Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Andri Yana

Lahir di Sumedang, 16 Desember 1993. Adalah Mahasiswa S1 pada Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Fakultas selengkapnya

SUMEDANG TANDANG

REP | 13 April 2013 | 12:53 Dibaca: 232   Komentar: 0   1

Sumedang Tandang (Tertib, Aman, Nyaman, Damai, ANGgun), itulah motto Kabupaten Sumedang yang kita cintai. Kabupaten yang mengusung dirinya sebagai puseur budaya Pasundan ini memang menyimpan banyak kebudayaan-kebudayaan sunda dan sejarah-sejarah terdahulu yang bisa membuat kita bangga. Sumedang dahulu kala merupakan sebuah kerajaan besar yang bernama kerajaan Sumedang Larang yang dikenal luas hingga ke pelosok Jawa Barat dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah Selatan sampai dengan Samudera Hindia, wilayah Utara sampai Laut Jawa, wilayah Barat sampai dengan Cisadane, dan wilayah Timur sampai dengan Kali Pamali. Masyarakat Sumedang pada saat itu banyak yang bertandang atau pergi ke tempat lain untuk memperluas daerah kekuasaannya atau pun mencari ilmu dan lain sebagainya.

Saat ini pun banyak masyarakat Sumedang yang sering bertandang dan melancong ke daerah lain untuk mencari pendidikan dan penghidupan yang layak sesuai motto dari kabupaten Sumedang ini yaitu Sumedang Tandang yang bisa dipersepsikan bahwa banyak masyarakat Sumedang yang bertandang ke daerah lain untuk mencari pendidikan atau pun penghidupan yang layak. Dan perlu kita ketahui bahwasanya banyak masyarakat Sumedang yang menjadi orang sukses dan ternama di daerah-daerah yang dia tandangi. Tak sedikit orang Sumedang menjadi tokoh di daerah tersebut dan menjadi professor-professor di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta khususnya di Bandung.

Penduduk Sumedang berjumlah kurang lebih 1.043.000 jiwa, dan memang kebanyakan masyarakatnya sebagian sering mempunyai kemauan untuk bertandang ke daerah lain untuk mencari penghidupan yang layak. Kita harus bersyukur ternyata sumber daya manusia di Sumedang banyak yang produktif, tetapi yang kita sayangkan adalah ketika orang itu telah sukses tak jarang dia memilih lebih menetap di daerah tersebut dan tidak mau kembali ke Sumedang. Sehingga ia tidak menyumbangkan ilmu dan kesuksesan yang diperolehnya untuk membangun masyarakat Sumedang, seolah-olah seperti kacang lupa pada kulitnya. Ironis sekali jika kita melihat banyak orang Sumedang yang telah sukses di daerah lain tetapi tidak mau membangun masyarakat Sumedang untuk tanah kelahirannya sendiri.

Seperti kita ketahui bahwa banyak perguruan-perguruan tinggi di sumedang baik itu perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swata, seperti Universitas Padjajdjaran (UNPAD), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang, Universitas Winaya Mukti (UNWIM), Universitas 11 April (UNSAP), bahkan sebentar lagi Institut Teknologi Bandung (ITB) akan membuka kampusnya di Sumedang. Dan banyak sekali warga Sumedang yang menempuh ilmu di perguruan tinggi tersebut. Disini diperlukan peran dari berbagai elemen seperti pemerintah, tokoh-tokoh terkemuka di Sumedang, dan seluruh elemen masyarakat Sumedang untuk memanfaatkan sumber daya manusianya untuk membangun masyarakat Sumedang.

Pemerintah harus aktif mendata warganya yang pergi mencari ilmu ke daerah lain sehingga ketika dia sudah selesai menempuh pendidikannya dia bisa memberikan hasil belajarnya untuk membangun masyarakat Sumedang dalam bidang apapun yang dibutuhkan. Sehingga dia memang merasa dibutuhkan dan dihargai atas kemampuannya untuk membangun masyarakat Sumedang. Saat ini jarang sekali peran dari pemerintah Sumedang untuk memperhatikan masyarakatnya yang sedang menempuh pendidikan di daerah lain. Seharusnya pemerintah Sumedang memberikan perhatian bagi warganya yang sedang mencari ilmu di daerah lain dengan cara memberikan beasiswa kepada mahasiswanya sehingga ketika dia sudah lulus, dia akan kembali ke Sumedang untuk memberikan pengetahuan dan kemampuan yang ia miliki untuk membangun masyarakat Sumedang menjadi lebih baik lagi. Sekarang tinggal peran dari semua pihak untuk memanfaatkan sumber daya manusia masyarakat Sumedang yang ada di daerah lain untuk sama-sama membangun masyarakat Sumedang untuk menjadi lebih baik lagi. Sesuai dengan semboyan yang ada di logo Sumedang, Insun Medal-Insun Madangan, Aku Lahir maka aku menerangi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50


TRENDING ARTICLES

Ternyata Gak Gampang Ya, Pak Jokowi …

Heno Bharata | 11 jam lalu

Bangganya Pakai Sandal Jepit Seharga 239 …

Jonatan Sara | 12 jam lalu

Invasi Tahu Gejrot …

Teberatu | 13 jam lalu

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 15 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Inggris tanpa Raya, Nasib istilah …

Adie Sachs | 8 jam lalu

Kupangku Kasihku (MDK) #1 …

Pietro Netti | 8 jam lalu

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | 8 jam lalu

Metode Baru Pilkada(sung) …

Muksalmina Mta | 8 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Kisah Penemuan Serum …

Mustafa Kamal | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: