Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Djajendra

Djajendra adalah Praktisi, Penulis, dan Pembicara dalam Bidang Manajemen, Budaya Organisasi, Pengembangan Kepribadian, Kecerdasan Emosional, selengkapnya

Kesadaran dalam Keragaman

OPINI | 12 April 2013 | 08:07 Dibaca: 259   Komentar: 0   0

“Kehidupan manusia selalu dalam keragaman, dan keseragaman hanya akan menciptakan pengekangan terhadap yang berbeda.” ~ Djajendra

Kehidupan itu beragam dan kesadaran pun selalu beragam. Dunia selalu ada dalam keragaman. Keseragaman hanyalah ide atau niat sekelompok manusia, tapi realitas kehidupan dari setiap zaman memperlihatkan bahwa kehidupan selalu dalam keragaman.

Tanggung jawab setiap orang dalam kehidupan adalah menjadikan dirinya sebagai sesuatu yang baik buat kehidupan dan Tuhan. Selama seseorang memiliki empati, toleransi, cinta, peduli, wawasan, pengetahuan, rasa hormat, dan kontribusi kebaikan; maka, secara otomatis dirinya akan menjadi energi yang merangkai ketidakseragaman menjadi sebuah keselarasan dalam keharmonisan kehidupan bersama. Walau berbeda tetap dalam satu kesatuan kemanusiaan yang saling tolong menolong dan peduli.

Kehidupan yang beragam akan menghormati seseorang ketika dirinya mampu memberikan toleransi dan cinta untuk perbedaan. Sikap baik, tindakan, dan pemikiran yang penuh empati, toleransi, cinta, peduli, dan membantu yang lain, akan menjadikan dirinya memiliki kekayaan wawasan dan pandangan hidup yang melewati garis keyakinan pribadi. Dan, hal ini akan menjadi energi positif untuk memenuhi kebutuhan jiwa dan kehidupan dari banyak orang.

Semua orang saling terhubung dan tak mungkin dapat dipisahkan oleh tembok perbedaan. Keragaman dan perbedaan adalah realitas kehidupan yang abadi dan tak mungkin dapat diseragamkan. Secara kelompok dapat saja terjadi penyeragaman, tapi kekuatan dan kekuasaan yang memimpin keseragaman ini pasti sulit bersikap adil. Karena, kehidupan itu tercipta dari keragaman dan perbedaan, bukan dari keseragaman. Jadi, saat keseragaman dipaksakan dengan alasan apapun, maka nilai-nilai kemanusiaan akan kehilangan makna.

Setiap orang atau kelompok selalu akan menciptakan kotaknya sendiri untuk memperlihatkan perbedaan dengan yang lain. Dan, perbedaan dalam keragaman ini adalah hal yang mencerminkan tentang kehidupan di alam semesta ini. Setiap bagian dari alam semesta berisi keseluruhan dari keragaman, keunikan, dan perbedaan. Bila ada yang menyalahkan tentang realitas perbedaan dan keragaman, maka dia sedang merusak keseimbangan hidup di alam semesta. Alam semesta merupakan gambaran besar tentang warna-warni kehidupan, tentang realitas yang mencerminkan kehidupan sebagai sesuatu yang beragam dan bukan seragam.

Saat seseorang menjadi terbuka untuk melihat keterhubungan dirinya oleh pengaruh ataupun hubungan langsung dan tidak langsung, maka dia akan memiliki kesadaran untuk melihat perbedaan sebagai persatuan kehidupan. Ketika ilusi seseorang mencoba menciptakan keyakinan di dalam dirinya untuk memisahkan antara dirinya dengan yang lain melalui perbedaan, maka dia akan membuat dirinya terpisahkan dari satu kesatuan yang utuh dalam alam semesta. Akhirnya, dia akan merasa tidak puas dengan realitas kehidupan, dan selalu mencoba mengekspresikan perasaan tidak puasnya dengan terbuka. Padahal, ketidakpuasan dirinya itu muncul dari sikapnya yang memisahkan diri dari realitas keragaman kehidupan di alam semesta ini.

Setiap orang bersumber dari Tuhan yang sama. Ketika orang-orang mulai membangun kotak-kotak perbedaannya masing-masing, saat itu mereka suka lupa bahwa semua yang ada di alam semesta ini bersumber dari Tuhan yang sama. Tetapi, kotak perbedaan menciptakan jiwa-jiwa yang menjadi asing satu sama lain, dan pada akhirnya lupa bahwa semuanya yang ada ini bersumber dari Tuhan yang sama.

Realitas kehidupan dunia yang kita alami hari ini adalah hasil dari kesadaran kolektif  dari berbagai keragaman dan perbedaan. Setiap perbedaan menciptakan dunianya sendiri, setiap keragaman menciptakan warnanya sendiri, semua perbedaan dan keragaman ini menciptakan perilaku kehidupan dalam satu dunia, dalam satu bumi, dalam banyak harapan dan mimpi. Setiap kelompok yang berbeda selalu menciptakan kebenarannya sendiri, berani mengambil tanggung jawab atas keyakinan mereka terhadap kebenaran yang dipercaya. Hal ini membuat kehhidupan di bumi ini berlangsung dalam hukum kekuatan, yaitu siap yang kuat dia yang berkuasa. Cinta, peduli, toleransi, dan empati hanyalah menjadi hiasan penghibur dalam mimpi keharmonisan bersama diantara yang berbeda dan beragam.

Keragaman dan perbedaan merupakan realitas dari setiap zaman yang hidup nyata di tengah kesadaran suku, masyarakat, kelompok, organisasi, bangsa, individu, dan keluarga. Setiap bagian dari perbedaan ini kalau diseragamkan, maka mereka akan memberontak mencari dan menuju jalan kebebasan di sepanjang zaman. Akibatnya, kehidupan menjadi tidak seimbang dan selalu dalam peperangan dan konflik.

Keragaman bukanlah keinginan sadar manusia, tapi merupakan keinginan dari pencipta alam semesta. Jadi, saat muncul kesadaran manusia untuk hidup dalam keseragaman, maka disitulah akan muncul benih-benih ketidakharmonisan dalam hidup.

Manusia bukanlah produk dari sebuah kesadaran, tapi merupakan produk dari beberapa kesadaran dan keyakinan. Dan kehidupan merupakan rangkaian kolektif dari berbagai kesadaran, yang dilahirkan dari perbedaan dan keragaman dalam kekuatan kesadaran universal kehidupan.

Sejarah telah memberikan penjelasan yang luar biasa bahwa menggugat keragaman hanya akan melukai kemanusiaan, dan membuat kehidupan itu sendiri menjadi tidak damai, tidak aman, tidak nyaman, tidak harmonis, dan tidak bijaksana.

Djajendra

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: