus sama, yaitu menganut paham “satanis”. Paham kebebasan, “lakukan apa yang kau inginkan!”

Itulah yang disebut Tatanan Dunia Baru, yaitu dunia yang merujuk pada undang-undang kaum satanis yang tertulis di buku The Book of The Law karangan Alaister Crowly, yang berbunyi, “lakukan apa yang kau mau, karena itu menjadi keseluruhan hukum. Tidak ada hukum yang melebihi selain lakukan apa yang kau inginkan”.

Aturan kaum satanis itu sudah terjadi, sebagian besar masyarakat dunia sudah menganutnya, dan sebagian yang lainnya telah membela habis-habisan disamping juga menyebarkannya. Aturan itu memang sangat manis terasa, seolah benar dan menjadi hakikat kehidupan manusia. Coba anda pikirkan hukum ini, “lakukan apa yang kau mau?” Adakah hukum yang melebihi itu? Tidak ada bukan, itu sudah menjadi hukum yang sangat dasar. Setiap manusia melakukan apa yang mereka inginkan, itu memang tidak salah bukan? Mau mabok, mau telanjnag, mau seks bebas, mau tidak sekolah, mau membunuh, mau memperkosa, mau mencuri, mau menjajah, mau jadi baik, mau jadi jahat, mau munafik, mau jujur, mau pintar, mau bodoh, mau teriak-teriak, mau nyaci, mau memuji, mau ini mau itu, dll.

“Lakukan apa yang kau inginkan” tidak ada yang mampu membatasinya kecuali keinginan manusia itu sendiri, apakah dia mau melakukannya, atau tidak. “Tidak ada yang perlu ditakuti selain akibat tindakan kita…” (Vexen Crabtree, “A Description of Satanisme”)

Namun, norma masyarakat membatasi kebebasan manusia dalam berprilaku, hukum negara memperketat tindakan manusia dalam hubungannya dengan sosial dan hal lainnya, apakah perilakunya merugikan orang lain atau tidak. Dan agama, jelas hukum terketat dari semua aturan, karena perilaku manusia diatur sedemikian rupa, dari hal duniawi sampai ukhrowi, aturannya sangat ketat, maka pantas agama bisa dikatakan “penjara dunia”. Belum lagi hukum lokal, budaya, adat istiadat, itu juga menjadi sekat dalam beberapa hal yang membatasi kebaikan di sini berlaku, dan di sana tidak, semua tergantung budayanya.

Belum lagi akal pikiran manusia sendiri, yang tentu sebagai “penentu” sesuatu pantas dilakukan atau tidak, meski semua bisa dilakukan, tapi akal memisahkan mana yang baik dan mana yang tidak, mana yang benar mana yang salah. Berbeda dengan aturan yang ditentukan negara atau agama, manusia tidak berhak melakukan kebebasan sepenuhnya, banyak hal yang harus dihindarkan. Mau atau tidak, manusia harus melakukannya, karena aturan negara aturan bersama. Sedangkan aturan agama, itu menyangkut keyakinan, maka kebebasan manusia terkendali dengan keyakinanya.

Jadi saat ini, adanya aturan-aturan baik itu norma masyarakat, negara, agama bahkan budaya, masih membatasi perilaku kebebasan manusia. Dan hal itu juga yang menciptakan keberagaman kehidupan di dunia ini, manusia mempunyai budaya yang berbeda, agama yang berbeda, negara yang berbeda, dan norma yang berbeda. Jadi sangat terlihat manusia itu hidup dengan keberagamannya yang menurut saya, indah!

Tapi sepertinya kekuatan aturan itu tidak akan lama, sebab paham satanisme sudah bersarang disetiap detil kehidupan, dari negara sampai ke individu masyarakat! Mungkin tidak akan lama lagi, di negara kita akan terjadi demo yang menuntut wanita boleh telanjang dada di mana saja! “Ini tubuh kami, suka-suka kami mau ngapain juga pada tubuh ini”. Atau remaja berdemo meminta ganja dihalalkan, atau kaum homoseksual minta negara mensyahkan pernikahan mereka. Dan mungkin juga akan terjadi, kapan saja dan dimana saja dua sepasang kekasih mau berciuman, jangan sampai ada yang merasa terganggu dan risih. Bukankan itu sudah terjadi di beberapa negara?

Oh iya, jika dipikir-pikir, misal ya, remaja yang melakukan kehidupan bebas seperti mabuk-mabukan, merusak dirinya dengan obat-obatan, tawuran, seks bebas, dll. Sepertinya mereka tidak melakukan apa yang mereka inginkan, tapi mereka melakukan apa yang “kaum satanis” itu inginkan.

Sudah mulai mengerikan sekali hidup ini. Manusia memang bebas melakukan apa saja, yah, lakukanlah apa yang kau mau…. sana, lakukan! Bukan urusan saya. Individualisme, sudah terasa bukan? Anda mengatakannya apa? Saya mengatakannya kasih sayang sesama manusia dalam hal menjaga kebaikan dan berbuat baik sudah semakin pudar!

Mau berbuat baik dan buruk, sudah jangan jadi urusan orang lain, selama tidak merugikan, jangan ikut campur. Apa yang Anda lihat? Saya melihat seseorang telah membuang cinta dan rasa peduli orang lain padanya!

Saya tidak peduli dengan berbagai perbincangan tentang kaum satanis yang ada kaitannya dengan sesosok mahluk mengerikan seperti kambing, atau satanisme paham yang ingin meruntuhkan aturan Tuhan. saya tidak peduli dengan itu.

Yang saya tahu, di dunia ini, ada orang yang meyakini bahwa manusia harus menganut paham kebebasan, “lakukan apa yang kau inginkan”, dan mereka memperjuangkan paham itu, menyebarkannya keseluruh manusia, agar semua manusia menganut cara hidup yang sama. Dan saat itu terjadi, agama dan negara tidak berguna, semua itu hanya akan jadi wadah dimana manusia hidup dan berbicara, tapi cara manusia menjalani hukum kehidupan, semuanya sama. Tidakkah itu dunia yang baru? Memang, Tidak terlalu baru, karena saat ini kita sedang melakukan perjalanan itu.

Kehidupan tidak diam dalam satu “titik yang kosong” (Netral), di kehidupan ada “kekuatan” yang membawa kita pada “kengerian” dan ada juga yang membawa pada “keindahan”. Tinggal memilih, dan saat kita memilihnya, kita pasti akan memperjuangkannya. Karena setiap yang dipilih, biasanya itu sesuatu yang dianggap benar, atau tepat, dan pantas untuk diperjuangkan!

Saya tidak berbicara Tuhan dan Setan, saya berbicara…. Owh, apakah yang saya bicarakan tadi?…

“Banyak sekali kebaikan di dunia ini yang pantas untuk diperjuangkan, Mr. Frodo…”


@HaterToLovers

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Inilah 3 Pemenang Blog Movement “Aksi …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 10:12


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 11 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 19 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 21 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


Subscribe and Follow Kompasiana: