Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Perkawinan Adat Suku Dayak Tomun

REP | 12 April 2013 | 12:19 Dibaca: 482   Komentar: 0   0

PERKAWINAN ADAT DAYAK TOMUN (BUDAYA BUJANG BABINI DARA BALAKI)

r />

BUDAYA BUJANG BABINI DARA BALAKI
Budaya “Bujang Babini Dara Balaki” merupakan salah satu kekayaan masyarakat Dayak Blaman. Jadi untuk itu, agar budaya “Bujang Babini Dara Balaki” bisa sungguh dipahami, maka perlu ada penjelasan mengenai budaya tersebut.
    1. Pengertian Bujang Babini Dara Balaki.
Bujang Babini Dara Balaki sebenarnya terdiri dari empat kata yang mempunyai pengertian masing-masing, menurut tata bahasa Dayak Blaman. Pertama, kata “bujang” maknanya adalah seorang laki-laki yang masih lajang; kedua, kata “babini” mempunyai pengertian beristeri; ketiga, kata “dara’artinya seorang perempuan yang masih lajang; sedangkan yang keempat, kata “balaki” mempunyai pengertian bersuami. Dari pengertian kempat kata tersebut maka dapat disimpulkan kalau “Bujang Babini Dara Balaki” adalah sebuah proses atau tata cara di mana seorang laki-laki dan seorang perempuan ingin membentuk sebuah rumah tangga, sesuai dengan keinginan dan tekad mereka. Budaya “Bujang Babini Dara Balaki” atau perkawinan merupakan perkawinan ideal menurut hukum adat masyarakat Dayak Blaman, yaitu pertemuan jodoh yang luhur antara seorang laki-laki dan perempuan yang sama derajatnya dengan tata cara yang diatur dengan hukum adat. Karmin kepala adat kampung Sungkup menuturkan juga seperti yang dijelaskan di atas kalau bujang babin dara balaki merupakan perkawinan ideal, yaitu pertalian jodoh seorang pria dan wanita.
Proses perkawinan dilakukan menurut ketentuan adat Suku Dayak Blaman yang terdiri dari:Risi’gumam/takun tanya, meminang/bapinta, dan kawin pengantin pulang pajadi. Dilihat dari bentuknya bujang babini dara balaki merupakan sebuah perkawinan yang monogami. Hal ini dapat dilihat dengan adanya kamuh (sangsi) atau tuntutan-tuntutan yang membatasi terjadinya poligami maupun poliandri. Monogami adalah seorang laki-laki atau perempuan hanya mempunyai satu isteri atau suami saja. Poligami adalah seorang laki-laki mempunyai lebih dari satu isteri dan poliandri seorang isteri mempunyai lebih dari satu suami dalam waktu bersamaan. Tetapi poligami maupun poliandri tidak diperkenankan dalam masyarakat Dayak Blaman dari sudut pandang hukum adat, walaupun pada kenyataannya masih ada pelanggaran yang dilakukan terhadap hukum adat, yang kemudian dilegalkan dengan memberikan kamuh atau sangsi. Namun hal di atas sudah jarang terjadi karena antar agama dan hukum adat mempunyai pandangan yang sama mengenai perkawinan yaitu bersifat monogami.
    1. Sifat-Sifat Perkawinan.
Perkawinan dilihat dari sifatnya dapat dibagi atas:
1. Perkawinan yang bersifat endogami, yaitu suatu perkawinan yang hanya dibolehkan dalam lingkungan keluarga sendiri.
2. Perkawinan yang bersifat eksogami, yaitu suatu perkawinan yang diperbolehkan di luar keluarga.
3. Perkawinan bersifat eleontrhogami, yaitu suatu perkawinan yang dilakukan di dalam keluarga sendiri maupun di luar keluarga.
Dalam masyarakat Dayak Blaman Kampung Sungkup perkawinan seperti yang dikemukankan di atas merupakan suatu yang biasa dan sering terjadi. Namun pada kenyataan yang terjadi saat ini, perkawinan yang terjadi bersifat eleontrhogami, yaitu perkawinan yang terjadi dalam keluarga sendiri maupun di luar keluarga.
    1. Tujuan Bujang Babini Dara Balaki.
Perkawinan adat maupun agama pada dasarnya mempunyai tujuan, misalnya untuk membentuk sebuah keluarga yang harmonis ataupun “tujuannya agar terwujudnya kesejahteraan suami isteri, kelahiran dan pendidikan anak”. Begitu juga halnya dalam masyarakat Suku Dayak Blaman Kampung Sungkup, perkawinan atau “Bujang Babini Dara Balaki” mempunyai tujuan untuk membentuk sebuah keluarga yang bahagia sesuai dengan harapan dan keinginan laki-laki dan perempuan yang menikah. Seperti halnya juga tujuan perkawinan secara umum, “Bujang Babini Dara Balaki” mempunyai tujuan untuk kebahagian suami isteri, pendidikan anak, mempererat tali kekerabatan dan yang tidak kalah pentingnya untuk melestarikan keturunan melalui kelahiran anak.
    1. Jenis-Jenis Bujang Babini Dara Balaki.
Perkawinan pada umumnya mempunyai jenis-jenis sesuai dengan pandangan budaya masing-masing masyarakat. Dalam masyarakat Dayak Blaman ada dua jenis “Bujang Babini Dara Balaki” atau perkawinan, yaitu:
a. Bujang Babini Dara Balaki Biasa ( Ideal ).
“Bujang Babini Dara Balaki” yang ideal yaitu perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang sama derajatnya dengan tata cara yang diatur oleh hukum adat. Perkawinan ideal ini biasa terjadi  pada garis keturunan kedua, yaitu sepupu dua kali, sedangkan pada garis keturunan derajat pertama, yaitu sepupu sekali atau pada garis keturunan lurus perkawinan sudah disebut bermasalah. Perkawinan ideal ini dilakukan sesuai dengan jalur adat masyarakat Dayak Blaman, yaitu mulai dari Risi’gumam/takun tanya, meminang/bapinta dan kawin pengantin pulang pajadi.
b. Bujang Babini Dara Balaki Bermasalah.
Perkawinan atau “Bujang Babini Dara Balaki” bermasalah adalah perkawinan yang dilangsungkan karena ada alasan-alasan tertentu ataupun perkawinan yang dilangsungkan melanggar ketentuan hukum adat mengenai perkawinan dalam masyarakat Dayak Blaman.
Menurut ketentuan hukum adat Dayak Blaman ada beberapa jenis perkawinan bermasalah, sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan, sebagai berikut:
a. Kawin tangkap/kebabaran
Kawin tangkap/kebabaran merupakan sebuah perkawinan yang sebenarnya tidak direncanakan. Perkawinan ini terjadi dikarenakan sepasang muda-mudi atau orang yang sudah tua (beristeri/bersuami, janda/duda) melakukan kesalahan dalam pergaulan yang bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat setempat, seperti berduaan dalam rumah atau di tempat-tempat yang gelap dan sunyi serta melakukan hal yang tidak lazim dilakukan oleh mereka. Dalam perkawinan ini kedua muda-mudi ini dikenakan sangsi adat atau kamuh, sesuai dengan peraturan yang berlaku karena telah melanggar kentuan hukum adat yang berlaku. Jika orang yang melakukan perkawinan ini dalam derajat yang sama maka dikenakan sangsi tiga buah balanga ( Rp. 150.000), di luar mas kawin.
b. Sumbang tulah, sinsat ganjul.
Perkawinan antara seorang lelaki dan perempuan yang derajatnya tidak sama dan masih mempunyai hubungan kekerabatan, misalnya adik dan kakaknya, kakek dan cucunya dan lain sebagainya. Jika hal ini terjadi maka orang tersebut akan dikenakan kamuh (sangsi) adat sesuai hukum adat yang berlaku dalam masyarakat Dayak Blaman. Dalam masyarakat ini kamuh juga merupakan hal yang membatalkan perkawinan garis keturunan lurus.
c. Tungkun angkat, gomar bayuh.
Perkawinan adalah perkawinan yang dilakukan oleh seorang laki-laki atau perempuan dengan paksa mengambil isteri atau suami orang lain (tungkun angkat) dan perkawinan yang dilakukan oleh seorang laki-laki yang ingin beristeri atau bersuami dua (gomar gayuh/tungkun kombar). Menurut hukum ada hal ini tidak benar maka akan dikenakan kamuh atau sangsi adat yaitu sekoti lima dan tatawak tiga, untuk tungkun angkat, sedangkan  gomar ganyum/tungkun kombar akan dikenakan sangsi lima balanga, tiga buah tatawak (gong) dan ditambah satu ekor sapi.
d. Tungkun hantu.
Perkawinan dilakukan oleh seorang laki-laki atau perempuan dengan menagawini mereka yang sedang dalam keadaan duka ( suami atau isteri yang baru saja meninggal tetapi belum dikuburkan). Dalam adat Suku Dayak Blaman hal ini berkaitan juga dengan mereka yang masih menganut kepercayaan kaharingan, merupakan suatu permasalahan bila perkawinan ini dilakukan sedangkan isteri atau suami yang telah meninggal belum ditewahkan/ayahkan. Tungkun hantu ini juga berlaku bagi perkawinan seorang laki-laki atau perempuan dengan mantan isteri/suami ipar maupun saudaranya.
e. Kawin lari.
Kawin lari adalah perkawinan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dan perempuan (walaupun masih bujang) dengan cara melarikan diri, maka mereka juga akan dikamuh, karena tidak sesuai dengan ketentuan adat dan dianggap bermasalah. Sangsi adat yang berlaku adalah tujuh buah balanga dan satu buah tatawak (gong).
f. Tungkun tunang
Perkawinan adalah perkawinan yang dilakukan oleh seorang pria atau wanita dengan tunangan orang lain yang sah. Bila hal ini terjadi, seperti halnya perkawinan-perkawinan di atas, maka akan dikenakan sangsi adat juga. Dari pihak yang bertunangan harus membayar kepada tunangannya sangsi sesuai kesepakatan yang dibuat kedua belah pihak.
g. Kawin paksa.
Perkawinan yang dilakukan secara paksa, baik oleh pihak keluarga atau pihak lain. Perkawinan ini menurut ketentuan adat masyarakat Dayak Blaman merupakan sebuah masalah, apalagi kalau sampai menyebabkan orang tersebut bunuh diri (bunuh diri karena dipaksa kawin dengan orang yang tidak dicintai).
    1. Syarat-Syarat Bujang Babini Dara Balaki.
Perkawinan merupakan suatu yang cukup fundamental di dalam masyarakat, maka diperlukan ketentuan atau syarat-syarat bagi kelangsungan perkawinan tersebut. “Bujang Babini Dara Balaki” seperti halnya perkawinan lain mempunyai syarat-syarat yang mensahkan perkawinan dan tersebut, yang telah ditetapkan di dalam hukum adat. Ketentuan  hukum adat Suku Dayak Blaman mengenai syarat perkawinan seperti tercantum dalam pasal 6 ayat 1-3 sebagai berikut:
1. Perkawinan dapat dilaksanakan apabila seorang laki-laki telah sekurang-kurangnya berusia 20 tahun dan seorang perempuan telah berusia 18 tahun.
2. bagi seorang yang akan kawin, tetapi berbeda agama dan kepercayaan, maka terlebih dahulu harus menyelesaikannya dengan pihak majelis agamanya masing-masing.
3. penentuan waktu dan pelaksanaan perkawinan agar kedua belah pihak berkonsultasi/bermusyawarah dengan pihak majelis agamanya masing-masing.
Selain syarat di atas, pengantin pria harus membayar  mas kawin dengan adat pinang sekayu yang terdiri dari terdiri dari: 
a. 7 buah balanga (batang adat)
b. 1 buah tatawak (kepala adat)
c. Pesalin mertua laki-laki
d. Pesalin mertua perempuan
e. Ramban pinang sekayu ditipas belanga
5 ( diluar kain 7 lembar)
f. Sama bapinta ditipas balanga 3 (diluar
2 kain putih)
Dalam masyarakat Dayak Blaman, karena benda-benda yang berkaitan dengan pembayaran adat sudah sulit dicari, maka benda-benda tersebut sebagian diuangkan. Satu buah tetawak bila diungkan Rp. 250.000 dan sebuah balanga Rp. 50.000, mengenai nilai nominal dari benda-benda adat ini sewaktu-waktu dapat berubah sesuai dengan kesepakatan para pemuka adat bersama damang. Pesalin mertua laki-laki dan perempuan ditentukan kemudian sesuai dengan kesepakatan bersama. Kemudian syarat lainnya bahwa laki-laki harus bisa behuma betongah dan perempuan sudah bisa besuman melompah. Hal di atas menyimpulkan bahwa mereka sudah sama-sama mandiri dan mampu mengatur kehidupan mereka sendiri, tanpa menggantungkan diri kepada orang tua lagi.
    1. Larangan Bujang Babini Dara Balaki.
Perkawinan adat Bujang Babini Dara Balaki juga mempunyai larangan. Larangan ini berkaitan dengan sikap dan tingkah laku dari calon mempelai. Kedua calon mempelai yang sudah bertunangan dilarang untuk hidup serumah dan berjalan berdua sebelum upacara perkawinan adat dilaksanakan. Setelah menikah secara hukum adat, sepasang suami isteri sebenarnya dilarang untuk bercerai dan mendua hati, hal ini terlihat dengan adanya hukum adat yang mengatur mengenai perceraian dan dikenakan sangsi/kamuh. Pada umumnya pembatalan perkawinan dan pertunangan dilarang, bila hal ini terjadi maka akan dikenakan hukuman.
    1. Proses Bujang Babini Dara Balaki.
Perkawinan dalam masyarakat Suku Dayak Blaman tidak berlangsung begitu saja, tetapi melalui beberapa tahapan atau proses, mulai dari risi’gunam/takun tanya, pertunangan atau bapinta dan kawin pengantin pulang pajadi.
a. Risi’gunam/takun tanya.
Risi’gunam/takun tanya adalah sebuah proses di mana keluarga pihak laki-laki datang kepihak perempuan dan menyampaikan keinginan anak laki-laki mereka. Risi’gunam/takun tanya merupakan langkah awal yang perlu dijalankan dalam perkawinan masyarakat Dayak Blaman, di mana keluarga pihak laki-laki datang ke rumah pihak perempuan untuk membicarakan maksud dan keinginan laki-laki untuk mempersunting anak perempuan dari keluarga yang dikunjungi. Pada dasarnya risi’gunam ini merupakan suatu musyawarah untuk mufakat yang dilakukan oleh pihak laki-laki dan perempuan (hanya keluarga dekat yang hadir) berhubungan dengan keinginan pihak laki-laki untuk mempersunting anak gadis dari pihak perempuaan. Biasanya dalam hal ini pihak keluarga laki-laki diwakili oleh saudara atau kerabat dekat saja, tidak langsung kedua orang tuanya. Setelah risi’gunam/takun tanya dilakukan dan mendapat persetujuan, barulah kemudian diadakan acara pertunangan. Sebagai tanda persetujuan, maka masing-masing pihak menyerahkan suatu benda sebagai tanda persetujuan yang disebut sebagai igap ingkuhan.Biasanya benda tersebut berupa cincin atau gelang.
b. Pertunangan/bapinta.
Upacara bapinta merupakan upacara pertunangan, di mana masing-masing pihak menyerahkan suatu benda sebagai tanda bukti bertunangan resmi yang disebut denganturus. Turus adalah sebuah benda yang diberikan sebagai bukti pertunangan dan hanya diberikan kepda pihak lakilaki dan perempuan. Turus ini bisa berupa cincin, yang kemudian dipakai oleh laki-laki dan perempuan yang bertunangan. Dengan upacara ini bearti kedua belak pihak telah setuju kalau hubungan dari anak-anak mereka berlangsung sampai pada jenjang pernikahan. Dalam upacara ini juga, pihak laki-laki diharuskan menyerahkan satu buah Sampa Papinda lengkap dengan isinya kepada pihak mempelai perempuan.
Melalui pengamatan langsung dilapangan penulis melihat bahwa upacara bapinta dimulai dengan beberapa orang utusan keluarga dan tetua adat datang kerumah di mana pertunangan akan diselenggarakan, dalam percakapan mereka menggunakan bahasa adat, terutama dalam mengutarakan niat untuk melamar dan bertunangan dengan sang gadis. Setelah pembicaraan selesai sebagai tanda bahwa pihak wanita menerima lamaran dan setuju dengan upacara pertunangan maka pihak pria diberi turus atau sebuah benda sebagai bukti.
c. Kawin pengantin pulang pajadi.
Kawin pengantin pulang pajadi merupakan upacara inti dari perkawinan adat bujang babini dara balaki, yang dilakukan setelah beberapa tahapan di atas dilaksanakan. Upacara ini berlangsung selama 1-3 hari tergantung dari kemampuan orang yang mengadakan pesta tersebut. Pada hari pertama biasanya dilakukan pengumpulan pa’ada, yaitu pengumpulan semua bahan untuk keperluan acara tersebut serta pengumpulan bantuan dari anggota masyarakat ( yang berkenan membantu), kemudian upacara adat perkawinanpun dilaksanakan. Pada hari ini semua mantir/tetua adat berkumpul di rumah di mana perkawinan berlangsung untuk membicarakan dan melakukan persiapan adat. Upacara adat ditandai dengan keluarnya boras tolur (beras telor), yang terdiri dari beras ketan dan padi yang dimasukan dalam ceper/dipan diatasnya diletakan telur. Hal ini menandakan bahwa upacara akan dilangsungkan dan telah disetujui oleh kepala adat.
Melalui pengamatan secara langsung kelapangan penulis melihat bahwa upacara ini pertama-tama dilakukan upacara tanya jawab mengenai identitas pria yang datang mau menikah di depan pintu rumah upacara. Hal ini dilakukan karena rumah tersebut ditutup oleh pihak wanita, adapun tujuan penutupan pintu dimaksudkan sebagai antisipasi takut orang lain yang datang menyerobot menikahi mempelai wanita. Setelah semuanya jelas diadakan minum tuak pembuka pintu (penyungkit pintu) sebagai tanda pintu sudah dibuka dan pengantin pria sudah masuk ke dalam rumah. Kemudian para mantir berbicara dalam bahasa adat mengenai perkawinan ini, sementara sebagian orang mempersiapkan barang-barang adat yang akan digunakan sebagai syarat upacara adat. Setelah itu dilakukan minium tuak dari lumpak (buluh yang ditutup dengan daun pisang) sebagai penyaksian perkawinan oleh para mantir. Setelah minum tuak lumpakdiadakan pembayaran/penyerahan adat dari pihak pria ke pihak wanita. Setelah adat diserahkan diadakan acara minum tuak penyaksian bujang dara, tuak ini sebagai tanda bahwa pemuda dan pemudi telah menyaksikan perkawinan tersebut. Setelah acara minum tuak penyaksian bujang dara, kemudian dilakukan adalah acara bapenaik-bapenaki, dimana kedua mempelai duduk di atas gong kemudian didoakan oleh mantir adat dengan dilanjukan ikat tongan sebagai simbol doa. Dalam upacara papenaik penganten dioles darah ayam di dahi mereka (titir darah manu), darah ayam ini sebagai tanda berkat dan persetujuan dari Yang Maha Kuasa. Bele tokoh adat Desa Sungkup juga mengungkapkan bahwa bapenaik adalah upacara di mana kedua mempelai didoakan kemudian diikat dengan titir darah manuh( darah ayam) pada dahi mereka, sebagai tanda mereka telah sah sebagai suami isteri. Setelah semua rangkaian adat selesai kemudian dilanjutkan dengan upacara baigal (tarian daerah) sebagai ungkapan syukur atas perkawinan yang dilangsungkan.

Tiwah merupakan acara yang berkaitan dengan kematian; brasnajar merupakan upacara doa kepada Sang Pencipta, budaya bujang babini dara balaki merupakan budaya perkawinan dalam hidup masyarakat Dayak Blaman.Karmin, wawancara, Desa Sungkup-Bulik Timur, Kabupaten Lamandau, 26 Desember 2008.

Ibid.,

Thedan Usit dkk, Hukum Adat Dayak Blaman (Nanga Bulik: Kecamatan Bulik, 2000), hal. 1.

Karmin, wawancara, Desa Sungkup-Bulik Timur, Kabupaten Lamandau, 26 Desember 2008.

Thedan Usit dkk, Hukum Adat Dayak Blaman (Nanga Bulik: Kecamatan Bulik, 2000), hal.  1.

Kamuh adalah sangsi adat yang diberikan kepada mereka yang melanggar ketentuan hukum adat.

Karmin, wawancara, Desa Sungkup-Bulik Timur, Kabupaten Lamandau, 26 Desember 2008.

Ibid.,

Godam64, Macam/Jenis/Bentuk Perkawinan/Pernikahan - Poligini, Poliandri, Endogami, Eksogami, Dll (08 April 2008),G:internetmacam-jenis-bentuk-perkawinan-pernikahan-poligini-poliandri-endogami-eksogami-dll.htm, 16 Pebruari 2009.

Alf. Catur Raharso, Pr, Paham Perkawinan Dalam Hukum Gereja Katolik (Malang: Dioma,2006), hal. 41.

Y. Tewan B.T., wawancara, Desa Sungkup, Bulik Timur, Kabupaten Lamandau, 26 Desember 2008.

Idid.,

Thedan Usit dkk, Hukum Adat Dayak Blaman (Nanga Bulik: Kecamatan Bulik, 2000), hal. 1.

Ibid.,

Ibid, hal. 4.

Ibid.,

Ibid.,

Tetawak di sini sama dengan gong, sedangkan sekoti adalah tampayan kecil. Ibid, hal. 5.

Ibid, hal. 3-4.

Ibid, hal. 35.

Ibid, hal. 34.

Behuma betongah mengandaikan laki-laki sudah bisa bekerja, sedangkan besuman melompak mengandaikan wanita sudah bisa mengurus rumah tanggnya. Y. Tewan B.T., wawancara, Desa Sungkup, Bulik Timur, Kabupaten Lamandau, 26 Desember 2008.

Ibid.,

Ombon, wawancara, Desa Sungkup, Bulik Timur, Kabupaten Lamandau, 28 Desember 2008.

Thedan Usit dkk, Hukum Adat Dayak Blaman (Nanga Bulik: Kecamatan Bulik, 2000), hal. 8.

Ibid, hal. 1.

Edi Yakob, Adat Istiadat dan Seni Budaya Masyarakat Blaman Bulik (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hal. 5.

Thedan Usit dkk, Hukum Adat Dayak Blaman, (Nanga Bulik: Kecamatan Bulik, 2000), hal. 1.

Turus adalah benda bukti pertunangan resmi, yang diserahkan masing-masing pihak yaitu laki-laki dan perempuan. Ibid.,

Turus Ombon, wawancara, Desa Sungkup, Bulik Timur, Kabupaten Lamandau, 28 Desember 2008.

Thedan Usit dkk, Hukum Adat Dayak Blaman, hal. 8.

Karmin, wawancara, Desa Sungkup-Bulik Timur, Kabupaten Lamandau, 26 Desember 2008.

Ibid.,

Ombon, wawancara, Desa Sungkup, Bulik Timur, Kabupaten Lamandau, 28 Desember 2008.

Bele, wawancara, Desa Sungkup, Bulik Timur, Kabupaten Lamandau, 27 Desember 2008.

Mantir adalah tetua atau pengurus adat yang berkedudukan tinggi dalam hal adat.

Edi Yakob, Adat Istiadat dan Seni Budaya Masyarakat Blaman Bulik, hal. 16.

Pengolesan darah ayam pada dahi.

Bele, wawancara, Desa Sungkup, Bulik Timur, Kabupaten Lamandau, 27 Desember 2008.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gayatri, Sang “Doktor Cilik” Itu Telah …

Randy Ghalib | | 24 October 2014 | 12:25

Ide Fadli Zon Bangun Perpustakaan & …

Hazmi Srondol | | 24 October 2014 | 08:54

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Tindak Pidana di Indonesia Masih Tinggi, Ini …

Joko Ade Nursiyono | | 24 October 2014 | 08:14

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 7 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 10 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 12 jam lalu

Jika Tak Lulus CPNS, Kahiyang Akan Jaga …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Nenek Ingin Sendiri …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

Menelusuri Alam Pemikiran Mahatma Gandhi …

Kukuh Fany Fatkhulo... | 7 jam lalu

Surat Terbuka Kepada Kahyang Ayu Anak …

Abest | 7 jam lalu

Ada Apa di Ternate..? …

Teberatu | 7 jam lalu

Hanya Evan Dimas, Apa Paulo Belum Pantas ? …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: