Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sutomo Paguci

Pewarta warga mukim di Padang | Advokat | Nonpartisan | Menulis sebagai rekreasi

Menggugat Makna Cantik dalam Miss World

OPINI | 09 April 2013 | 18:24 Dibaca: 1574   Komentar: 13   6

13655050861388792896

Miss World 2012 asal China, Wen Xia Yu (AP/Andy Wong)

Kontes kecantikan Miss World tahun 2013 kebetulan akan dilaksanakan di Indonesia. Jika tak ada aral melintang kontes ini akan berlangsung tanggal 28 September 2013 di Sentul International Convention Centre (SICC), Bogor, Indonesia.

Belum lagi kontes yang digagas Eric Morley sejak 1951 ini terlaksana sudah bermunculan suara-suara penolakan dari elemen masyarakat Indonesia. Satu elemen yang menolak tentu saja sebagian umat Islam yang diwadahi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI menyebutkan, sebagaimana luas diberitakan media massa, bahwa kontes Miss World hanya sebagai ajang pamer aurat seperti yang sudah dilaksanakan di berbagai negara.

Selama ini parameter-inti dari konsep “cantik” dalam Miss World dan ajang-ajang kontes kecantikan lokal di berbagai belahan dunia, termasuk Miss Indonesia, adalah kecantikan secara fisik. Memang, ada penilaian penting terhadap kecerdasan otak, inner beauty, dan kecakapan di bidang seni budaya. Namun intinya adalah kecantikan fisik.

Dalam kaitan ini sudah saatnya digugat konsep kecantikan wanita yang dinilai dari unsur fisik dan inner beauty tersebut. Benarkah makna “cantik” hanya memancar dari dua unsur ini saja dan bagaimana dengan kompleksitas nilai-nilai dan budaya yang dianut peserta terkait dengan pakaian yang dikenakan?

Konsep inner beauty selama ini dipersepsi sebagai kecantikan yang terpancar dari dalam diri seorang wanita. Dengan inner beaty-nya seorang wanita tampak begitu mempesona sekalipun dari segi fisik mungkin biasa-biasa saja. Di poin inner beaty ini tak menimbulkan masalah di negara manapun, termasuk yang ultrakonservatif terhadap tubuh wanita sekalipun.

Yang kerap jadi masalah adalah di poin kecantikan fisik. Untuk membuktikan kecantikan fisik maka tubuh kontestan perlu “dilucuti” sehingga terlihat ukuran betis, payudara, perut, wajah, dan keindahan kombinasi semua “perabotan” yang dimiliki peserta. Sudah barang tentu hal demikian akan ditolak oleh (sebagian) warga negara-negara dengan pandangan konservatif terhadap tubuh perempuan, seperti Arab, Afganistan, termasuk Indonesia.

Mengapa konsep “cantik” dalam pengertian fisik dan inner beaty tersebut tidak dikembangkan jadi lebih kompleks, termasuk dengan mengakui keunikan budaya dan agama dari peserta. Kecantikan lebih dimaknai sebagai sesuatu yang “mistik” dan kompleks.

Contoh, jika secara kebudayaan dan agama kontestan X tidak dibenarkan membuka “aurat” maka ybs tetap boleh ikut, dengan penilaian fisik tetap dilakukan namun sifatnya tertutup bagi lawan jenis, misalnya di ruangan khusus oleh juri perempuan. Tidak diumbar ke luar pada juri laki-laki dan ditayangkan televisi.

Dengan konsep kecantikan yang kompleks dan mengakar pada nilai-nilai budaya pada tiap-tiap negara peserta, maka ke depan mungkin saja diakomodir peserta Miss World yang berjilbab, yakni peserta dari negara-negara muslim.

Tidak seperti selama ini. Wanita muslim yang berjilbab tak boleh sekedar membayangkan ikut dalam kontes-kontes kecantikan dunia. Loh, memangnya tak ada wanita berjilbab yang cantik dan diakui cantik oleh orang lain?

Berikut ini sekedar suplemen penilaian subjektif penulis terhadap “kecantikan” berdasarkan pengalaman pribadi. Terus terang, saya telah mengenal cukup banyak wanita berjilbab yang benar-benar cantik dan mempesona: tutur katanya, wajahnya (karena ini yang hanya bisa dilihat), inisiatifnya, humor-humornya, ketangkasan otaknya, tata krama dengan orang berbagai usia dan jenis kelamin, dst.

Sebagian “nampaknya” memang benar-benar cantik luar-dalam—kata “dalam” di sini hanya terkaan saja. Dan sebagian lagi benar-benar tampak cantik sekalipun secara fisik biasa-biasa saja. Tak perlu jilbab ditanggalkan untuk menyimpulkan bahwa seorang wanita dinilai sebagai cantik.

Saya yakin Anda pun akan mengakui bahwa Sazkia Adya Mecca itu cantik (secara fisik). Tak perlu Sazkia buka jilbab untuk menyimpulkan bahwa ybs memang cantik. Sedangkan secara inner beauty, yang paling tahu tentu saja keluarga, teman-teman, dan suaminya. Ini sekedar contoh saja.

(SP)

Artikel terkait:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 11 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 15 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 16 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 19 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: