Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Nur Lodzi Hady

Seorang warga negara biasa

Tawuran dan Hilangnya Jimat Kalimasada

OPINI | 16 April 2013 | 18:41 Dibaca: 271   Komentar: 0   0

Belum kering ingatan kita terhadap berbagai kasus tawuran pelajar yang marak akhir-akhir ini dan telah menelan korban jiwa, belakangan kita kembali dipertontonkan perseteruan massal mahasiswa antar fakultas di Makasar, yang juga tak pelak menelan nyawa. Umumnya kejadian-kejadian ini berlatar belakang masalah-masalah yang sama sekali tidak substansial, hanya perselisihan kecil yang lantas menyulut emosi perorangan dan lalu berlanjut pada kerumunan yang mendorong terjadinya bentrokan.

Selain di sekolah dan kampus, perbedaan pendapat atau cekcok kecil antar individu pun seringkali berakhir dengan adu jotos dan aksi balas dendam yang melebar ke arah anarcho sosial. Begitu mudahnya masyarakat kita jadi tersulut dan saling menyerang hanya dikarekan hal-hal sederhana. Keretakan sosial adalah bahaya besar yang mengancam bila tidak segera dipikirkan secara serius dan diambil tindakan-tindakan yang tepat untuk mencairkan keadaan.

Berbagai analisis dan pendapat dilontarkan para pakar menyangkut berbagai kasus tersebut. Dari persoalan ekonomi, psikologis sampai hilangnya gairah nasionalisme yang berujung pada kendurnya nilai tenggang rasa dan kekawanan. Ada pula pendapat aneh yang menyebut bahwa fakta-fakta tawuran adalah bukti dari tingginya tingkat solidaritas sosial masyarakat kita. Sebagai olok-olok pendapat ini bisa jadi benar. Ironis memang.

Beberapa hari lalu saya melintas di Jl. Rasuna Said Jakarta. Saya melihat beberapa pelajar SMP sedang bergerombol di samping jalan sambil bercanda, keadaan yang tentu normal dan seharusnya bisa mengingatkan kita pada kesan masa-masa pubertas yang mengesankan :), tapi bayangan itu lenyap tiba-tiba manakala saya melihat mereka sedang seperti mempercakapkan sesuatu yang kira-kira temanya “asyiknya tawuran”. Dianatara abg-abg ini ada yang sedang berdemonstrasi memutar-mutarkan ikat pinggang, lalu menyeruduk satu sama lain. Meski hanya canda, gambaran tersebut sangat kuat membetot rasa khawatir di benak kita: mau “kemana” anak-anak kita ini?

Berbagai aksi tawuran pelajar di jalan-jalan protokol yang luput dari tangan aparat keamanan bukan saja meresahkan masyarakat. Anak-anak ini bukan sedang mengaktualisasi diri dan mengasah kemampun demi kebaikannya sendiri di masa depan, sebaliknya sedang menjadi bagian dari sebuah proses peretakan yang akut di negeri ini. Dampak global informatika dan teknologi telah mereka serap sedemikian rupa dan tampak oleh kita, “sisi racun”nya sedemikian tampak mendominasi dan memicu berbagai aksi tersebut. Mereka sedang limbung, kehilangan pegangan yang seharusnya mereka dapatkan, entah dari guru, orang tua maupun lingkungannya.

Celakanya, hal serupa juga menimpa kalangan dengan level di atas kisaran umur dan kadar ‘intelektual’ para pelajar tersebut, mahasiswa. Civitas akademika semakin ke belakang semakin kehilangan nuansa edukatifnya, baik secara normatif sebagai garda moral-intelektual maupun pejuang kepentingan rakyat. Apa yang mereka lakukan sama sekali tak ada bedanya, kecuali mungkin dalam hal segmentasi sosialnya saja.

Tampak benar masyarakat muda kita sedang kehilangan keteladanan. Kehilangan pegangan setelah 32 tahun lebih dipaksa tunduk pada standard kendali keamanan nasional dengan pendekatan militeristik dan dihambatnya kebebasan ekspresif. Kebekuan panjang yang lantas ambrol tiba-tiba dengan dimulainya fase ‘reformasi’ yang tegak lurus dengan meledaknya perang informasi global telah menghadirkan kenyataan-kenyataan seperti sekarang ini.

Banyak usul dan nasehat bagaimana mengatasi hal ini agar tidak makin meluas  - selain bahwa keamanan memang harus dimaksimalkan - yakni bahwa upaya me-reidiologisasi bangsa ini musti harus dilakukan. Harus ada approach yang lebih kekinian dan dilakukan oleh elemen masyarakat secara bersama-sama dan sinergis, demi mendiagnosa berbagai pengalaman terakhir beserta dampak-dampaknya dan apa yang sebenarnya terjadi di aras global di mana mau tidak mau masyarakat kita dipaksa untuk turun gelanggang dan ambil bagian.

Peran internet dan jejaring sosial misalnya, betapa besar kontribusinya untuk mendekonstruksi budaya tatap muka yang menjadi dasar kearifan dan sopan santun antar sesama. Acara-acara televisi misalnya yang secara massif selama 24 jam penuh membombardir bawah sadar generasi kita dengan berbagai produk-produk tontonan yang bukan saja sering ‘miskin’, tapi juga merusak watak ‘ketimuran’. Banyak hal yang musti dikaji, dibenahi.

Dunia pendidikan kita sedang kritis dan tergagap-gagap menghadapi berbagai gempuran global. Karenanya bukan saja repressive state apparatus yang musti kerja keras berupaya meredamkan pertikaian sosial, tapi terlebih lagi musti melakukan redefinisi dan merancang formula yang relevan untuk idiological state apparatus sebagai piranti perubahan perilaku. Banyak jalan yang bisa kita pilih dimana Pancasila, yang juga bisa kita maknai disini sebagai Jimat Kalimasada (lima landasan utama) musti ditegakkan kembali, diterjemahkan sebagai pilar falsafi, berdamping erat dengan empat pilar cita-cita kemerdekaan bangsa ini. Sudah tampak jelas, sebagai kesatuan idiologi dan nilai kita telah sampai di titik “paceklik” yang bila terus dibiarkan maka dimungkinkan akan bisa menyulut berbagai kobaran masalah besar yang siap mendera bangsa ini dengan kekacauan yang lebih tak terkendali. Dan hal ini baru akan bisa terlaksana dengan sebuah langkah tegas untuk “Memulai”. Jadi, ayo!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Burung tentang Bandung: Superhero …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 14:15

Ikhlas, Kunci Ibu Bisa Bahagia …

Sekar Sari Indah Ca... | | 20 December 2014 | 13:33

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35

Mazagran: Lahir dari Perang, Lalu …

Kopi Keliling | | 20 December 2014 | 13:38

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 7 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 7 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 8 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: