Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Yass Arlina

senang menulis, dan berharap tulisannya bermanfaat bagi siapa saja. Pembaca juga dapat mengunjunginya pada blog selengkapnya

Sang Istri Muda yang Baik Hati

OPINI | 16 April 2013 | 10:20 Dibaca: 330   Komentar: 0   0

Bulan lalu saat mengantar ibu mertua berangkat  umrah, di bandara saya diperkenalkan dengan salah seorang kerabat jauh, pak Munir, yang juga ikut rombongan umrah bersama ibu. Usia Pak Munir sekitar 50 tahun. Yang membuat saya terkagum setelah itu adalah tentang dua istrinya.  Tetapi jangan membayangkan dulu kedua istrinya seperti para istri Jendral Joko Susilo.  Mereka perempuan yang sederhana.

Waktu sedang berbincang dengan adik ipar saya, dia menunjuk dua orang perempuan yang sedang berjalan, kelihatannya mereka habis dari toilet.  “Itu kedua istri Pak Munir”, katanya pada saya.  Saya langsung memperhatikan kedua perempuan itu yang berjalan membelakangi kami.  Perempuan yang satu menggandeng dengan hati-hati tangan perempuan yang lain, mereka berjalan pelan.  Sesampai di tempat duduk, perempuan yang masih muda, sebut saja namanya mbak Yanti, membantu dengan hati-hati mendudukkan perempuan yang satunya (Bu Warni).  Saya mengamati mereka dengan kagum.  Pikiran nakal saya muncul, “ Kok bisa ya”.  Tetapi semua berubah setelah saya mengenal mereka lebih jauh.

Mbak Yanti, usianya belum 4o tahun, merupakan istri muda Pak Munir, dan Bu Warni adalah istri pertamanya. Bu Warni sudah lama menderita sakit sehingga tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Di bandara saya juga menyaksikan sendiri betapa akrabnya mbak Yanti berbincang dengan kedua anak laki-laki pak Munir dan Bu Warni.  Anak laki-laki pertamanya kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri ternama, sedangkan putera kedua tahun ini akan menyusul kuliah.

Pada saat kami akan pulang karena ibu dan rombongan akan berangkat, keluarga Pak Munir meminta bantuan kepada kami untuk mengantarkan Mbak Yanti, Bu Warni dan kedua anak laki-lakinya ke terminal bis karena mereka tidak mempunyai kendaraan sendiri. Tentu  dengan senang hati kami menerimanya dan kebetulan kami juga melewati jalur itu.

Kembali saya menyaksikan bagaimana baik hatinya Mbak Yanti yang dengan sabar menuntun Bu Warni menaiki mobil dan mendudukkannya. Di dalam kendaraan saya juga mendengarkan percakapan Mbak Yanti dengan si mahasiswa putra Bu Warni.  Mbak Yanti menanyakan apa ada kesulitan dalam menyelesaikan tugas akhir, dan sang putra pun bercerita seakan-akan dia sedang mencurahkan isi hatinya kepada ibu kandungnya sendiri.   Sungguh saya terkesima mendengarnya.

Pada saat saya bertanya kepada Mbak Yanti kenapa tidak ikut berangkat umrah, dengan enteng dia menjawab, “ Nggak cukup uangnya bu, kalau saya pergi siapa yang carikan uang untuk anak-anak”. Melalui perbincangan dalam kendaraan ini saya juga baru tahu bahwa Mbak Yanti dan Pak Munir berjualan es di rumahnya.

Kami berpisah di terminal bis, kembali saya menyaksikan kebaikan hati Mbak Yanti menurunkan Bu Warni dari kendaraan.

Hari itu saya mendapat pelajaran berharga.  Kadang-kadang pikiran kita langsung menghakimi yang namanya istri muda.  Walaupun saya anti poligami dan tidak mau dipoligami (heheehehe …..), tapi paling tidak pelajaran hari itu membuat saya menghormati Mbak Yanti.  Salam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Akh Jokowi? Kita Lihat Dulu Deh Kabinetnya …

Ian Wong | | 31 July 2014 | 08:18

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | 1 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 9 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 9 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 13 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: