Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ida Aryati

~Do not stop thinking of life as an adventure. You have no security unless you selengkapnya

Antara Prostitusi dan Poligami

OPINI | 11 April 2013 | 13:33 Dibaca: 258   Komentar: 17   4

Tulisan ini terinspirasi oleh tulisan Sdr. Sunita Yani. Beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan salah satu kompasianer Sunita Yani di kanal Politik yang berjudul PKS Si Durian Busuk! (Wangi di Luar Busuk di Dalam)”. Tulisan tersebut sebenarnya membahas tentang partai politik yang diibaratkan sebagai durian yang busuk. Menurut penulis, semua partai politik busuk termasuk PKS, hanya saja PKS busuknya lebih sedikit dibanding dengan partai-partai lain. Penulis tidak secara spesifik membahas masalah poligami, tetapi salah satu hal yang dianggap “sedikit busuknya” PKS adalah fakta adanya kader/petinggi PKS yang mempraktekkan poligami. Untuk “mengeliminasi“ kesalahan berpoligami tersebut, penulis memiliki argumen pembelaan yang menurut saya sangat mengerikan. Tulisan ini tidak akan membahas PKSnya tetapi lebih ke masalah poligaminya.

Dalam tulisannya penulis berkilah mengapa poligami dianggap kesalahan kecil, ”….Kalau di hitung hitung biaya poligami lebih murah daripada biaya entertainnment dan prostitusi. Sewa Pelacur sekali main paling murah 50-200 ribu. Yang hi-class paling murah 1500ribu sampai 10juta short time atau semalam. Coba hitung berapa harus  dibayar kalau sebulan. Lebih ekonomis poligami kan?!” Astaghfirullah al-azim! Terlepas darimana penulis tahu tarif-tarif prostitusi, dan terlepas apakah benar demikian sesungguhnya dasar dilakukannya poligami, alasan ini menurut saya sangat melecehkan perempuan. Dalam responnya terhadap salah satu komen penulis juga mengatakan: “…..poligami is cheaper than hire a hooker…coba hitung biaya taksi,sewa kamar, beli minuman, kasih tips,dugem dan sewa tubuh…resiko STD(sexual transmited desease)- HIV-AIDS..biaya berobat kena gonorea dan spyilis..hehe…”. Tidak terbayang oleh saya ucapan-ucapan seperti ini adalah alasan yang dipakai untuk suatu tindakan yang diperbolehkan oleh Islam. Saya juga tidak tahu apakah pendapat seperti ini adalah pendapat pribadi penulis atau pendapat umum dari para laki-laki yang mempraktekkan poligami.

Membaca alasan Sunita Yani tersebut, opsi poligami dan pelacuran seolah dianggap opsi yang setara. Poligami sama dengan pelacuran minus dosa. Bahkan terkesan seolah poligami dianggap suatu alternatif karena tidak boleh dengan pelacur. Alangkah hinanya perempuan yang terlibat dalam poligami dalam pandangan ini. Alangkah laknatnya laki-laki yang menganggap martabat perempuan hanya selevel ini. Pelacur dianggap tidak lebih dari seonggok daging yang dibayar “ketengan” setelah selesai “dipakai”. Dalam tangkapan saya penulis tersebut beranggapan bahwa memakai jasa pelacur sangat tidak ekonomis. Untuk memakai pelacur, memerlukan biaya mahal karena harus membayar  sewa kamar, ongkos taksi, beli minuman, menyewa tubuh, dan rawan resiko terkena STD. Itu pun hanya untuk “sekali pakai”. Bila sering-sering, berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk menyalurkan nafsu syahwat ini dalam sebulan. Sangat besar dan sangat tidak ekonomis bukan? Kemudian si penulis membandingkan dengan poligami. Dari pendapat penulis, bila diterjemahkan, melalui poligami perempuan yang dinikahi bisa “dipakai” setiap saat dan “dibayar” bulanan. Lebih ekonomis  dibanding dengan yang harus membayar pelacur ketengan. Jadi pertimbangannya semata-mata kalkulasi uang, mana yang lebih murah. Yang mendasari tindakan poligami adalah nafsu syahwat dan untuk memenuhinya dikalkulasi dengan untung rugi. Dalam konteks ini, perempaun pelacur maupun perempuan baik-baik dan terhormat sama hinanya.

Mudah-mudahan pola pikir dan persepsi laki-laki petinggi partai tersebut di atas dan laki-laki pada umumnya yang mempraktekkan poligami tidak sama dengan pola pikir si penulis artikel. Meskipun dalam hati kecil saya pada level tertentu ada kecurigaan kalau kebanyakan poligami memang didasari oleh nafsu syahwat semata. Dengan logika penulis di atas, perempuan tidak lebih hanya barang tanpa nyawa dan rasa, obyek semata.  Ibaratnya, daripada pergi ke persewaan game, lebih ekonomis beli game playernya, bisa dipakai kapan saja. Kalau prostitusi tujuannya menggauli perempuan dengan menyewa,  maka poligami bertujuan agar bisa menggauli perempuan secara permanen dengan menikahi. Poligami seolah hanya mengesahkan perzinahan sekedar untuk menghilangkan unsur dosa.

Argumen tentang pembenaran poligami yang dikemukakan Sunita Yani mungkin alasan yang sangat ekstrim. Di dalam ajaran Islam poligami memang diperbolehkan namun dengan syarat yang sangat berat (bisa berlaku adil). Aturan poligami dalam Islam seperti yang tercantum dalam QS An-Nisa:3 juga dibahas dalam tulisan Anindya Gupita, bahwa poligami memang mungkin dilakukan dalam keadaan tertentu. Namun demikian sesungguhnya saya ingin tahu ketika tidak ada suatu masalah yang mengharuskan, apakah poligami memang didasari nafsu syahwat semata? Kalau berpoligami dengan 2 orang istri, bisa saja kita masih berprasangka baik bahwa memang ada kondisi darurat yang mendasarinya, tetapi bila beristri 3 atau 4 orang, tentu bukan lagi darurat.  Seorang laki-laki, baik pemimpin, petinggi partai, atau rakyat biasa ketika menikahi istri pertamanya, secara umum asumsinya didasari oleh rasa sayang dan cinta. Setelah membina rumah tangga sekian tahun, bahkan belasan atau puluhan tahun, apakah ikatan rasa suami istri bisa hilang begitu saja? Tidakkah si suami menimbang rasa si istri yang telah sekian lama mendampinginya hanya demi syahwat semata? Tak dapat dipungkiri kenyataan bahwa kebanyakan poligami dipraktekkan dengan menikahi wanita yang lebih muda, secara fisik lebih cantik dan lebih segar. Lebih bening katanya. Dengan demikian alasan poligami karena syahwat tentu sulit untuk diingkari. Bila disederhanakan dengan alasan “menghindari zina”, bukankah ketika memilih wanita kedua si laki-laki juga sudah berzina, setidaknya berzina mata karena tidak menjaga hati dan pandangannya kepada wanita yang bukan haknya.

Ketika saya berargumen dengan seorang kompasianer laki-laki tentang poligami antara lain dia beralasan: “Kenapa mesti diributkan itu kan urusan pribadi, istrinya juga nggak keberatan, mereka hidup hepi-hepi aja kok?”. Darimana kompasianer ini tahu kalau istri yang dipoligami tidak keberatan dan hepi-hepi saja? Bisa jadi kalau akhirnya merelakan suaminya menikah lagi, karena si istri memang tidak punya kekuatan untuk mencegah, karena mungkin si istri memang tergantung kepada suaminya secara psikologi dan ekonomi. Bahkan untuk wanita selevel teh Ninih pun sempat memintai cerai untuk menunjukkan ketidakrelaannya ketika AA Gym memutuskan berpoligami. Namun, kebanyakan istri tidak punya cukup keberanian seperti teh Ninih untuk bercerai dari suaminya dengan banyak pertimbangan, misalnya ketidakmandirian secara ekonomi dan terutama pertimbangan akan anak-anaknya. Dengan demikian sangat diragukan argument ‘tidak keberatan dan hepi-hepi saja’ dalam poligami.

Atau dengan alasan: “Poligami nggak masalah selama suaminya bisa bersikap adil” seperti yang disyaratkan oleh Islam. Tetapi manusia mana yang mampu bertindak adil. Konsep adil adalah sesuatu yang relatif. Adil bagi si suami belum tentu adil menurut si istri, adil menurut istri pertama belum tentu dirasa adil oleh istri kedua, dan sebagainya. Bahwa istri pertama tiba-tiba harus merelakan separuh haknya kepada istri kedua saja sudah perlu dipertanyakan konsep adil. Belum lagi ‘social cost’ yang harus ditanggung oleh istri dan anak2nya,seperti rasa dikhianati, rasa malu kepada orang lain, rasa tidak lagi dicintai…

Terlepas dari diperbolehkannya poligami dalam Islam, tidakkah rasa dan empati kepada istri yang disayangi juga dibutuhkan? Apalagi hanya dengan menjejalkan factor dosa dan pahala kepada si istri untuk alasan poligami. Sungguh tak patut agama dijadikan dalih ketika alasan sebenarnya hanyalah syahwat semata. Karena sesungguhnya Islam sangat memuliakan perempuan. Perempuan juga manusia. Punya rasa dan punya hati seperti halnya laki-laki. Relakah seorang laki-laki bila istrinya menaruh perhatian kepada laki-laki lain?

Merujuk kembali pada argumen Sunita Yani akan masalah poligami yang dilakukan oleh petinggi partai tersebut, saya pribadi tidak akan mau memilih pemimpin yang dengan mudah mempraktekkan poligami. Saya tidak percaya laki-laki yang berpoligami sesungguhnya mampu merasakan dan berempati terhadap perasaan istrinya. Bila terhadap orang terdekatnya saja tidak mampu berempati bahkan mungkin tidak peduli, bagaimana mungkin pemimpin tersebut mampu berempati terhadap perasaan ratusan juta rakyat yang dipimpinnya? Sulit dipercaya bukan? Lain halnya kalau ambisi kepemimpinannya memang hanya untuk kekuasaan semata.

Salam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ma’nene, Ritual Pembersihan Mumi di …

Armin Mustamin Topu... | | 29 August 2014 | 01:17

Mafia Migas di Balik Isu BBM …

Hendra Budiman | | 29 August 2014 | 00:55

Tantangan Pembangunan Kesehatan Jokowi 01: …

Suprijanto Rijadi | | 29 August 2014 | 07:45

Anak Kami Tak Diakui Kemdikbud (?) …

Nino Histiraludin | | 29 August 2014 | 08:03

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 4 jam lalu

Soal BBM, Bang Iwan Fals Tolong Bantu Kami! …

Solehuddin Dori | 7 jam lalu

Gaduhnya Boarding Kereta Api …

Akhmad Sujadi | 7 jam lalu

Jokowi “Membela” Rakyat Kecil …

Melvin Hade | 8 jam lalu

Saya Pernah Dipersulit oleh Pejabat Lama …

Enny Soepardjono | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Subsidi Amanat Konstitusi …

Hendra Budiman | 7 jam lalu

Di Bawah Tekanan …

Avenir Luna | 7 jam lalu

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | 8 jam lalu

Sudah Saatnya Anak Berkebutuhan Khusus …

Lifya | 8 jam lalu

Delft, Kota Pelajar yang Menjanjikan …

Christie Damayanti | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: