Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Dewa Gilang

Single Fighter!

Eyang Subur, Soeharto, dan Bunga Wijayakusuma

OPINI | 16 April 2013 | 14:02 Dibaca: 1147   Komentar: 7   3

Salam neraka!

Perseteruan Eyang Subur dan kubu Adi Bing Slamet belum juga reda. Media bak berubah menjadi arena pertarungan demi memperebutkan opini publik. Hampir di setiap hari kita, selaku pemirsa, disuguhi oleh adegan terbaru dari perseteruan guru dan mantan murid tersebut.

Setidaknya perseteruan yang terjadi antara kedua tokoh tersebut cukup untuk membuat mata publik terbuka lebar dan menyadari adanya sosok yang dijadikan sebagai “guru spritual” di sekitar kita. Jika dahulu, sebelum perseteruan, keberadaan “guru spritual” seringkali dipertanyakan ada-tidaknya, namun, kini, pasca seteru, keberadaan “guru spritual” memang benar adanya.

Keberadaan “guru spritual” tak hanya berlaku bagi kalangan selebritis belaka, beberapa nama penting di Indonesia sempat tercatat mempunyai “guru spritual”, yang sering dijadikan rujukan oleh mereka. Mantan Presiden Soeharto, misalnya, tercatat pernah mempunyai “guru spritual” bernama Rama Dijat dan Soedjono Hoemardani.

Dua nama “guru spritual” Soeharto dengan baik direkan oleh Majalah Tempo Edisi 10 Februari 2008. Pada artikel “Soedjono dan Orde Dawuh”, Tempo mengutip pernyataan dari Dr Budyapradipta, pakar sastra Jawa UI, yang juga pernah menjabat sebagai sekretaris pribadi Soedjono pada tahun 1983-1985, yang bercerita perihal bagaimana kedua “guru spritual” Soeharto dengan susah payah mencari bunga wijayakusuma hingga ke Nusa Kambangan. Bunga Wijayakusuma sendiri dipercaya sebagai senjata Kresna perlambang kemakmuran suatu negara.

Ketika bunga tersebut telah didapat, kemudian ditanam di tiga titik, yakni di Cendana (kediaman Soeharto), Istana Negara dan di Keraton Solo. (Lihat Tempo online edisi khsus “Guru Spritual Para Selebritis”).

Sehingga Adi dan kawan-kawannya tidak sendiri dalam pencarian akan sosok “guru spritual”. Di luar sana, banyak masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan strata dan kalangan, juga mencari serta memiliki sosok “guru spritual”. Entah sebagai sekedar masukkan saran atau lebih dari itu, yakni sebagai “pegangan” batin di samping “pegangan” lahir.

Lalu bagaimana dan mengapa masyarakat cenderung membutuhkan kehadiran “guru spritual”? Dr Zuly Qadir dalam bukunya, “Esai-esai Agama Di Ruang Publik”, pernah menulis perihal fenomena merebaknya nabi baru di kalangan masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah rapuhnya jiwa masyarakat dalam menghadapi berbagai tekanan hidup. Sehingga jiwa yang rapuh disertai kekosongan dan kehampaan rohani mendorong seseorang untuk mencari pegangan. Dan itu ia temukan pada sosok yang celakanya mengaku sebagai nabi.

Jika kita ganti kalimat “nabi baru” dengan “guru spritual”, maka bisa jadi alasan yang sama juga akan terpijak. Rapuhnya jiwa masyarakat menghadapi berbagai tekanan hidup, kekosongan dan kehampaan disertai kebutuhan akan siraman ruhani, akan membuat seseorang rentan frustasi dan kehilangan kepercayaan diri. Karenanya mereka memerlukan “sesuatu” untuk dijadikan pegangan, yang bisa menumbuhkan kepercayaan diri mereka. Dan “sesuatu” itu mereka temukan pada sosok “guru spritual”.

Dengan membaca lebih dalam maksud ulasan dari Dr Zuli Qadir, maka kiranya sangat sulit ditemui di bumi Indonesia ini seseorang yang tak mempunyai “guru spritual”. Namun sosok “guru spritual” bisa berwujud apa saja dan ada pada diri siapa saja. Entah ia anda temukan pada sosok Ibu yang mengandung, Kiai, atau bahkan dukun. Atau mungkin saja “pegangan spritual” anda justru bukan ebrsosok layaknya manusia, seperiti Alquran, misalnya. Semuanya tergantung penilaian anda terhadap “guru spritual”.

Pertanyaannya, perlukah anda “guru spritual?”.

Gitu aja koq repot!

Selamat menikmati hidangan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 11 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 18 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 19 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 19 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: