Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Okahfight

praktisi pendidikan di sebuah sekolah terpencil di Banjarnegara.

Khazanah Trans 7 = Wahabi?

OPINI | 17 April 2013 | 21:07 Dibaca: 728   Komentar: 6   0

Kompasioner terbelah menanggapi pelaporan khazanah Trans 7 ke KPI.  Ada dua kubu yang saling serang.  Satunya mengaku sebagai aswaja yang anti dengan konten khazanah Trans 7,  satunya adalah pihak yang pro dengan acara tersebut.  Pihak yang kontra jelas berdalih acara ini merusak persatuan umat Islam.  Ditambah lagi dengan komentar bahwa acara ini ditunggangi oleh paham Wahabi.

Siapa Wahabi dan siapa Aswaja? saya sendiri jadi penasaran dengan kedua istilah ini.  Maklum,  saya hanya muslim yang masih awam.  Saya hanya mengerti kewajiban seorang muslim seperti dalam rukun Islam.  Dan memang tidak pernah mengenal ziarah kubur ke makam walisongo, sholawatan, dst.  Khazanah Trans 7 membuka wawasan tentang hal tersebut di mata saya.

Apakah persatuan umat Islam di Indonesia akan pecah? Menurut saya sih,  umat Islam sudah sangat faham perbedaan keyakinan ini.  Coba saja lihat pada saat penentuan hari raya Idul Fitri.  Masyarakat tetap mengikuti sholat Ied sesuai keyakinan dan tidak terlalu khawatir pihak yang kontra akan mengganggu.  Ini khan bisa dikatakan persatuan juga (walau masih berbeda).  Bahkan masyarakat yang merayakan Idul Fitri terlebih dahulu akan mengundurkan waktu silaturahmi sampai seluruh saudara/tetangganya merayakan.

Masyarakat sudah cerdas, ketika ada yang akan ziarah kubur silakan saja.  Tidak ada hambatan dan larangan dari yang kontra.  Jika tidak berminat ziarah kubur,  ternyata juga yang ziarah kubur tidak memaksa supaya mengikuti.  Hal ini sebenarnya mengajarkan kepada orang - orang yang meributkan perbedaan ini.  Segelintir orang yang mengaku ahli agama dari kedua paham yang berbeda inilah yang menyebabkan umat terpecah belah.  Tindakan mereka cenderung provokatif,  tidak membawa pencerahan justru menyalahkan satu sama lain.

Sudahlah,  permasalahan ini kita tahu tidak bakal rampung diperdebatkan.  Seyogyanya yang dibahas adalah permasalahan umat yang lebih menyentuh kehidupan keseharian.  Tontonan televisi yang ada banyak yang lebih bahaya daripada Khazanah Trans 7.  Bahaya ini bukan untuk umat Islam saja, tapi bagi masyarakat tanpa membedakan keyakinannya.  Seperti Facebooker di ANTV,  guyonan yang tidak cerdas dan tidak tepat ditonton anak - anak.  Sinetron - sinetron yang dangkal dan penuh hedonisme.  Berita - berita yang lebih didasarkan atas gosip bukan fakta.

Perdebatan di dunia maya tentang masalah ini sudah mengarah pada Cyber Bullying.  Padahal mereka yang berdebat mengaku faham agama.  Cobalah hindari debat tentang perbedaan yang masih abu-abu.  Energi kita difokuskan untuk mengerjakan yang jelas baik saja.  Kesantunan dalam berbicara/menulis ini menjadi yang pertama dikedepankan bukan cuma nafsu untuk menjatuhkan pendapat lawan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ahok Lengser atau DPRD DKI …

I.t. Kriyonadhy | | 27 February 2015 | 23:59

Membaca Buku Akankah Menjadi Gaya Hidup?? …

Deassy M Destiani | | 27 February 2015 | 21:19

Bahasa Indonesia: Cerminan Budaya Bangsa …

Kevin Christian Wib... | | 27 February 2015 | 23:13

Unik! Batu Bercap Tapak Kaki Orang Kuno di …

Mawan Sidarta | | 27 February 2015 | 22:22

Sepasang Bintang yang Berlinang …

Andi Wi | | 27 February 2015 | 19:04


TRENDING ARTICLES

Ahok dan APBD 2014 Giring DPRD DKI ke Rumah …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Nyalo UPS, DPRD DKI Dapat Untung 321 Milliar …

Abd. Ghofar Al Amin | 9 jam lalu

Bagaimana Ya Cara Memecat Wakil Rakyat? …

Marius Gunawan | 13 jam lalu

Stop Kumpulin Koin! …

Tjiptadinata Effend... | 13 jam lalu

Hati-hati, Ahok “Mengincar” …

Anna Melody | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: